Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Menjadikan Monokrom – Tulus Lagu Wajib Untuk Merayakan Momen Kelulusan dan Pencapaian

Laila Zakiya • Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:46 WIB
Ilustrasi Foto Lama (Pexels.com/SuzyHazelwood)
Ilustrasi Foto Lama (Pexels.com/SuzyHazelwood)

 
SOLOBALAPAN.COM - Ada satu lagu yang hampir selalu muncul ketika seseorang mengunggah video wisuda, perpisahan sekolah, atau kompilasi perjalanan hidup yang penuh dengan kenangan yaitu Monokrom karya Tulus. 

Bukan tanpa alasan. Lagu ini seolah memiliki kemampuan unik untuk membuat potongan potongan memori terasa lebih hangat.

Foto lama, video sederhana, hingga momen yang dulu terasa biasa saja mendadak menjadi begitu berarti ketika dipadukan dengan melodi dan lirik Monokrom. 

Di tengah budaya digital saat ini, lagu ini mengajak banyak orang untuk berhenti sejenak dan menoleh ke belakang – bukan untuk terjebak di masa lalu, tetapi untuk belajar bersyukur atas perjalanan yang sudah dilewati. 

Lembar monokrom hitam-putih, Aku coba ingat warna demi warna di hidupku.” 

Baca Juga: Disorot DPRD Kota Solo, Margi Coffee Klarifikasi Isu Sewa Pedestrian dan Logo Pemkot

Penggalan lirik diatas dapat membuat kita kembali mengingat kenangan yang terjadi di masa lalu. Lagu Monokrom menjadi pilihan utama untuk latar video kelulusan, ulang tahun, anniversary pertemanan, hingga konten photo dump yang penuh nuansa nostalgia. 

Bagi banyak Gen Z, merayakan pencapaian kini tidak hanya soal hasil akhir, tetapi juga tentang menghargai proses. Dokumentasi kecil seperti foto candid, jurnal harian, atau catatan sederhana justru menjadi benda paling berharga ketika waktu terus berjalan. 

Hobi fotografi dan journaling pun kembali mendapat tempat. Kamera analog, disposable camera, hingga scrapbook sederhana kini menjadi bagian dari gaya hidup yang menekankan pentingnya menyimpan jejak perjalanan hidup. 

Menurut National Geographic Society, dokumentasi visual memiliki peran besar dalam membangun memori emosional seseorang. Foto bukan hanya gambar, tetapi juga alat untuk mengingat perasaan pada suatu momen tertentu. 

Sementara itu, studi dari Harvard Medical School juga menyoroti bahwa praktik gratitude seperti journaling dan refleksi masa lalu dapat membantu meningkatkan kesehatan mental dan kepuasan hidup. 

Baca Juga: Persis Solo Terjerat Zona Degradasi, Andrei Alba: 4 Laga Sisa Adalah Final, Kami Butuh Dukungan Suporter!

Dalam konteks ini, lagu Monokrom menjadi lebih dari sekadar nostalgia. Ia berfungsi sebagai jembatan antara kenangan dan rasa syukur. 

Lagu ini mengingatkan kita bahwa tidak semua pencapaian harus dirayakan dengan kemewahan. Kadang, hanya dengan melihat kembali foto lama sambil tersenyum kecil sudah cukup untuk menyadari betapa jauhnya seseorang telah melangkah. 

Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk mengejar mimpi mimpi, Monokrom mengajarkan pentingnya menghargai yang sudah ada. 

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa dokumentasi hidup bukan sekadar kebutuhan estetika media sosial, tetapi bentuk penghormatan terhadap diri yang pernah berjuang. 

Dengan demikian, kelulusan, pekerjaan pertama, atau keberhasilan kecil lainnya bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang siapa saja yang hadir dalam prosesnya. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Tulus #Monokrom #tren #lagu