Tampil Stylish Tanpa Bikin Kantong Bolong: Alasan Gen Z Mulai Senang Mix & Match dan Belanja Preloved

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 09:25 WIB
Memadukan pakaian yang sudah dimiliki menjadi salah satu cara tampil stylish tanpa harus membeli baju baru. (AI Generated)
Memadukan pakaian yang sudah dimiliki menjadi salah satu cara tampil stylish tanpa harus membeli baju baru. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Besok ada kelas, rapat organisasi, atau sekadar ngopi bersama teman. Lemari pun kembali dibuka, berharap menemukan sesuatu yang terasa "baru".

Kemeja yang biasanya dipadukan dengan jeans dicoba dikenakan bersama rok, blazer lama kembali dipakai, sementara tas yang sudah lama tersimpan akhirnya dikeluarkan lagi. Setelah beberapa kali mencoba, ternyata penampilan bisa terlihat berbeda tanpa harus membeli pakaian baru.

Pengalaman seperti itu mungkin sudah akrab bagi banyak anak muda. Keinginan untuk tampil menarik tetap ada, tetapi keinginan tersebut kini mulai diimbangi dengan kesadaran untuk mengatur pengeluaran.

Alih-alih terus mengikuti setiap tren fashion yang muncul di media sosial, sebagian Generasi Z memilih memanfaatkan apa yang sudah dimiliki. Mereka lebih sering bereksperimen dengan padu padan pakaian, berburu barang preloved, atau menunggu promo ketika memang ada barang yang benar-benar dibutuhkan.

Pilihan tersebut bukan sekadar soal menghemat uang. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa penampilan tidak selalu ditentukan oleh seberapa sering membeli barang baru.

Kreativitas dalam memadukan pakaian, memilih warna-warna dasar yang mudah dipakai di berbagai kesempatan, hingga menggunakan kembali tas, sepatu, atau aksesori lama justru menjadi cara baru untuk tetap tampil percaya diri.

Perubahan cara pandang itu sejalan dengan penelitian berjudul “Analisis Persepsi Generasi Z terhadap Pembelian Pakaian Bekas pada Sosial Media di Indonesia.”

Penelitian yang melibatkan 200 responden Generasi Z tersebut menunjukkan bahwa minat membeli pakaian bekas dipengaruhi oleh kesadaran terhadap lingkungan, keinginan untuk tampil unik, serta kesadaran terhadap merek.

Temuan itu menunjukkan bahwa barang preloved kini semakin diterima, bukan hanya karena harganya lebih terjangkau, tetapi juga karena dianggap mampu mendukung gaya berpakaian sekaligus menjadi bentuk konsumsi yang lebih sadar.

Cara berbelanja pun perlahan berubah. Promo masih dimanfaatkan, tetapi tidak lagi menjadi alasan untuk membeli apa saja. Sebelum memasukkan barang ke keranjang belanja, sebagian orang memilih membuat daftar kebutuhan, menunda pembelian selama beberapa hari, atau memastikan barang tersebut memang akan sering digunakan. Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi pembelian impulsif yang kerap dipicu tren sesaat.

Frugal bukan berarti berhenti menikmati dunia fashion atau menghindari belanja sama sekali. Gaya hidup ini lebih menekankan pada kemampuan menentukan prioritas dan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki.

Ketika satu pakaian bisa dikenakan dalam berbagai suasana, tas lama masih layak digunakan, atau barang preloved mampu melengkapi penampilan, membeli sesuatu yang baru tidak lagi menjadi satu-satunya cara untuk tampil menarik.

Di tengah cepatnya perubahan tren, semakin banyak anak muda yang mulai menyadari bahwa gaya tidak selalu bergantung pada isi lemari yang terus bertambah. Penampilan tetap bisa mencerminkan kepribadian, sementara pengeluaran tetap terjaga. Dari situlah gaya hidup frugal perlahan menunjukkan bahwa tampil stylish dan hidup hemat bukan lagi dua hal yang saling bertentangan. (Rahma Azra Calista/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Frugal Gen Z outfit Thrifting hemat