SOLOBALAPAN.COM - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang menawarkan berbagai kemudahan, sebagian generasi muda di Kota Solo justru menunjukkan ketertarikan pada benda-benda yang identik dengan masa lalu.
Baca Juga: Intimate Wedding, Gaya Pernikahan yang Kini Diminati Gen Z
Bagi sebagian Gen Z, mengoleksi barang antik bukan sekadar mengikuti tren atau memenuhi hobi semata. Di balik setiap benda yang mereka miliki, tersimpan kisah dan nilai sejarah yang dianggap mampu menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan produk modern. Kamera analog, misalnya, menawarkan sensasi memotret secara manual yang dinilai lebih autentik.
Begitu pula piringan hitam dan radio lawas yang menghadirkan nuansa nostalgia melalui kualitas suara khas yang tidak ditemukan pada perangkat digital masa kini. Tak sedikit pula yang menjadikan koleksi tersebut sebagai dekorasi ruangan, bahan konten media sosial, hingga aset investasi karena nilai jualnya yang cenderung meningkat seiring waktu.
Baca Juga: Ari Irham Akui Sempat Takut Perankan Hikmah di Film Seni Merayu Tuhan, Merasa Kisahnya Sangat
Fenomena meningkatnya minat generasi muda terhadap barang antik menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak serta-merta menghapus ketertarikan terhadap warisan masa lalu. Di Kota Solo yang dikenal memiliki kekayaan sejarah dan budaya, tren ini turut menjadi bentuk apresiasi terhadap benda-benda bersejarah yang masih memiliki nilai budaya, estetika, dan ekonomi.
Melalui aktivitas berburu barang antik, generasi muda tidak hanya menjadi kolektor, tetapi juga berperan dalam menjaga keberadaan benda-benda bersejarah agar tetap lestari dan dikenal oleh masyarakat luas di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.
“Saya masih suka tertarik dengan barang-barang antik seperti ini, walaupun saya mahasiswa tetapi jujur saya mending membeli barang-barang seperti ini di banding barang jaman sekarang karena barang antik bagi saya merupakan benda yang tidak boleh di hilangkan” Ujar Mahasiswa yang suka membeli barang antik Aidah Rizka.
Tak hanya itu, pengaruh media sosial juga menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya minat generasi muda terhadap barang antik. Konten bertema vintage, fotografi analog, hingga dekorasi bergaya klasik yang banyak beredar di berbagai platform digital membuat barang-barang lawas kembali diminati. Meski demikian, bagi Aidah, ketertarikannya bukan sekadar mengikuti tren yang sedang populer.
Mengoleksi barang antik merupakan salah satu cara sederhana untuk ikut menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Menurutnya, jika generasi muda tidak lagi peduli terhadap benda-benda bersejarah, maka bukan tidak mungkin nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlahan akan terlupakan. Karena itu, ia berharap semakin banyak anak muda yang mulai mengenal, merawat, dan menghargai barang antik sebagai bagian dari identitas sejarah dan budaya bangsa.
Baca Juga: Kisah Ibrahim Al Abrar, Peretas Cilik Boyolali yang Tembus Sistem NASA Setelah Tiga Kali Uji Coba
”Ya saya suka sekali mengabadikan momen ketika bersama keluarga, Teman, atau orang lain dengan menggunakan kamera analog. Karena bagi saya dengan mengabadikan momen menggunakan kamera tersebut bisa terlihat semakin keren,” ujar Cila Nafisah, mahasiswa yang suka barang antik.
Pasar-pasar barang antik di Kota Solo kini tidak hanya menjadi tujuan para kolektor senior, tetapi juga mulai ramai dikunjungi kalangan mahasiswa. Pada akhir pekan atau hari libur, sejumlah mahasiswa terlihat berburu berbagai barang lawas, mulai dari aksesori vintage, pakaian klasik, kamera analog, hingga pernak-pernik unik yang sulit ditemukan di toko modern.
Bagi mereka, barang-barang tersebut bukan sekadar benda kuno, melainkan memiliki nilai sejarah dan keunikan tersendiri yang membuatnya terasa lebih berharga.
”Banyak sekali pengunjung yang datang ke sini untuk membeli aksesoris, baju-baju yang lawas ya tentu nya dan pengunjung tersebut pasti setiap hari libur kebanyakan mahasiswa yang minat,” ujar Ayu, salah seorang pedagang di Pasar Antik Triwindu.
Ketertarikan mahasiswa terhadap barang antik tidak hanya dipengaruhi oleh tren media sosial, tetapi juga karena mereka ingin memiliki barang yang berbeda dari produk pasaran saat ini. Beberapa pengunjung bahkan rela datang berkali-kali untuk mencari koleksi tertentu, seperti kamera analog atau aksesori lawas yang memiliki desain khas era terdahulu.
Ramainya kunjungan generasi muda ke pasar barang antik menunjukkan bahwa benda-benda lawas masih memiliki tempat di tengah arus modernisasi. Di Kota Solo yang dikenal kaya akan sejarah dan budaya, pasar antik seperti Triwindu tidak hanya menjadi ruang transaksi jual beli, tetapi juga menjadi tempat bertemunya generasi muda dengan jejak masa lalu yang masih terjaga hingga kini.
Bagi sebagian mahasiswa, berburu barang antik bukan hanya soal mengikuti tren, melainkan cara untuk menemukan cerita di balik setiap benda yang mereka bawa pulang. Dari kamera analog hingga pakaian lawas, barang-barang tersebut menjadi penghubung antara generasi muda dengan sejarah yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Editor : Kabun Triyatno