Lagu Batas Senja – Nanti Kita Seperti Ini, Membuat Tren Melamar Pasangan Secara Sederhana Menjadi Lebih Digemari

Laila Zakiya • Dipublikasikan Jumat, 24 April 2026 | 08:57 WIB

Ilustrasi Pernikahan Sederhana (Pexels.com/Tubagusaliefleo)
Ilustrasi Pernikahan Sederhana (Pexels.com/Tubagusaliefleo)

SOLOBALAPAN.COM - Pada masa kini, konten pernikahan megah dengan dekorasi mewah semakin terpinggirkan oleh tren yang justru bergerak ke arah sebaliknya. Kini banyak yang memilih lamaran sederhana dibanding acara besar yang penuh sorotan. 

Fenomena ini terlihat di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Konten konten lamaran dengan konsep sederhana, seperti di rumah, di alam, atau di tempat yang hanya dihadiri keluarga inti, banyak beredar dan justru mendapat respons positif dari warganet.

Narasi yang sering muncul dalam tren ini adalah keinginan untuk fokus pada makna, bukan kemewahan. Banyak pasangan muda yang mulai mempertimbangkan ulang prioritas mereka, terutama dalam hal finansial.

Sederhana.. Bahagia ini lengkap sudah

Penggalan lirik di atas membuat generasi di masa kini coba untuk berpikir ulang esensi dari sebuah Pernikahan. Dalam hal ini, pesta yang mewah mungkin menarik, akan tetapi terkadang berbenturan dengan finansial.

Biaya pesta pernikahan yang besar kini sering dibandingkan dengan kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak, seperti membeli rumah, menabung, atau mempersiapkan kehidupan setelah menikah.

Baca Juga: Honda PCX dan Yamaha NMax Punya Pesain Baru di 2026! Kymco G7 Resmi Dirilis, Mana yang Lebih Unggul?

Di sisi lain, ekspektasi sosial terhadap pernikahan juga mulai berubah. Jika sebelumnya pesta besar dianggap sebagai simbol keberhasilan, kini semakin banyak yang melihat kesederhanaan sebagai pilihan yang lebih realistis dan autentik.

Menariknya, tren ini juga dipengaruhi oleh cara media sosial membentuk persepsi. Konten yang menampilkan momen personal dan emosional tanpa kemewahan berlebih justru terasa lebih dekat dan relatable.

Beberapa pasangan bahkan sengaja memilih konsep sederhana sebagai bentuk pernyataan bahwa hubungan mereka tidak diukur dari skala acara, melainkan dari komitmen yang dibangun.

Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya kesadaran finansial di kalangan anak muda. Banyak yang mulai terbuka membicarakan pengelolaan uang, investasi, hingga pentingnya stabilitas ekonomi dalam hubungan.

Baca Juga: Siapa Pacar Adhisty Zara? Artis Inisial AZ Diduga Hamil di Luar Nikah dengan Pacarnya Berinisial TS, Nama Sang Artis Langsung Tenar!

Di tengah budaya yang sebelumnya menekankan kemewahan, perubahan ini menunjukkan bahwa definisi kebahagiaan mulai bergeser. Dari yang terlihat besar di luar, menjadi sesuatu yang lebih tenang dan terencana di dalam.

Tren ini menjadi refleksi bahwa Pernikahan bukan hanya soal seremoni, tetapi juga tentang kesiapan jangka panjang. Dan mungkin, seperti yang sering muncul dalam percakapan anak muda hari ini, pertanyaannya bukan lagi “semegah apa acaranya”, tetapi “sejauh apa kita siap menjalani hidup setelahnya.” (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
Batas Senja tren lagu lamaran