SOLOBALAPAN.COM — Perjalanan Mesa Hira di panggung Indonesian Idol XIII tampak cemerlang.
Bersama dua finalis lainnya, Shabrina Leonita dan Fajar Noor, Mesa berhasil menembus jajaran Top 3 dan semakin dekat menuju gelar juara.
Namun di tengah euforia tersebut, nama Mesa Idol justru terseret dalam kontroversi.
Seorang pengguna TikTok bernama Dessy Paramita melontarkan tuduhan mengejutkan yang menyebut Mesa sebagai "anak titipan" dalam ajang pencarian bakat itu.
"Netizen coba cari tahu keluarga Mesa deh, nanti kalian bakalan paham kenapa dia masih stay sampai top 3," tulis Dessy lewat akun @dessyparamitaaa pada 2 Mei 2025.
Ia bahkan menambahkan, "Kompetisi apapun selama di Indonesia, akan selalu ada 'anak titipan'."
Yang membuat tudingan ini semakin disorot, Dessy Paramita menyematkan status sebagai Puteri Indonesia Kalimantan Tengah 2024 dan model runway dalam bio TikTok miliknya.
Statusnya sebagai publik figur justru memicu reaksi keras dari publik yang menilai komentarnya tidak etis dan merusak citra ajang Puteri Indonesia.
Namun, Dessy bersikukuh bahwa ucapannya adalah bentuk keberanian menyampaikan opini.
Ia menyebut dirinya menjalankan prinsip B4 yang biasa digaungkan dalam dunia pageant: Brain, Beauty, Behavior, Brave.
"Ini salah satu bentuk brave yaitu mengemukakan pendapat dan fakta yang ada di lapangan," tulisnya lagi.
Pasca pernyataan tersebut viral, akun media sosial Dessy segera diprivat. Namun badai hujatan tetap tak terbendung.
Tagar dan komentar yang membela Mesa bermunculan di berbagai platform.
Warganet kemudian membandingkan tudingan tersebut dengan latar belakang Mesa yang justru menyentuh.
Mesa diketahui sudah menjadi anak yatim sejak berusia tiga bulan.
Dalam perjalanannya, ia berjuang keras untuk pendidikan, bahkan sempat kesulitan kuliah karena keterbatasan biaya.
"Mesa ini yatim dari umur 3 bulan, mau kuliah juga nggak bisa karena GA ADA BIAYA. Anaknya pontang-panting nyari beasiswa sana-sini biar bisa lanjut kuliah.
Pernah dihina karena bajunya nggak ganti-ganti di Idolyfe," tulis salah satu akun pendukung Mesa.
Tudingan "anak titipan" pun dianggap tidak hanya tak berdasar, tapi juga menyakitkan bagi seseorang yang sudah berjuang dari nol tanpa privilege.
Kasus ini mencerminkan betapa pentingnya berhati-hati dalam menyampaikan opini di ruang publik, terutama bagi figur publik seperti Puteri Indonesia.
Alih-alih menginspirasi, komentar yang sembrono justru bisa menjadi bumerang bagi reputasi sendiri dan menyakiti perjuangan orang lain yang tulus. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo