SOLOBALAPAN.COM - Di banyak keluarga, anak bungsu sering mendapat julukan sebagai sosok yang paling lucu, paling ceria, atau paling pandai mencairkan suasana.
Tingkahnya yang menggemaskan, gemar bercanda, hingga kemampuannya membuat anggota keluarga tertawa seolah menjadi ciri khas yang melekat.
Tak heran, anggapan bahwa "anak bungsu pasti paling lucu" telah lama berkembang di masyarakat dan kerap menjadi bahan candaan di media sosial.
Namun, benarkah sifat tersebut hanya sekadar stereotip? Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa anggapan tersebut memang memiliki dasar ilmiah, meski tidak berlaku untuk semua orang.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Kandangdoro Kestalan: Tempat Budi Daya Merpati Di Samping Pacuan Kuda
Salah satu teori yang paling dikenal berasal dari psikolog evolusi Frank J. Sulloway melalui bukunya Born to Rebel: Birth Order, Family Dynamics, and Creative Lives (1996).
Menurut Sulloway, urutan kelahiran dapat memengaruhi cara anak beradaptasi di dalam keluarga. Anak sulung biasanya lebih identik dengan tanggung jawab dan kepemimpinan karena menjadi "pelopor" bagi adik-adiknya.
Sementara itu, anak yang lahir belakangan, termasuk anak bungsu, cenderung mencari cara lain agar memiliki peran yang berbeda di dalam keluarga.
Sulloway menjelaskan bahwa salah satu strategi yang sering berkembang pada anak bungsu adalah menjadi lebih humoris, santai, ramah, dan mudah bergaul.
Dalam ulasan ilmiahnya mengenai teori urutan kelahiran, ia menyebut bahwa anak yang lahir belakangan lebih sering menggunakan humor sebagai strategi sosial dan tidak jarang mengambil peran sebagai "komedian keluarga".
Dengan kata lain, sifat lucu bukan muncul begitu saja, melainkan dapat menjadi cara alami untuk memperoleh perhatian sekaligus membangun kedekatan dengan anggota keluarga.
Temuan tersebut juga didukung oleh penelitian Delroy L. Paulhus, Steven W. Trapnell, dan Danny Chen yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 1999.
Penelitian itu menemukan bahwa individu yang lahir belakangan cenderung lebih terbuka terhadap pengalaman baru, lebih mudah bergaul, dan lebih tidak konvensional dibandingkan anak sulung.
Karakteristik tersebut dinilai dapat membuat mereka lebih ekspresif dan nyaman berinteraksi dengan orang lain, termasuk melalui humor.
Selain faktor psikologis, lingkungan keluarga juga berperan besar. Ketika anak bungsu lahir, orang tua umumnya telah memiliki pengalaman mengasuh anak sehingga pola pengasuhan sering kali menjadi lebih santai dibandingkan saat membesarkan anak pertama.
Di sisi lain, kehadiran kakak-kakak juga menciptakan lingkungan yang lebih dinamis.
Anak bungsu tumbuh dengan banyak teman bermain, lebih sering menjadi sasaran perhatian maupun candaan, sehingga kemampuan berkomunikasi dan mencairkan suasana dapat berkembang secara alami.
Baca Juga: Ariel Tatum Rayakan Ulang Tahun Kucing Adopsinya, Galang Donasi untuk Kucing Jalanan
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa urutan kelahiran bukan satu-satunya faktor yang membentuk kepribadian seseorang.
Penelitian yang dilakukan Rodica Damian dan Brent W. Roberts pada 2015 terhadap puluhan ribu responden menemukan bahwa pengaruh urutan kelahiran terhadap kepribadian sebenarnya relatif kecil.
Faktor seperti pola asuh, kondisi ekonomi keluarga, budaya, lingkungan sosial, hingga pengalaman hidup dinilai memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam membentuk karakter seseorang.
Artinya, tidak semua anak bungsu pasti humoris, begitu pula tidak semua anak sulung selalu serius. Setiap individu memiliki pengalaman dan lingkungan tumbuh yang berbeda sehingga karakter yang terbentuk pun beragam.
Meski begitu, hasil berbagai penelitian tersebut setidaknya memberikan penjelasan mengapa stereotip tentang anak bungsu yang lebih lucu dan ceria begitu mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan karena mereka "ditakdirkan" memiliki sifat tersebut, melainkan karena posisi sebagai anak terakhir dalam keluarga dapat mendorong mereka mengembangkan cara-cara tertentu untuk berinteraksi dengan orang di sekitarnya.
Jadi, ketika si bungsu kembali menjadi pusat perhatian di meja makan keluarga karena berhasil membuat semua orang tertawa, mungkin itu bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari dinamika keluarga yang telah lama dipelajari dalam dunia psikologi. (rastri rafiarum/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto