SOLOBALAPAN - Film Backrooms menghadirkan salah satu keputusan produksi paling unik dalam perfilman horor modern.
Alih-alih sepenuhnya mengandalkan efek CGI untuk membangun set, tim produksi justru memilih membangun lorong Backrooms secara fisik dalam skala besar demi menciptakan rasa takut yang lebih nyata bagi penonton.
Untuk kebutuhan produksi, tim film membangun sekitar 30.000 square feet atau kurang lebih 2.787 meter persegi area Backrooms nyata.
Ukurannya bahkan diperkirakan setara sekitar enam lapangan basket, dipenuhi lorong kuning tak berujung, plafon rendah, karpet lembap, ruang transisi kosong, serta lampu neon berdengung yang menjadi ciri khas dunia Backrooms.
Skala set yang masif tersebut tidak hanya berfungsi sebagai latar visual, tetapi juga dirancang menyerupai labirin yang membingungkan secara psikologis.
Ruangan-ruangan sengaja dibuat repetitif dan terasa “salah” secara logika, alhasil menghadirkan kesan ruang yang familiar namun tetap mengganggu secara mental.
Menariknya, desain set itu ternyata begitu besar dan kompleks hingga beberapa kru serta aktor dilaporkan benar-benar tersesat saat proses syuting berlangsung.
Sutradara muda Kane Parsons bahkan mengungkap bahwa ukuran lokasi syuting memang sangat luas sehingga para pemain dapat berjalan di dalam dunia Backrooms sungguhan selama produksi.
Baca Juga: Dembele Samai Ibrahimovic dan Mbappe, PSG Dapat Suntikan Moral Jelang Final Liga Champions
Parsons menjelaskan bahwa keputusan membangun set fisik dilakukan karena ia ingin rasa takut Backrooms terasa lebih autentik.
Menurutnya, dunia Backrooms tidak seharusnya terlihat seperti mimpi abstrak tanpa aturan, melainkan ruang nyata yang secara logika bisa dipetakan, tetapi terlalu repetitif dan luas untuk benar-benar dipahami manusia.
Baginya, ketakutan utama Backrooms justru berasal dari bagaimana otak manusia mencoba memahami ruang.
Lorong-lorong kosong yang tampak serupa memancing naluri manusia untuk mencari pola dan arah, tetapi pada akhirnya justru membuat seseorang merasa kehilangan orientasi dan terjebak dalam kecemasan.
Sebelum set fisik dibangun, Parsons diketahui terlebih dahulu memodelkan dunia Backrooms menggunakan software 3D Blender, program yang juga ia gunakan ketika membuat video YouTube viral Backrooms pada 2022.
Pendekatan ini membantu tim produksi menerjemahkan estetika digital khas internet horror ke bentuk nyata yang dapat disentuh dan dijelajahi aktor.
Baca Juga: Dari Viral YouTube ke Layar Lebar, Film Horor Backrooms A24 Resmi Tayang Hari Ini!
Bahkan untuk detail visual sederhana seperti wallpaper kuning, Parsons disebut melakukan sekitar 50 eksperimen berbeda demi menemukan nuansa yang terasa cukup banal namun tetap mengganggu secara psikologis.
Dengan pendekatan produksi seperti ini, Backrooms tidak hanya menjadi adaptasi internet biasa, tetapi juga eksperimen menarik tentang bagaimana rasa takut digital generasi internet diterjemahkan menjadi pengalaman sinematik besar.
Tidak heran jika banyak penggemar horor menyebut proyek garapan Kane Parsons bersama sebagai salah satu film horor paling unik dan dinanti pada 2026. (ags)
Editor : Laila Zakiya