SOLOBALAPAN.COM - Di tengah banyaknya novel yang berfokus pada kisah percintaan atau kehidupan sehari-hari, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori hadir dengan tema yang berbeda.
Novel ini mengajak pembaca menelusuri salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia melalui sudut pandang para aktivis mahasiswa dan keluarga yang harus menghadapi kehilangan.
Novel tersebut berlatar pada masa menjelang Reformasi 1998, ketika sejumlah aktivis mengalami penangkapan, penghilangan paksa, hingga berbagai bentuk tekanan akibat aktivitas mereka.
Melalui tokoh utama bernama Biru Laut, pembaca diajak melihat bagaimana semangat idealisme, persahabatan, dan perjuangan tumbuh di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Namun, kekuatan Laut Bercerita tidak hanya terletak pada penggambaran peristiwa sejarah. Novel ini juga memperlihatkan sisi lain yang sering kali luput dari perhatian, yakni perasaan keluarga yang ditinggalkan.
Setelah bagian pertama menceritakan perjalanan Laut dan kawan-kawannya, bagian kedua menghadirkan sudut pandang keluarga yang terus mencari kabar orang-orang yang mereka cintai.
Melalui kisah tersebut, pembaca diajak memahami bahwa sebuah peristiwa besar tidak hanya meninggalkan dampak bagi mereka yang terlibat secara langsung, tetapi juga bagi orang-orang terdekat yang harus hidup dengan ketidakpastian.
Penantian, harapan, dan kerinduan menjadi bagian penting dari cerita yang dibangun Leila S. Chudori.
Meski berlatar lebih dari dua dekade lalu, berbagai nilai yang terkandung dalam novel ini masih relevan hingga sekarang.
Salah satunya adalah pentingnya keberanian untuk peduli terhadap lingkungan sosial. Tokoh-tokoh dalam novel digambarkan sebagai anak muda yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga kondisi masyarakat di sekitarnya.
Di era digital saat ini, bentuk kepedulian sosial mungkin telah berubah. Jika dahulu mahasiswa menyampaikan gagasan melalui diskusi, organisasi, atau aksi lapangan, kini berbagai aspirasi dapat disampaikan melalui media sosial dan platform digital lainnya.
Namun, semangat untuk menyuarakan pendapat dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial tetap menjadi hal yang penting.
Selain itu, Laut Bercerita juga mengingatkan pembaca tentang pentingnya menjaga ingatan terhadap sejarah.
Generasi muda saat ini mungkin tidak mengalami langsung berbagai peristiwa yang terjadi menjelang Reformasi 1998. Namun melalui karya sastra, sejarah dapat dipahami dengan cara yang lebih dekat dan manusiawi.
Novel ini menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya kumpulan tanggal dan nama tokoh yang tercatat dalam buku pelajaran.
Di balik setiap peristiwa, terdapat kisah manusia dengan harapan, mimpi, dan perjuangan yang nyata. Melalui cerita-cerita tersebut, pembaca diajak melihat sejarah sebagai pengalaman yang pernah dialami oleh banyak orang.
Gaya penulisan Leila S. Chudori yang detail dan emosional membuat pembaca seolah ikut merasakan perjalanan para tokohnya. Hubungan persahabatan, rasa kehilangan, hingga perjuangan keluarga digambarkan dengan kuat sehingga meninggalkan kesan mendalam setelah buku selesai dibaca.
Lebih dari sekadar novel sejarah, Laut Bercerita menjadi pengingat bahwa kebebasan, keberanian, dan kepedulian sosial merupakan nilai yang perlu terus dijaga.
Baca Juga: Pecinta Metallica Wajib Baca! Ini Makna Buku For Whom the Bell Tolls
Kisah yang diangkat mungkin berasal dari tahun 1998, tetapi pesan yang disampaikan tetap relevan bagi generasi muda saat ini.
Melalui novel ini, pembaca tidak hanya diajak mengenal masa lalu, tetapi juga memahami bahwa sejarah memiliki hubungan erat dengan kehidupan masa kini. Karena itulah, Laut Bercerita menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang tidak berhenti pada peristiwa yang diceritakannya, melainkan terus hidup melalui refleksi yang ditinggalkannya bagi para pembaca. (lut)
Artikel ini ditulis oleh Luthfiana Sekar Arum Rahmawati, mahasiswa Politeknik Indonusa Surakarta
Editor : Laila Zakiya