Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Jazz Triwindu Senin Malam Bisa Jadi  Tempat “Pelarian” Bagi Gen Z Solo di Awal Pekan

Laila Zakiya • Selasa, 21 April 2026 | 19:13 WIB

Jazz Triwindu di Ngarsopuro (Pemkot Solo)
Jazz Triwindu di Ngarsopuro (Pemkot Solo)

 

SOLOBALAPAN.COM - Awal pekan yang biasanya identik dengan rasa malas dan rutinitas, kini punya wajah berbeda di kawasan Ngarsopuro. Alunan musik jazz dari acara Jazz Triwindu perlahan mengubah ruang publik ini menjadi titik temu baru bagi anak muda Solo. 

Setiap penyelenggaraan, kawasan yang berada di sekitar Pasar Triwindu ini dipadati pengunjung, terutama dari kalangan Gen Z. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati musik, tetapi juga untuk merasakan atmosfer yang dianggap “estetik” dan berbeda dari tempat nongkrong pada umumnya.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tren aktivitas ruang publik di kota menengah seperti Surakarta mengalami peningkatan, terutama pascapandemi. Ruang terbuka dengan akses gratis menjadi pilihan utama generasi muda untuk bersosialisasi.

Di sisi lain, laporan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI juga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis komunitas, termasuk musik jalanan, mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Event seperti Jazz Triwindu menjadi contoh konkret bagaimana seni bisa menghidupkan ruang kota.

“Alunan Nuansa Musik Jazz Triwindu membuat Ruang publik sekarang bukan cuma tempat lewat, tapi tempat pulang.” Ujar Zulfikar, salah satu penikmat musik Jazz Triwindu tiap hari Senin, saat ditemui pada Senin (20/04/2026).

Baca Juga: Avengers: Doomsday Pecahkan Rekor Budget MCU, Bakal Lebih Megah dari Endgame?

Pernyataan ini terasa relevan dengan kondisi Ngarsopuro saat ini. Musik jazz yang dimainkan secara langsung menciptakan suasana yang intim namun tetap terbuka. Tidak ada sekat antara musisi dan penonton, membuat interaksi terasa lebih dekat.

Selain itu, kawasan ini juga menjadi titik temu berbagai komunitas kreatif mulai dari fotografer, pelaku UMKM, hingga seniman jalanan. Banyak yang memanfaatkan momen ini untuk berkarya sekaligus membangun jaringan.

Fenomena “nongkrong estetik” yang sering muncul di media sosial seperti Instagram dan TikTok juga turut mendorong popularitas Ngarsopuro. Visual lampu jalan, keramaian santai, dan alunan musik live menjadi konten yang mudah menarik perhatian.

Menariknya, konsep jazz jalanan ini juga lebih inklusif. Tidak ada tiket masuk, sehingga siapa pun bisa menikmati. Hal ini membuat ruang publik terasa lebih demokratis dan hidup.

Pada sisi ekonomi, kehadiran event seperti Jazz Triwindu juga berdampak pada pelaku usaha kecil di sekitar lokasi. Pedagang makanan, minuman, hingga produk kreatif ikut merasakan peningkatan pengunjung.

Dengan demikian, Ngarsopuro tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga ekosistem kecil yang mempertemukan seni, ekonomi, dan komunitas.

Dan bagi banyak Gen Z Solo, mungkin inilah “pelarian” yang mereka cari, bukan untuk pergi jauh, tetapi untuk merasa dekat, setidaknya untuk satu malam di awal pekan. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Jazz Triwindu #Gen Z #tempat nongkrong #kesenian