SOLOBALAPAN.COM - Belakangan ini, istilah red flag dan green flag semakin sering berseliweran di media sosial. Saat membuka TikTok, X, atau Instagram, tidak sulit menemukan komentar seperti, "Wah, ini red flag," atau "Dia green flag banget."
Istilah tersebut bahkan sudah masuk ke percakapan sehari-hari, terutama di kalangan Gen Z. Awalnya, red flag dan green flag lebih banyak digunakan untuk membahas hubungan asmara.
Namun, kini penggunaannya semakin luas. Banyak orang memakai kedua istilah itu saat membicarakan pertemanan, hubungan dengan rekan kerja, hingga lingkungan keluarga.
Baca Juga: Di Balik Iming-iming Cuan Instan, Judi Online Menyisakan Kerugian Finansial
Meski begitu, masih banyak yang mengira red flag dan green flag hanyalah cap untuk menyebut seseorang "buruk" atau "baik".
Padahal, keduanya lebih berkaitan dengan kebiasaan atau pola perilaku yang muncul dalam sebuah hubungan.
Sederhananya, red flag merupakan tanda yang patut diwaspadai. Bukan karena seseorang pernah melakukan satu kesalahan, melainkan karena ia terus mengulangi perilaku yang bisa membuat hubungan menjadi tidak sehat.
Baca Juga: Iqbaal Ramadhan Banjir Pembeli saat Jual Gorengan di Latihan Pestapora Makassar
Misalnya, ada teman yang selalu ingin tahu dengan siapa kita pergi, terus meminta lokasi, lalu marah ketika pesannya tidak langsung dibalas.
Awalnya mungkin terlihat sebagai bentuk perhatian. Namun, jika kebiasaan itu terus berulang hingga membuat orang lain merasa tidak nyaman, sikap tersebut bisa menjadi salah satu red flag.
Contoh lain yang juga cukup sering ditemui adalah orang yang sulit mengakui kesalahan. Saat terjadi masalah, ia selalu mencari alasan atau menyalahkan orang lain.
Baca Juga: Mengenal Bebot, Kikay, dan Kakaibabe, Tiga Gaya Makeup Filipina yang Tengah Tren
Akibatnya, persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik justru terus berulang karena tidak pernah ada keinginan untuk memperbaiki diri.
Dalam pertemanan, red flag juga bisa terlihat dari sikap yang hanya muncul ketika membutuhkan bantuan. Saat membutuhkan teman untuk mengerjakan tugas atau meminjam barang, ia mudah dihubungi.
Namun, ketika dimintai bantuan balik, ia justru menghilang atau selalu punya alasan untuk menolak.
Baca Juga: Food Waste di Indonesia: Kebiasaan Sepele yang Berdampak Besar
Sebaliknya, green flag menggambarkan kebiasaan yang membuat sebuah hubungan terasa nyaman dan saling menghargai.
Orang dengan sikap seperti ini umumnya mau mendengarkan, menghormati batasan orang lain, serta bertanggung jawab atas ucapan maupun tindakannya.
Sikap tersebut sebenarnya bisa dilihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, ketika terlambat datang, ia memilih memberi kabar lebih dulu dan meminta maaf, bukan menghilang tanpa penjelasan.
Saat berbeda pendapat, ia juga tetap mau mendengarkan tanpa memotong pembicaraan atau meremehkan pandangan orang lain.
Baca Juga: Tanaman Ini Cocok bagi Pemula yang Ingin Belajar Hidroponik
Contoh lainnya, ketika menerima kritik, ia tidak langsung tersinggung atau membalas dengan emosi. Sebaliknya, ia mencoba memahami masukan yang diberikan dan menjadikannya sebagai bahan untuk memperbaiki diri.
Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah yang sering dianggap sebagai green flag.
Sayangnya, popularitas kedua istilah tersebut juga membuat banyak orang terlalu mudah memberi label. Di media sosial, tidak sedikit warganet yang langsung menyebut seseorang sebagai red flag hanya karena satu potongan video, satu unggahan, atau satu cerita yang belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Baca Juga: Istilah "Orang Have" Viral di Media Sosial, Apa Makna di Baliknya?
Padahal, setiap orang tentu pernah berbuat salah. Satu kesalahan belum tentu menunjukkan karakter seseorang secara keseluruhan.
Karena itu, sebelum menyimpulkan seseorang sebagai red flag atau green flag, penting untuk melihat apakah perilaku tersebut memang terus berulang dan berdampak pada orang lain.
Pada akhirnya, red flag dan green flag bukan dibuat untuk menghakimi seseorang. Kedua istilah ini lebih tepat dipahami sebagai pengingat agar kita lebih peka terhadap perilaku yang sehat, sekaligus lebih bijak dalam membangun hubungan dengan orang lain.
Dengan begitu, istilah yang sedang populer ini tidak hanya menjadi tren di media sosial, tetapi juga bisa membantu kita memahami pentingnya saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Adi Pras