Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Menelusuri Jejak 'Sacred Feminine' dalam Novel Brida Coelho

tim solobalapan • Selasa, 23 Juni 2026 | 09:33 WIB
Cover buku Brida karya Paulo Coelho. Source: Pinterest
Cover buku Brida karya Paulo Coelho. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN.COM - Novel Brida karya penulis Brasil Paulo Coelho yang diterbitkan pada 1990 kembali dibahas dalam kajian sastra spiritual karena eksplorasinya terhadap tema takdir, cinta, dan dunia okultisme dalam format fiksi alegoris.

Kisah ini berpusat pada Brida O’Fern, seorang perempuan muda asal Irlandia yang memiliki ketertarikan kuat terhadap praktik sihir dan pencarian makna spiritual di luar batas kehidupan sehari-hari.

Dalam perjalanan hidupnya, Brida mulai memasuki dunia spiritual yang membawanya bertemu dengan dua guru berbeda yang masing-masing mewakili tradisi pemahaman yang kontras.

Guru pertama dikenal sebagai Sang Penyihir atau Magus, seorang figur yang hidup di hutan terpencil dan mengajarkan apa yang disebut sebagai Tradisi Matahari, yang berfokus pada intuisi, keberanian, dan pencarian kebenaran batin.

Sosok Magus dalam novel juga memperkenalkan konsep bahwa setiap manusia memiliki belahan jiwa atau soulmate, yang dapat dikenali melalui hubungan spiritual yang mendalam.

Guru kedua adalah Wicca, seorang perempuan bijak yang memimpin kelompok spiritual dan mengajarkan Tradisi Bulan, yang menekankan kesabaran, ritual, musik, dan keterhubungan dengan siklus alam.

Perjalanan Brida di antara dua tradisi tersebut membentuk konflik internal antara dunia spiritual dan kehidupan pribadinya, termasuk hubungannya dengan seorang pria bernama Lorens.

Novel ini menggambarkan proses Brida dalam mencoba menyeimbangkan kehidupan duniawi dan pencarian spiritual yang semakin dalam seiring waktu.

Salah satu tema utama dalam Brida adalah konsep belahan jiwa, yang menggambarkan gagasan bahwa manusia memiliki bagian jiwa yang terpisah dan tujuan hidup adalah menemukan kembali kesatuan tersebut.

Baca Juga: Endus Aroma Markup dan Jual Beli Titik, Kejari Sragen Pelototi 117 Lokasi Program Makan Bergizi Gratis

Selain itu, novel ini menekankan pentingnya menghadapi ketakutan sebagai bagian dari proses pembelajaran spiritual, termasuk ketakutan terhadap kegagalan dan ketidakpastian hidup.

Aspek lain yang menonjol adalah penghormatan terhadap sisi feminin suci atau sacred feminine, yang digambarkan melalui Tradisi Bulan dan peran intuisi dalam memahami dunia.

Melalui pendekatan tersebut, Brida menghadirkan pandangan bahwa spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga dengan cara seseorang memahami dirinya sendiri dan realitas di sekitarnya.

Novel ini ditulis dengan gaya naratif yang lembut dan reflektif, mirip dengan karya Coelho lainnya, dan menekankan perjalanan batin sebagai inti dari cerita.

Pada akhirnya, Brida menempatkan pencarian jati diri, cinta, dan transformasi spiritual sebagai pusat narasi, dengan latar dunia yang memadukan realitas dan unsur mistis secara bersamaan. (nta) 

Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#Paulo Coelho #Brida #Belahan Jiwa #sihir #novel