Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kenapa Kembali Viral? Buku Berani Tidak Disukai: Seruan untuk Hidup Autentik Tanpa Beban Penilaian Orang Lain, Kunci Psikologi Adlerian

Damianus Bram • Rabu, 3 Desember 2025 | 01:40 WIB
Buku Berani Tidak Disukai.
Buku Berani Tidak Disukai.

SOLOBALAPAN.COM - Hidup di era serba cepat, di mana ekspektasi sosial, komentar warganet, dan tuntutan untuk selalu terlihat sempurna menjebak banyak orang.

Di tengah tekanan itu, buku "Berani Tidak Disukai" karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga kembali mencuri perhatian publik Indonesia.

Buku ini disebut-sebut membantu banyak orang memahami cara hidup yang lebih ringan dan autentik.

Dirilis dalam format dialog antara seorang filsuf dan seorang pemuda, buku ini terasa seperti percakapan intim yang menuntun pembaca menata ulang cara mereka memandang diri sendiri.

Dengan sentuhan Psikologi Adlerian, "Berani Tidak Disukai" mencoba mengajak kita untuk berani menjalani hidup tanpa harus takut akan penilaian dari siapa pun.

Format Dialog yang Ringan dan Relevan untuk Gen Z

Hal menarik dari buku ini adalah penyampaiannya yang tidak berbentuk teori panjang.

Penulis memilih gaya percakapan dua tokoh—sang filsuf yang tenang dan si pemuda yang penuh pertanyaan.

Format ini membuat pembaca merasa tidak sendirian, karena kegelisahan si pemuda sangat dekat dengan kegelisahan yang banyak dialami orang masa kini.

Fenomena naik daunnya kembali "Berani Tidak Disukai" bukan hal yang kebetulan.

Ini didorong oleh meningkatnya keletihan sosial di masa ketika semua hal bisa dinilai, dan adanya pengakuan dari banyak figur publik yang merasa tercerahkan setelah membaca buku ini.

Empat Pokok Pemikiran Utama Psikologi Adlerian

Walaupun dikemas secara santai, buku ini menyimpan empat gagasan inti yang kuat dan membentuk kerangka pikir seluruh isi buku:

1. Masa lalu bukan penjara: Kita tidak harus membiarkan pengalaman buruk mendikte hidup selamanya. Setiap orang punya ruang untuk menentukan arah baru.

2. Banyak persoalan hidup berakar pada relasi: Ekspektasi, kecemburuan, dan kebutuhan untuk diterima sering kali menjadi sumber kegelisahan terbesar dalam hubungan antarmanusia.

3. Kebahagiaan tidak datang dari pengakuan orang lain: Buku ini mendorong pembaca berhenti mengejar validasi. Kita tidak diwajibkan untuk disukai semua orang, dan itu bukan masalah.

4. Fokus pada tujuan hidup kita sendiri: Hidup tidak harus dibandingkan. Kuncinya adalah tahu apa yang menjadi tugas kita dan menjalankannya tanpa terpengaruh oleh penilaian luar.

Inti dari semuanya adalah keberanian untuk autentik, meskipun itu berarti kita harus siap tidak disukai sebagian orang.

Respons Pembaca: Lega Sekaligus Tersentil

Relevansi pesan buku ini sangat cocok untuk Era Media Sosial yang penuh tekanan digital.

Banyak pembaca yang selama ini hidup dengan kecemasan sosial menemukan perspektif baru bahwa kebebasan justru hadir ketika berani melepaskan hal-hal yang sebenarnya bukan tugas hidup kita.

Banyak pembaca mengaku mendapat dua sensasi saat membaca buku ini: merasa dihibur sekaligus ditampar halus.

Di satu sisi, buku ini memberikan rasa lega bahwa menjadi diri sendiri itu sah-sah saja.

Di sisi lain, ia juga menyadarkan bahwa banyak masalah hidup muncul karena kita terlalu sibuk ingin diterima semua orang. (mg2/dam)

Editor : Damianus Bram
#Ichiro Kishimi #buku #Ekspektasi Sosial #Fumitake Koga #berani tidak disukai