SOLOBALAPAN.COM - Aktivitas olahraga rekreasi di Kota Solo kini semakin beragam. Salah satu yang tengah naik daun adalah corn hole, permainan lempar kantung ke papan miring dengan lubang di ujungnya, yang kerap memadukan akurasi, konsentrasi, dan keseruan.
Taman Manahan, yang berada persis di sisi timur Stadion Manahan, menjadi titik favorit bagi para pecinta corn hole di kota ini.
Komunitas corn hole rutin memanfaatkan Taman Manahan sebagai lokasi latihan dan permainan santai.
Setiap Rabu pagi hingga siang, para anggota komunitas berkumpul, menyiapkan papan kayu dan kantung kain berisi biji plastik untuk berlaga secara santai maupun kompetitif.
Corn hole merupakan olahraga asal Amerika Serikat yang populer sebagai hiburan keluarga maupun komunitas.
Pemain bergantian melempar kantung ke papan miring yang memiliki lubang di ujungnya. Tujuannya sederhana, yakni mengumpulkan total poin 21 lebih dulu.
Permainan ini dapat dimainkan secara tunggal atau beregu. Setiap pemain mendapatkan empat kantung untuk dilemparkan secara bergantian dari area lempar.
Sistem perhitungan poin juga mudah dipahami: tiga poin jika kantung masuk ke lubang, satu poin jika kantung mendarat di atas papan, dan nol poin jika kantung jatuh ke tanah.
Baca Juga: Wuling Binguo EV Jadi Solusi Mobil Listrik Cantik dan Super Hemat, Cuma Rp60 Ribu Sekali Cas
Di Surakarta, komunitas corn hole telah berkembang pesat sejak olahraga ini mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 2020. Kini, komunitas ini menjadi salah satu aktivitas rekreasi yang diminati.
“Kami memilih Taman Manahan karena area terbukanya luas, pepohonannya rindang, dan suasananya nyaman untuk berkumpul,” kata salah satu anggota komunitas corn hole.
"Hanya saja, ada satu kekurangan, Toilet, lebih nyaman lagi kalau ada toilet ya." ungkapnya.
Taman Manahan sendiri merupakan salah satu ikon ruang publik di Kota Solo.
Terletak tepat di sebelah kompleks Stadion Manahan, taman ini dilengkapi jalur pejalan kaki, area duduk santai, dan spot foto yang estetik. Kondisi ini membuatnya sangat cocok sebagai lokasi olahraga santai seperti corn hole.
Setiap sesi permainan corn hole di taman biasanya diawali dengan pemanasan ringan. Setelah itu, para pemain menata papan dan kantung, lalu mulai melempar dengan bergantian. Permainan berlangsung dengan penuh tawa dan persaingan sehat.
Poin yang dikumpulkan dihitung menggunakan sistem “cancellation scoring,” yaitu selisih poin antara kedua tim di akhir ronde.
Tim pertama yang mencapai angka 21 dinyatakan sebagai pemenang. Sistem ini membuat permainan lebih strategis dan menantang.
Corn hole di Indonesia kini berada di bawah naungan organisasi Cornhole Indonesia. Organisasi ini turut mendorong komunitas lokal untuk aktif, menyelenggarakan turnamen, dan memperkenalkan permainan ini ke lebih banyak kota besar.
Baca Juga: Sragen Krisis Guru ASN, Sekolah Negeri Bertahan dengan “Tambal Sulam” Guru Honorer
Di Surakarta, komunitas corn hole juga aktif membagikan tips dan trik melalui media sosial. Mereka memanfaatkan platform ini untuk menarik anggota baru, mempromosikan sesi latihan rutin, dan mengedukasi masyarakat tentang olahraga yang menyenangkan ini.
Keberadaan komunitas ini di taman kota juga memberi nilai positif bagi masyarakat. Selain menambah kegiatan rekreasi, kehadiran mereka membuat taman lebih hidup dan aman karena selalu ada aktivitas positif setiap pekan.
Dengan semakin populernya corn hole, Taman Manahan kini bukan hanya sekadar tempat jogging atau bersantai, tetapi juga menjadi pusat komunitas olahraga yang unik. Aktivitas ini menegaskan peran taman kota sebagai ruang publik multifungsi yang mampu mempersatukan warga melalui hiburan, olahraga, dan interaksi sosial. (NAT)
Editor : Laila Zakiya