SOLOBALAPAN.COM – Pernahkan kamu mengenal seseoran yang selalu berkata “iya” pada setiap permintaan atau pertanyaan?
Dimintai bantuan ketika sedang sibuk, tetap bersedia.
Diajak pegi padahal sedang lelah, masih tetap mengusahakan.
Bahkan ketika merasa keberatan terhadap suatu keadaan tetap menjawab, “Nggak apa-apa”.
Orang seperti ini biasanya akan lebih mudah dilabeli sebagai orang “baik”.
Baca Juga: Geger Influencer Bigmo Diduga Promosi Vape ke Anak-Anak, Ahmad Sahroni: Tangkap dan Blokir Akunnya!
Mereka dianggap pengertian, ramah, dan selalu bisa diandalkan.
Tapi pernahkah terpikirkan bahwa sebenarnya dibalik selalu menjawa “iya”, sebenarnya dalam dirinya sangat ingin berkata “tidak”?
Tidak semua orang berpikir untuk menyenangkan orang lain karena ketulusan dan hasrat tulus.
Baca Juga: Gelombang Penolakan Meluas! FIFA Batalkan Pembentukan FFE Usai Diancam Boikot Konfederasi Dunia
Justru ada beberapa orang yang melakukan hal tersebut karena tidak ingin dimusuhi atau dianggap jelek. Takut membuat kecewa hingga membuat hubungannya dengan orang lain berubah karena menolak satu permintaan.
Perilaku ini biasa disebut dengan istilah people pleasing, perilaku dimana bertindak tidak sesuai kemauan hanya agar tidak mengecewakan.
Bukan karena senang membantu, tapi takut akan perasaan dan penilaian orang lain yang terkadang membuat lupa dan menyepelekan urusan pribadi.
Perilaku ini bisa terjadi dalam lingkup pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga.
People pleaser atau orang yang melakukan perikalu ini akan bertindak dengan hati yang berat. Masalahnya tidak sampai di batas berkata “iya” padahal ingin mengatakan “tidak”.
Tetapi bisa meluas menjadi sering meminta maaf walau tidak melakukan kesalahan, menerima keputusan yang tidak sebenarnya disukai, atau memilih diam ketika memiliki pendapat yang berbeda hanya karena berusaha membuat suasana tetap tenang.
Ironisnya, perilaku seperti ini justru sangat mendapatkan dukungan serta penghargaan dari lingkungan.
Orang yang selalu membantu akan dipuji baik. Orang yang selalu mengerti dipuji sabar. Orang yang jarang menolak dipuji pengertian. Sementara orang yang berani mengatakan “tidak” akan langsung mendapat cap sebagai orang egois.
Pujian seperti itulah yang membuat seseorang kadang terjebak, dan terus berperilaku sebagai people pleasing.
Ia merasa harus menjadi orang yang selalu bisa diandalkan. Apabila terpaksa menolakpun, dia akan merasa bersalah. Bukan karena melakukan kesalahan, akan tetapi memang tidak terbiasa memprioritaskan diri sendiri.
Padahal menjadi baik tidak harus mengorbankan kesenangan diri sendiri.
Terdapat perbedaan antara perlakukan baik dengan people pleasing.
Orang baik tetap bisa menolak suatu permintaan dengan tegas apabila ia benar tidak bisa membantu. Sedangkan people pleaser akan tetap mengiyakan walau keberatan.
Namun bukan berarti people pleaser itu bisa dianggap munafik atau pura-pura baik.
Mereka bisa saja benar-benar peduli kepada orang lain. Hanya saja kepedulian itu dibersamai dengan rasa takut.
Baca Juga: Ponten Kestalan, Bangunan MCK Bersejarah Peninggalan Mangkunegara VII
Karena itu, jalan keluar untuk menyudahi pola ini bukan dengan menjadi cuek atau tidak peduli, tapi belajar menyediakan ruang yang sama untuk diri sendiri.
Hubungan yang sehat tidak bergantung kepada satu orang yang terus mengalah.
Orang lain boleh kecewa, dan kita tidak perlu bertanggungjawab atas setiap perasaan mereka. Karena menjadi baik kepada orang lain seharusnya tidak jadi alasan untuk mengabaikan diri sendiri. (rastri rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto