SOLOBALAPAN.COM - Membuka Instagram mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Awalnya sekadar ingin melihat unggahan terbaru atau mengisi waktu luang.
Namun, setelah melihat teman diterima bekerja, lulus kuliah, membuka usaha, atau mengunggah momen bahagia bersama pasangannya, tanpa sadar muncul pertanyaan dalam diri, "Kenapa aku belum sampai di titik itu?"
Perasaan seperti itu rupanya tidak hanya dialami satu atau dua orang. Di tengah derasnya informasi di media sosial, banyak anak muda mulai membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain.
Akibatnya, muncul rasa tertinggal, cemas, hingga bingung menentukan arah hidup. Kondisi inilah yang belakangan sering dikaitkan dengan istilah quarter-life crisis.
Dikutip dari penelitian berjudul "Analisis Fenomena Quarter-Life Crisis pada Usia Muda: Studi pada Pengguna Aktif Instagram", quarter-life crisis merupakan fase yang umumnya dialami seseorang pada masa dewasa awal.
Fase ini ditandai dengan munculnya kebingungan, kecemasan, dan keraguan terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari karier, hubungan, hingga masa depan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Julukan, Kupu-Kupu dan Kura-Kura Jadi Label di Kalangan Mahasiswa
Penelitian tersebut dilakukan terhadap empat pengguna aktif Instagram berusia 20–30 tahun di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial bukan penyebab utama munculnya quarter-life crisis.
Namun, kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial dapat memperkuat perasaan tersebut.
Hal ini cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat sedang beristirahat lalu membuka Instagram, seseorang melihat temannya mengunggah kabar diterima di perusahaan impian.
Baca Juga: Sonny Angel Jadi Tren Koleksi Gen Z, Ketika Figur Mini Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Setelah itu muncul unggahan teman lain yang baru menyelesaikan studi, membeli kendaraan pertama, atau membagikan momen liburan. Lama-kelamaan, perhatian bukan lagi tertuju pada kabar bahagia mereka, melainkan pada diri sendiri yang merasa belum memiliki pencapaian serupa.
Dikutip dari penelitian tersebut, kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat memicu rasa tidak percaya diri, cemas, hingga muncul anggapan bahwa diri sendiri tertinggal dari teman sebaya.
Perasaan tersebut membuat seseorang lebih sibuk mengukur hidupnya dengan pencapaian orang lain dibandingkan menghargai proses yang sedang dijalani.
Baca Juga: Skin Flooding, Tren Skincare yang Makin Sederhana
Selain dipengaruhi oleh perbandingan sosial, penelitian itu juga menemukan adanya tekanan dari lingkungan. Tidak sedikit anak muda yang merasa harus segera memiliki pekerjaan tetap, penghasilan yang stabil, atau mencapai target tertentu di usia muda.
Ketika kenyataan belum sesuai dengan harapan, rasa khawatir dan cemas pun semakin mudah muncul.
Meski begitu, quarter-life crisis bukan berarti seseorang gagal atau tidak mampu menjalani hidupnya. Fase ini justru bisa menjadi waktu untuk berhenti sejenak, mengenali diri sendiri, dan menata kembali tujuan yang ingin dicapai. Sebab, perjalanan setiap orang tidak pernah benar-benar sama.
Media sosial juga tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Apa yang terlihat di layar sering kali hanya potongan momen terbaik, sementara perjuangan, kegagalan, atau proses yang panjang tidak selalu dibagikan.
Karena itu, menjadikan unggahan orang lain sebagai tolok ukur keberhasilan diri hanya akan membuat seseorang lebih mudah merasa tertinggal.
Pada akhirnya, merasa tertinggal setelah melihat media sosial tidak serta-merta berarti seseorang sedang mengalami quarter-life crisis. Namun, jika kebiasaan membandingkan diri mulai menimbulkan kecemasan dan membuat seseorang terus meragukan kemampuannya, bisa jadi itu menjadi salah satu tanda yang perlu disadari.
Yang terpenting, setiap orang memiliki waktu, proses, dan jalan hidup yang berbeda, sehingga tidak ada alasan untuk terus membandingkan perjalanan diri dengan orang lain.
Editor : Adi Pras