Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kenapa Kita Justru Suka Sama Orang yang Cuek? Ini Jawaban Ilmiahnya!

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 12 November 2025 | 19:05 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

SOLOBALAPAN.COM – Pernah nggak sih kamu merasa semakin seseorang menjauh, justru makin pengin ngejar dia?

Tenang, kamu nggak sendirian. Fenomena “jatuh cinta sama yang cuek” ini ternyata bukan cuma drama percintaan ala film romantis — tapi ada penjelasan ilmiah di baliknya.

Menurut peneliti yang dijelaskan lewat kanal YouTube Psych2Go (12/11/2025), rasa tertarik seperti itu sebenarnya berasal dari reaksi kimia di otak, bukan karena cinta sejati.

Otak sering keliru membaca sinyal antara rasa ingin memiliki dan rasa cinta yang sebenarnya.

Baca Juga: BREAKING NEWS! Gusti Purbaya Akan Dinobatkan sebagai Raja Keraton Solo PB XIV Sabtu 15 November, Surat Undangan Resmi Tersebar


1. ???? Otak Sering Salah Tafsir Antara “Suka” dan “Cinta”

Saat kita tertarik sama seseorang, otak memproduksi dopamin, hormon yang bikin kita semangat dan bahagia. Tapi uniknya, dopamin ini muncul bukan karena kita punya seseorang, tapi karena kita mengejar sesuatu yang kita inginkan.

Makanya, banyak orang merasa euforianya hilang setelah cintanya terbalas — karena misi sudah selesai, dopamin pun turun.


2. ???? Efek “Hal Baru Itu Selalu Menarik”

Otak manusia suka hal-hal baru karena setiap pengalaman baru memicu lonjakan dopamin.
Itulah kenapa fase awal PDKT terasa seru banget — deg-degan, penasaran, dan penuh gairah.

Baca Juga: Mimpi Terkubur Uganda! Nova Arianto Minta Maaf Usai Timnas Indonesia U-17 Gugur, Pesan ke Pemain: Naik Kelas dan Jangan Berhenti

Tapi setelah hubungan berjalan stabil, kadar dopamin menurun dan digantikan oleh serotonin, hormon yang bikin tenang dan nyaman.

Sayangnya, banyak orang salah kaprah: mengira rasa tenang itu tanda cinta mulai pudar, padahal justru otak sedang masuk fase ikatan emosional yang lebih dalam.


3. ???? Yang Sulit Didapat, Terasa Lebih Berharga

Baca Juga: Gagal Lolos Knockout Piala Dunia U-17! Timnas Indonesia Tersingkir di Peringkat 10, Ini 32 Negara yang Melaju

Kalau seseorang terlihat susah didekati, otak kita langsung menandainya sebagai “langka” dan “bernilai tinggi.”

Efek psikologis ini disebut scarcity effect — semakin susah didapat, semakin tinggi nilai emosionalnya. Akibatnya, kita makin termotivasi untuk mengejar, bahkan ketika hubungan itu sebenarnya nggak realistis.


4. ???? Kenangan Bikin Kita Salah Ingat

Setelah hubungan selesai, otak sering kali “mengedit” kenangan jadi terasa lebih indah dari kenyataannya.

Kita pikir dulu sangat mencintai seseorang, padahal mungkin yang dirasakan hanya rasa penasaran sementara.
Inilah alasan kenapa move on terasa susah — karena otak sedang berusaha memberi makna pada perasaan yang dulu membingungkan.


5. ???? Cinta Sejati Itu Tenang, Bukan Bikin Cemas

Baca Juga: Gus Elham Minta Maaf Setelah Video Cium Anak Perempuan Viral di Medsos! Berikut Profil Singkat Ulama Muda Asal Kediri

Hubungan yang sehat justru nggak selalu dipenuhi drama atau ledakan emosi.
Menurut psikolog, cinta sejati lebih banyak melibatkan oksitosin, hormon yang mengatur rasa percaya dan keintiman.
Kalau hubunganmu terasa damai dan stabil, itu bukan tanda bosan — tapi tanda kamu sudah dewasa secara emosional.


???? Kesimpulan

Jadi, kalau kamu pernah jatuh cinta sama orang yang nggak ngebales perasaanmu, itu bukan kelemahan.
Itu cuma bukti betapa rumitnya cara kerja otak manusia. Kadang, kita lebih menikmati proses mengejar daripada benar-benar mendapatkan seseorang.
Pada akhirnya, cinta sejati bukan soal siapa yang paling susah diraih, tapi siapa yang membuatmu merasa tenang tanpa perlu berjuang sendirian. (an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#ikatan emosional #jatuh cinta #psikolog #penjelasan ilmiah