SOLOBALAPAN.COM - Siapa bilang musik pantai hanya milik mereka yang tinggal di pesisir? Dari dataran tinggi Jatinangor, The Panturas membuktikan bahwa semangat selancar bisa meledak di mana saja, bahkan di tengah hiruk-pikuk kota yang jauh dari aroma garam laut.
Di tahun 2026 ini, kuartet Abyan Nabilio (Acin), Rizal Taufik, Bagus Patria (Gogon), dan Surya Fikri (Kuya) masih menjadi nahkoda utama yang membawa genre surf rock tetap relevan dan dicintai lintas generasi.
Bagi penikmat musik di Solo, The Panturas bukan sekadar band “hura-hura”.
Setiap penampilan mereka adalah sebuah pesta pora visual dan audio yang selalu dinanti, seperti saat mereka dikonfirmasi akan mengguncang panggung Fistfest di Yogyakarta pada Juni 2026 mendatang.
Berbicara tentang The Panturas tak lengkap tanpa membahas lagu-lagu “keramat” mereka.
“Sunshine” (2018) tetap menjadi primadona di daftar putar digital dengan puluhan juta pendengar.
Meski nadanya terdengar ceria khas musik selancar, lagu ini memiliki kedalaman makna tentang kehilangan sosok anak dalam peristiwa sejarah yang kelam, menjadikannya karya yang sangat emosional sekaligus easy listening.
Tak berhenti di situ, nomor-nomor seperti “Gurita Kota” dan “Tafsir Mistik” terus membuktikan bahwa mereka adalah pencerita yang ulung. Mereka tidak hanya menjual reverb gitar yang basah, tapi juga narasi-narasi lokal yang dibungkus dengan energi rock n' roll yang eksplosif.
Relevansi The Panturas di masa kini terletak pada keberanian mereka bereksplorasi. Lewat mini album Galura Tropikalia (November 2024), mereka sukses mengawinkan surf rock dengan nuansa tradisional Sunda dan disco pop era 70-an.
Semua liriknya ditulis dalam bahasa Sunda, namun tetap bisa dinikmati oleh siapa pun dari latar belakang budaya yang berbeda.
Ambisi mereka pun semakin meluas. Setelah sukses dengan Tur Asia 2025 dan tampil memukau di Fuji Rock Festival Jepang, The Panturas kini tengah menyiapkan proyek besar di tahun 2026: album kolaborasi bersama The Changcuters. Sebuah pertemuan dua raksasa energi panggung yang diprediksi akan menjadi rilisan paling hangat tahun ini.
Di tengah gempuran tren musik yang serba cepat, The Panturas tetap berdiri tegak dengan identitas yang kuat.
Mereka mengingatkan kita bahwa musik adalah tentang bersenang-senang tanpa melupakan akar budaya.
Bagi Anda yang rindu akan suasana pantai di tengah kemacetan jalanan Solo, memutar lagu-lagu The Panturas adalah solusi paling instan. Karena bersama mereka, kita semua diajak untuk “mabuk laut” dalam harmoni yang jujur dan penuh energi. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya