Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sindiran Nyata Pengawasan Digital, Mengapa Anda Harus Membaca Novel 1984?

tim solobalapan • Rabu, 17 Juni 2026 | 15:29 WIB
Cover novel 1984 karya George Orwell. Source: Pinterest
Cover novel 1984 karya George Orwell. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN.COM - Novel distopia klasik 1984 karya penulis Inggris George Orwell kembali menjadi bahan diskusi global, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu pengawasan digital, propaganda, dan manipulasi informasi di era modern. 

Diterbitkan pada 8 Juni 1949, 1984 dianggap sebagai salah satu karya sastra paling berpengaruh pada abad ke-20. Novel ini menghadirkan gambaran dunia masa depan yang gelap di bawah kekuasaan totaliter yang mengontrol hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Cerita berlangsung di tahun 1984 dalam perspektif Orwell, di wilayah bernama Airstrip One, yang sebelumnya dikenal sebagai Inggris. Wilayah ini merupakan bagian dari negara super bernama Oceania yang terus-menerus berada dalam kondisi perang tanpa akhir.

Kekuasaan di Oceania dipegang oleh Partai yang dipimpin figur simbolik bernama Big Brother. Sosok ini tidak pernah benar-benar terlihat secara langsung, namun citranya tersebar di mana-mana sebagai simbol pengawasan absolut.

Tokoh utama dalam cerita adalah Winston Smith, seorang pegawai di Ministry of Truth. Ironi besar dari pekerjaannya adalah ia justru bertugas memalsukan catatan sejarah agar sesuai dengan narasi terbaru Partai.

Di balik rutinitasnya yang patuh, Winston diam-diam menyimpan kebencian terhadap sistem yang ia layani. Perasaan ini mendorongnya untuk melakukan tindakan-tindakan kecil yang dianggap sebagai bentuk pemberontakan.

Salah satu tindakan tersebut adalah menulis buku harian secara ilegal, sesuatu yang dapat dianggap sebagai kejahatan serius dalam sistem Oceania. Ia juga menjalin hubungan terlarang dengan seorang perempuan bernama Julia.

Dalam dunia 1984, bahkan pikiran manusia tidak bebas dari pengawasan. Partai memperkenalkan konsep “kejahatan pikiran” atau thoughtcrime, yaitu tindakan berpikir yang menyimpang dari ideologi resmi.

Untuk memastikan kontrol total, Partai menggunakan teknologi bernama telescreen yang berfungsi sebagai televisi dua arah. Alat ini tidak hanya menyiarkan propaganda, tetapi juga mengawasi setiap gerak dan suara warga.

Baca Juga: Sedekade Berlalu, Intip Bocoran Jadwal Syuting dan Detail Reuni Pemain 'Love in the Moonlight'

Selain itu, terdapat Thought Police yang bertugas mendeteksi dan menghukum siapa pun yang menunjukkan tanda-tanda ketidakpatuhan. Ketakutan terhadap pengawasan ini menciptakan masyarakat yang penuh kecurigaan.

Orwell juga memperkenalkan konsep bahasa buatan bernama Newspeak, yang dirancang untuk membatasi cara berpikir masyarakat. Dengan mengurangi kosakata, Partai berupaya menghapus kemampuan warga untuk mengungkapkan ide-ide kritis.

Konsep lain yang terkenal adalah Doublethink, yaitu kemampuan untuk mempercayai dua hal yang saling bertentangan secara bersamaan. Hal ini tercermin dalam slogan Partai seperti “Perang adalah Perdamaian” dan “Kebebasan adalah Perbudakan”.

Melalui sistem ini, Partai tidak hanya mengontrol tindakan, tetapi juga realitas itu sendiri. Kebenaran dapat diubah sesuai kebutuhan politik, termasuk fakta sejarah dan data ilmiah.

Tema utama novel ini mencakup kontrol psikologis dan fisik yang ekstrem. Partai tidak hanya mengatur perilaku, tetapi juga berusaha mengendalikan pikiran, emosi, bahkan hubungan manusia.

Pada akhirnya, 1984 tetap relevan sebagai peringatan keras terhadap bahaya totalitarianisme dan manipulasi informasi. Konsep “Orwellian” kini digunakan secara luas untuk menggambarkan sistem yang mengancam kebebasan berpikir di era modern. (nta) 

Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#George Orwell #1984 #buku #propaganda #novel