Mengapa Kini Semua Orang Melihat Peluang dari Sebuah Masalah?

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi kegiatan bisnis yang saat ini berdasar masalah seseorang. (AI generated)
Ilustrasi kegiatan bisnis yang idenya dari permasalah yang dialami seseorang. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah terpikir bahwa mengantre, berlari, atau sekadar membeli barang titipan kini bisa menjadi sumber penghasilan?

Di era digital, peluang bisnis tidak lagi selalu hadir dalam bentuk toko, produk, atau modal besar.

Justru, banyak usaha baru lahir dari hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa.

Selama ada masalah yang perlu diselesaikan, selalu ada peluang yang bisa dimanfaatkan.

Baca Juga: Diam Jadi Pilihan, Mengapa Banyak Orang Kini Memilih Silent Treatment?

Fenomena ini semakin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Ada jasa titip atau jastip yang membantu orang mendapatkan barang dari luar kota hingga luar negeri tanpa harus datang langsung. Ada pula joki war tiket yang menawarkan bantuan mendapatkan tiket konser atau acara yang biasanya habis dalam hitungan menit.

Di tengah tren olahraga, muncul joki Strava yang menawarkan jasa berlari atau bersepeda untuk memenuhi target aktivitas di aplikasi.

Baca Juga: Di Balik Promosi Meyakinkan, Kenali Modus Penipuan Berkedok Investasi

Sementara itu, di dunia kerja dan pendidikan, jasa desain presentasi, edit CV, hingga pengelolaan akun media sosial menjadi semakin umum.

Jika diperhatikan, semua layanan tersebut memiliki satu kesamaan.

Mereka tidak menciptakan kebutuhan baru, melainkan hadir karena melihat masalah yang sudah ada. Orang yang sibuk tidak punya waktu mengantre, maka muncul joki antre.

Orang kesulitan mendapatkan barang edisi terbatas, maka lahirlah jastip. Ada yang ingin memiliki CV yang lebih menarik, sehingga muncul jasa penyusunan CV profesional.

Dengan kata lain, yang dijual bukan lagi sekadar barang atau keahlian, melainkan solusi.

Perubahan ini menunjukkan bahwa cara masyarakat memandang peluang bisnis juga ikut bergeser.

Dahulu, banyak orang menganggap bisnis harus dimulai dengan membuka toko atau memproduksi barang. Kini, cukup dengan memahami kesulitan yang dialami orang lain, seseorang sudah bisa menciptakan layanan yang memiliki nilai ekonomi.

Modal utamanya bukan lagi mesin atau bangunan, melainkan kemampuan membaca kebutuhan.

Baca Juga: Merasa Tertinggal karena Media Sosial, Apakah Itu Quarter-Life Crisis?

Perkembangan teknologi menjadi salah satu pendorong lahirnya berbagai jasa tersebut. Media sosial memudahkan promosi, sementara platform pembayaran digital membuat transaksi berlangsung lebih praktis.

Bahkan, banyak usaha yang bisa dijalankan hanya bermodal telepon genggam dan koneksi internet. Tak heran jika semakin banyak anak muda yang memilih membangun usaha dari kemampuan atau aktivitas yang mereka miliki sehari-hari.

Namun, di balik kreativitas tersebut, muncul pula batas yang perlu diperhatikan.

Tidak semua peluang layak dijadikan bisnis.

Beberapa layanan, seperti joki tugas atau joki ujian, menimbulkan persoalan etika karena berkaitan dengan kejujuran akademik. Fenomena ini menunjukkan bahwa kreativitas dalam mencari penghasilan tetap perlu diiringi dengan tanggung jawab dan pertimbangan moral.

Pada akhirnya, tren bermunculannya berbagai jasa baru memperlihatkan satu hal: cara masyarakat melihat peluang telah berubah.

Jika dahulu orang bertanya, "Barang apa yang bisa saya jual?", kini pertanyaannya bergeser menjadi, "Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?"

Selama masih ada kebutuhan, keterbatasan waktu, atau kesulitan yang dialami orang lain, akan selalu ada ruang bagi lahirnya ide-ide bisnis baru. Mungkin, peluang berikutnya bukan berasal dari sesuatu yang besar, melainkan dari masalah kecil yang selama ini kita anggap biasa. (rastri rafiarum/fer)

Editor : Ferry Ardi Susanto
jastip usaha joki cuan kreatif