Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Tips Hidup Slow Living ala Markesot dalam Karya Emha Ainun Nadjib (Markesot Belajar Ngaji)

Laila Zakiya • Senin, 20 April 2026 | 14:45 WIB
Cover Buku Markesot Belajar Ngaji (Perpus Instiper Jogja)
Cover Buku Markesot Belajar Ngaji (Perpus Instiper Jogja)

 

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah tren self-care yang semakin ramai di media sosial, banyak orang berlomba lomba mencari cara untuk “healing”.

Mulai dari staycation, journaling estetik, hingga detoks digital.

Namun di balik itu, muncul pertanyaan sederhana: apakah semua itu benar benar menyembuhkan, atau justru jadi bentuk baru dari rasa kelelahan?

Di tengah riuhnya tren tersebut, sosok Markesot hadir dengan cara yang berbeda.

Tokoh ini dikenal melalui buku Markesot Belajar Ngaji karya Emha Ainun Nadjib.

Dalam kumpulan esai tersebut, Markesot digambarkan sebagai sosok sederhana yang melihat dunia dengan cara yang terbalik, namun justru terasa masuk akal.

Alih alih mengikuti arus, Markesot memilih berjalan pelan. Ia tidak sibuk mengejar pengakuan, tidak juga terjebak dalam standar yang ditentukan orang lain.

Baca Juga: Bukan Kisah Kekuasaan Firaun, Lee Cronin Mengubah Mumi Mesir Menjadi Kutukan yang Meneror Keluarga di Amerika

Cara pandangnya sering kali sederhana, bahkan terkesan santai, namun menyimpan kedalaman refleksi.

Bahagia itu tidak ribut, tidak perlu diumumkan.”

Kalimat ini rasa rasanya kontras dengan kondisi hari ini. Era di mana hampir setiap momen dibagikan ke media sosial seperti Instagram dan TikTok, kebahagiaan sering kali diukur dari seberapa banyak yang melihat dan merespons.

Peristiwa ini berkaitan erat dengan isu kesehatan mental.

Banyak anak muda merasa tertekan karena harus terus tampil baik baik saja di ruang digital. Filter tidak hanya digunakan untuk wajah, tetapi juga untuk menutupi kehidupan itu sendiri.

Dalam konteks ini, Markesot menawarkan pendekatan yang berbeda.

Ia tidak berbicara tentang self-care dalam bentuk tren, akan tetapi melalui hal sederhana seperti penerimaan, kerendahan hati, dan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri.

Humor menjadi salah satu cara Markesot menghadapi kehidupan. Bukan untuk menghindari masalah, tetapi untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih ringan dan santai. Dari situ, muncul ruang untuk bernapas di tengah tekanan sedang melintas.

Baca Juga: Sepi Peminat tapi Banjir Cuan! 3 Jurusan Kuliah Ini Punya Prospek Gaji Selangit, Punya Peluang Kerja Luas

Gaya hidup slow living yang kini mulai banyak dibicarakan sebenarnya sejalan dengan cara hidup Markesot.

Dengan fokus pada hal hal sederhana, tidak terburu buru, dan tidak selalu merasa harus mengikuti ritme dunia yang begitu cepat.

Menurut laporan dari World Health Organization, tekanan mental di kalangan anak muda meningkat seiring dengan intensitas penggunaan media sosial dan tuntutan sosial yang tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk melambat bukan sekadar tren, tetapi sebuah kenyataan.

Markesot mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dikejar. Ada kalanya seseorang perlu berhenti, melihat sekitar, dan menerima bahwa hidup yang bermakna tidak selalu harus spektakuler.

Melalui Markesot Belajar Ngaji, pembaca diajak untuk melihat ulang apa itu bahagia. Bukan dari apa yang dimiliki atau ditampilkan, tetapi dari bagaimana seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri.

Di tengah dunia yang serba cepat, mungkin menjadi lambat justru sebuah keberanian. Dan seperti yang ditunjukkan Markesot bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan cara lain untuk menemukan ketenangan.

Dengan demikian, slow living ala Markesot bukan sekadar gaya hidup, akan tetapi cara pandang. Sebuah ajakan untuk tidak selalu ikut berlari, dan mulai menikmati langkah dengan tenang, tanpa harus kehilangan arah pandang.   

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Markesot Belajar Ngaji #Slow Living #sinopsis #novel