Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Capsule Wardrobe Ubah Cara Anak Muda Berpakaian, Ini Penjelasannya

Rahma Azra Calista • Selasa, 14 Juli 2026 | 18:59 WIB
Sebagian orang mulai menerapkan capsule wardrobe. (AI Generated)
Sebagian orang mulai menerapkan capsule wardrobe. (AI Generated)

 

SOLOBALAPAN.COM Memiliki banyak pakaian tidak selalu membuat seseorang lebih mudah menentukan pilihan busana. Tidak jarang, lemari yang penuh justru membuat bingung ketika harus memilih pakaian untuk beraktivitas.

Kondisi tersebut membuat sebagian orang mulai mencari cara berpakaian yang lebih sederhana, salah satunya melalui konsep capsule wardrobe.

Hasil penelitian berjudul “Perilaku Konsumtif terhadap Fast Fashion: Dampak pada Lingkungan, Sosial dan Alternatif Solusi dalam Mengurangi Fast Fashion” menjelaskan, budaya fast fashion mendorong masyarakat membeli pakaian secara berlebihan untuk mengikuti tren yang terus berganti.

Baca Juga: Makeup Ala Naykilla Jadi Tren Baru Gen Z

Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai alternatif gaya berpakaian yang lebih bijak dan berkelanjutan, salah satunya melalui konsep capsule wardrobe.

Capsule wardrobe merupakan konsep memilih pakaian yang benar-benar dibutuhkan dengan mengutamakan koleksi yang mudah dipadukan satu sama lain.

Konsep ini bukan berarti seseorang harus memiliki sedikit pakaian, melainkan lebih selektif dalam menyimpan dan membeli pakaian sesuai kebutuhan.

Baca Juga: Tak Sekadar Ikut Tren, Mengapa Banyak Orang Kini Membawa Tumbler?

Jelita Septiana, mahasiswa semester 6, mengaku mulai menerapkan capsule wardrobe sekitar satu tahun lalu setelah merasa lelah dengan kebiasaan memilih pakaian setiap pagi.

Capek banget tiap pagi ritualnya selalu sama: bongkar-bongkar lemari, terus ngomel sendiri karena merasa tidak punya baju padahal lemari penuh,” ujarnya kepada Solobalapan.com, Selasa (14/7/2026).

Jelita kemudian melakukan decluttering dengan memilah pakaian yang sudah lama tidak digunakan. Ia mempertahankan pakaian berwarna netral agar lebih mudah dipadukan.

Baca Juga: Tren Kerudung Jahat, Gaya Pashmina Viral di Media Sosial

Sebelum menerapkan konsep tersebut, ia mengaku sering membeli pakaian secara impulsif karena tergoda promo maupun tren di media sosial.

Dulu anaknya impulsif banget. Kalau lihat diskonan di marketplace atau lihat tren TikTok dikit, langsung checkout. Akhirnya banyak baju yang cuma dipakai sekali dua kali, habis itu tidak pernah disentuh lagi,” katanya.

Kini, Jelita hanya membeli pakaian ketika benar-benar dibutuhkan. Menurutnya, capsule wardrobe membuat proses memilih pakaian menjadi lebih praktis sekaligus membantu menghemat pengeluaran.

Sekarang sudah 'puasa' belanja baju impulsif. Cuma bakal beli baju kalau ada yang rusak atau memang benar-benar butuh,” ujarnya.

Baca Juga: Asal Usul Kampung Balong Solo: Kawasan Pecinan Tertua Hingga Lokasi Pembuangan Tulang Hewan Setelah Disembelih

Pengalaman serupa dirasakan Alma, 26, seorang karyawan swasta. Ia menerapkan capsule wardrobe karena ingin lebih efisien dalam mempersiapkan pakaian kerja setiap pagi.

Sebagai karyawan, waktu di pagi hari itu sangat berharga. Rasanya lelah kalau setiap pagi harus menghabiskan waktu cuma buat milih baju yang pas,” ungkapnya.

Alma memilih pakaian dengan warna-warna netral dan model timeless agar tetap terlihat profesional sekaligus mudah dipadukan.

Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya menghemat waktu dan pengeluaran, tetapi juga membuat isi lemari lebih rapi. Tantangan terbesarnya adalah mengurangi keterikatan dengan pakaian yang sudah lama tidak digunakan.

Baca Juga: Angkat Isu Lingkungan Hidup, Delegasi Universitas Pekalongan Sabet Juara I Penulisan Lakon Peksimida Jateng 2026

Tantangan terberatnya adalah rasa sayang untuk membuang atau menyumbangkan baju. Kadang merasa, ‘siapa tahu nanti dipakai’, padahal kenyataannya sudah dua tahun tidak disentuh,” jelasnya.

Tren capsule wardrobe menunjukkan bahwa sebagian anak muda mulai memandang pakaian bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebagai kebutuhan yang dipilih secara lebih sadar.

Dengan memiliki koleksi yang lebih terarah, mereka dapat menghemat waktu, mengendalikan pengeluaran, sekaligus memaksimalkan pakaian yang sudah dimiliki.

Editor : Adi Pras
#lemari #tren #marketplace #fashion #tiktok