Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Tempoe Doeloe Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Ketika Diam Ikut Dinilai: Speak Up Menjadi Tuntutan Baru di Media Sosial

Rastri Rafiarum • Kamis, 16 Juli 2026 | 07:10 WIB
ilustrasi fenomena tone deaf yang dianggap memihak pada sistem yang salah. (pinterest/@talkwithcolleen)
Ilustrasi fenomena tone deaf yang dianggap memihak pada sistem yang salah. (pinterest/@talkwithcolleen)

SOLOBALAPAN.COM - Di media sosial, keheningan ternyata bisa bersuara.

Ketika sebuah isu memenuhi linimasa dan ribuan orang berlomba menyampaikan pendapatnya, mereka yang memilih diam justru menjadi pusat perhatian.

Bukan karena apa yang mereka katakan, melainkan karena apa yang tidak mereka ucapkan.

Dari sanalah istilah tone deaf kembali mengemuka dan memperoleh makna baru dalam percakapan publik.

Baca Juga: Info Harga Tiket, Lokasi, dan Aturan Main Gigs Hardcore Solo Rumble Crew 19 Juli 2026

Istilah tone deaf sebenarnya berasal dari dunia musik. Dalam bahasa Inggris, tone berarti nada, sedangkan deaf berarti tuli.

Secara harfiah, istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang kesulitan membedakan tinggi rendahnya nada atau tidak mampu mengenali ketepatan nada dalam sebuah lagu.

Namun, seiring waktu, maknanya berkembang menjadi metafora dalam komunikasi untuk menggambarkan seseorang yang gagal membaca suasana, tidak peka terhadap kondisi di sekitarnya, atau memberikan respons yang tidak selaras dengan situasi yang sedang dihadapi banyak orang.

Di media sosial, makna tone deaf kembali mengalami perluasan.

Jika sebelumnya istilah ini lebih sering ditujukan kepada mereka yang melontarkan pernyataan atau tindakan yang dianggap tidak sensitif terhadap kondisi publik, kini label tersebut juga kerap disematkan kepada orang-orang yang memilih tetap diam ketika sebuah persoalan besar tengah menjadi perhatian masyarakat.

Dalam pandangan sebagian warganet, keheningan tidak lagi dipandang sebagai sikap netral, melainkan dapat dimaknai sebagai bentuk ketidakpedulian atau ketidakpekaan terhadap persoalan yang sedang dihadapi bersama.

Fenomena ini semakin mudah ditemui setiap kali muncul persoalan yang menyangkut kepentingan publik.

Linimasa dipenuhi unggahan berisi kritik, ajakan menyuarakan pendapat, hingga tagar yang menjadi simbol solidaritas.

Di tengah riuhnya percakapan digital, kehadiran seseorang di media sosial seolah tidak lagi cukup. Publik mulai menunggu, bahkan menuntut, sebuah pernyataan.

Dalam ruang digital, diam perlahan kehilangan makna sebagai sikap netral. Keheningan justru sering ditafsirkan sebagai pilihan untuk tidak berpihak atau bahkan bentuk ketidakpedulian.

Tak heran jika kolom komentar figur publik, kreator konten, hingga merek kerap dipenuhi pertanyaan seperti: "Kenapa diam saja?" atau "Kok belum speak up?".

Padahal, memilih untuk tidak mengomentari suatu isu belum tentu berarti mengabaikan keadaan.

Ada yang merasa belum memiliki informasi yang utuh, ada yang khawatir pernyataannya justru memperkeruh situasi, dan tidak sedikit yang memilih menyikapi persoalan secara pribadi tanpa membagikannya ke ruang publik.

Baca Juga: Second Account Instagram Jadi Ruang Ekspresi Baru, Begini Faktanya

Namun, di era ketika aktivitas digital menjadi bagian dari identitas seseorang, alasan-alasan tersebut sering kali tenggelam di balik ekspektasi publik yang semakin besar.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana media sosial tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga membentuk standar baru tentang kepedulian. Dulu, dukungan mungkin diwujudkan melalui tindakan nyata di lingkungan sekitar.

Kini, unggahan, story, atau sekadar membagikan tagar sering kali dianggap sebagai bukti bahwa seseorang peduli terhadap persoalan yang sedang terjadi.

Di sisi lain, budaya speak up juga membawa dilema. Mereka yang bersuara berpotensi mendapat dukungan, tetapi tidak sedikit pula yang menuai kritik dari pihak yang berbeda pandangan.

Sebaliknya, mereka yang memilih diam juga menghadapi risiko dicap apatis atau tidak memiliki empati.

Baca Juga: Belanja Boleh, Kalap Jangan: Mengenal Tren No Buy Challenge

Akibatnya, ruang digital menghadirkan situasi yang serba sulit: berbicara memiliki konsekuensi, tetapi diam pun tidak lagi bebas dari penilaian.

Pada akhirnya, fenomena ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat memaknai kepedulian. Di era digital, suara memang semakin mudah didengar.

Namun, barangkali yang lebih penting bukan sekadar seberapa cepat seseorang ikut berbicara, melainkan apakah suara yang disampaikan benar-benar lahir dari pemahaman, empati, dan tanggung jawab.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi, media sosial tidak hanya membuat setiap orang memiliki ruang untuk bersuara, tetapi juga menjadikan keheningan sebagai sesuatu yang ikut dibaca dan dimaknai. (ras/fer)

Editor : Ferry Ardi Susanto
tone deaf ruang digital media sosial speak up