SOLOBALAPAN.COM - Pramoedya Ananta Toer atau yang akrab disapa Pram, masih sering hadir di telinga banyak orang dalam berbagai diskusi literasi hari ini.
Di tengah maraknya bacaan populer, karya - karya Pram masih tetap ramai peminat, terutama di kalangan mahasiswa yang mulai mencari bacaan dengan kedalaman makna.
Salah satu karya yang paling sering dibicarakan adalah rangkaian novel yang dikenal sebagai Tetralogi Buru.
Karya ini terdiri dari Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).
Tetralogi ini tidak lahir dari situasi yang biasa. Pram menuliskannya saat berada dalam pengasingan di Pulau Buru pada masa Orde Baru.
Dalam kondisi serba terbatas dan bahkan tanpa akses bebas terhadap alat tulis pada awal pengasingannya, alhasil ia mulai merangkai cerita secara lisan sebelum akhirnya dituliskan.
Dari keterbatasan itulah, lahir karya yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam sastra Indonesia modern.
Melalui tokoh Minke, Pram mengajak pembaca melihat realitas Hindia Belanda dari sudut pandang pribumi terdidik.
Bumi Manusia menjadi pintu awal yang memperkenalkan pembaca pada persoalan identitas, pendidikan, dan ketimpangan sosial.
Ceritanya mengalir ringan, tetapi menyimpan banyak lapisan makna yang bisa direnungkan.
Cerita kemudian berkembang dalam karya yang berjudul Anak Semua Bangsa, ketika Minke mulai melihat dunia yang lebih luas.
Tidak lagi hanya soal kehidupan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana sistem kolonial bekerja dan memengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
Memasuki Jejak Langkah, arah cerita mulai bergeser ke ranah pergerakan.
Minke tidak hanya memahami realitas, tetapi mulai mencoba untuk mengambil sikap. Organisasi, tulisan, dan kesadaran kolektif menjadi bagian penting dalam perjalanan tokoh ini.
Baca Juga: Pantai Gading Purba Wonogiri, Sensasi “Pantai” Unik di Tengah Waduk
Sementara pada karya tetralogi yang terakhir, Rumah Kaca menghadirkan sudut pandang yang berbeda.
Kisah tidak lagi diceritakan dari Minke, melainkan dari aparat kolonial yang mengawasi pergerakan pribumi. Dari sini, pembaca diajak melihat bagaimana kekuasaan bekerja dalam mengontrol pikiran dan tindakan.
Meski berlatar sejarah, apa yang ditulis Pram terasa tidak jauh dari kehidupan hari ini.
Isu tentang ketidakadilan, kekuasaan, hingga pencarian identitas masih menjadi bagian dari realitas yang dihadapi banyak orang, termasuk generasi muda.
Di tengah arus informasi yang cepat dan serba instan, karya Pram menawarkan pengalaman membaca yang berbeda.
Bahasanya mengalir dan relatif ringan, tetapi tetap menyimpan bobot pemikiran yang kuat. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti cerita, tetapi juga memahami konteks sosial yang melatarbelakanginya.
Bagi sebagian mahasiswa, membaca Tetralogi Buru bukan sekadar menikmati karya sastra, tetapi juga menjadi cara untuk memahami sejarah dan melihat realitas dengan sudut pandang yang lebih luas.
Dengan demikian, karya karya Pram tidak hanya bertahan sebagai bagian dari sastra klasik, tetapi juga terus hidup sebagai bacaan yang tetap relevan. (Arp/lz)
Editor : Laila Zakiya