Mengapa Advertorial Kini Berusaha Tidak Terlihat Seperti Iklan?

SOLOBALAPAN.COM – Pernah menonton video Get Ready With Me (GRWM) yang awalnya terlihat seperti rutinitas pagi seseorang, tetapi di tengah video sang kreator mengambil sebuah produk skincare dan menggunakannya tanpa banyak penjelasan?
Atau mungkin kamu sedang menikmati vlog liburan, lalu tanpa sadar melihat aplikasi pemesanan hotel, kopi yang diminum, hingga kamera yang digunakan muncul begitu saja dalam alur cerita.
Tidak ada kalimat "ayo beli sekarang", tidak ada promosi yang terdengar memaksa. Namun, tanpa disadari, kamu sebenarnya sedang melihat iklan.
Fenomena seperti ini semakin sering ditemui di media sosial. Jika dulu iklan identik dengan slogan, jingle, atau ajakan membeli yang terang-terangan, kini banyak brand memilih jalan yang lebih halus.
Produk tidak lagi menjadi pusat perhatian, melainkan hanya "menumpang lewat" di dalam sebuah cerita.
Strategi inilah yang dikenal sebagai soft selling, yakni pendekatan pemasaran yang menyampaikan pesan promosi secara tidak langsung sehingga terasa lebih alami bagi audiens.
Perubahan tersebut bukan tanpa alasan. Di era digital, perhatian pengguna media sosial menjadi semakin singkat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak orang cenderung melewati konten yang sejak awal sudah terlihat seperti iklan.
Tidak sedikit pula yang memasang ad blocker, menekan tombol skip, atau langsung menggulir layar ketika menemukan promosi yang terlalu jelas.
Di tengah kebiasaan tersebut, brand harus mencari cara baru agar pesannya tetap sampai tanpa membuat audiens merasa sedang "dijuali".
Karena itu, lahirlah berbagai bentuk promosi yang menyatu dengan konten.



