SOLOBALAPAN.COM - Backrooms, konten horor yang mulanya berasal dari Youtube ini resmi melangkah ke layar lebar. Film psychological horror ini digarap oleh sutradara muda Kane Parsons atau yang lebih dikenal sebagai Kane Pixels.
Didistribusikan oleh A24, film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Mei 2026 dan disebut-sebut sebagai salah satu proyek horor paling unik tahun ini karena lahir dari budaya internet generasi digital.
Yang membuat Backrooms berbeda dari film horor kebanyakan adalah asal-usulnya yang tidak datang dari novel besar ataupun franchise lama Hollywood.
Proyek ini berawal dari serial video found footage di YouTube buatan Kane Parsons pada 2022, terinspirasi creepypasta internet terkenal “The Backrooms”, sebuah ruang misterius berupa lorong kosong tanpa ujung yang terasa salah secara logika.
Video sederhana itu viral dan perlahan berkembang menjadi salah satu serial horror paling terkenal di Youtube.
Menariknya, Kane Parsons masih berusia remaja ketika membuat video pertama Backrooms menggunakan software gratis seperti Blender untuk menciptakan lorong-lorong kuning dengan lampu neon berdengung yang kini sudah menjadi ikon budaya horor digital.
Di usia sekitar 20 tahun, Parsons justru dipercaya memimpin produksi film studio besar.
Dalam wawancara media, ia bahkan pernah berkata bahwa dirinya lahir di tahun yang sama dengan Youtube, pernyataan yang ramai dibicarakan karena dianggap melambangkan perubahan zaman dimmana seorang kreator internet yang tumbuh bersama budaya digital kini memimpin proyek film bioskop besar.
Dari sisi cerita, Backrooms mengikuti perjalanan seorang terapis bernama Dr. Mary Kline yang mencari pasiennya setelah pria itu menghilang ke dunia aneh bernama Backrooms.
Dunia itu digambarkan sebagai ruang tak berujung berisi lorong kosong, ruangan a, cahaya neon dingin, serta suasana yang membuat siapa pun merasa tersesat di mimpi buruk tanpa akhir.
Sinopsis resmi menyebut semuanya bermula dari sebuah pintu aneh di ruang bawah tanah showroom furnitur.
Dari sana, karakter utama memasuki dimensi yang terasa asing sekaligus mengganggu secara psikologis. Ketimbang mengandalkan jumpscare berlebihan, film ini diperkirakan lebih fokus membangun rasa takut eksistensial dan ketidaknyamanan mental yang perlahan menghantui penonton.
Film ini juga menghadirkan deretan aktor ternama yang cukup mengejutkan bagi proyek adaptasi creepypasta internet.
Chiwetel Ejiofor bergabung sebagai Clark, sementara Renate Reinsve memerankan Dr. Mary Kline. Selain itu, ada pula Mark Duplass, Finn Bennett, dan Lukita Maxwell yang memperkuat jajaran pemain film.
Salah satu fakta produksi paling menarik adalah keputusan tim kreatif membangun sekitar 30 ribu kaki persegi lorong Backrooms secara fisik.
Alih-alih sepenuhnya bergantung pada CGI, produksi menciptakan labirin nyata yang dikabarkan begitu rumit hingga kru dan aktor sempat benar-benar tersesat di lokasi syuting. Pendekatan praktikal ini dipercaya akan membuat suasana film terasa jauh lebih nyata dan mengganggu.
Meski kini menjadi film bioskop studio besar, Kane Parsons mengatakan bahwa Backrooms tidak akan meninggalkan akar komunitas penggemarnya. Ia menegaskan film dibuat agar tetap mudah dipahami penonton umum, tetapi tanpa membuang mitologi dan lore kompleks yang selama ini dicintai komunitas internet.
Dengan kata lain, Backrooms mencoba berjalan di antara dua dunia: film horor mainstream dan pengalaman kultus penggemar online.
Sejak pemutaran awal dan respons awal kritikus, film ini mulai dipandang sebagai salah satu horor paling berbeda pada 2026. Atmosfer liminal yang dingin, rasa takut psikologis, serta pendekatan visual yang tidak biasa membuat banyak pengamat percaya Backrooms berpotensi menjadi franchise horor baru bagi A24 sekaligus bukti bahwa budaya internet kini benar-benar mampu melahirkan film bioskop besar. (ags)
Editor : Laila Zakiya