Mengenal Kepel, Buah Langka yang Menyimpan Sejarah di Tanah Jawa

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 13:01 WIB
Buah Kepel dan Dan keunikan daunnya ( Sumber : DINAS KEBUDAYAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)
Buah Kepel dan Dan keunikan daunnya.

SOLOBALAPAN.COM — Buah kepel yang tumbuh langsung di batang pohon, tetapi keunikannya tak berhenti di sana. Buah yang dahulu lekat dengan tradisi keraton Jawa ini semakin jarang ditemukan. Kepel (Stelechocarpus burahol) memiliki daging jingga dengan rasa manis dan aroma harum, sementara daun mudanya dapat berwarna kemerahan hingga merah muda sebelum berubah hijau.

Kepel ditetapkan sebagai flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 385/KPTS/1992. Tanaman ini juga memiliki tempat dalam lingkungan Keraton Yogyakarta dan dikenal sebagai bagian dari tradisi keraton Jawa.

Baca Juga: Ciplukan, Buah Kecil yang Tumbuh dalam Kelopak Mirip Kantong

Pada masa lalu, buah kepel dikenal dekat dengan kehidupan para putri keraton. Dinas Kebudayaan DIY mencatat buah ini digunakan dalam perawatan tubuh karena aromanya yang khas dan dipercaya membantu menjaga keharuman tubuh. Kepel juga memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan dalam lingkungan Keraton Yogyakarta.

Keterkaitan kepel dengan keraton tidak terlepas dari sejarah kebudayaan Jawa yang berkembang di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Meski keduanya berkembang dengan tradisi masing-masing, keduanya merupakan bagian dari sejarah panjang kebudayaan Mataram.

Baca Juga: Ampuh Atasi Infeksi Saluran Kemih, Ini Rahasia Kebaikan Buah Cranberry

Kini, kepel tidak hanya ditemukan di lingkungan keraton. Salah satunya tumbuh di halaman rumah Virgiawan Rizal Prasetyo. Ia mengaku sudah melihat pohon tersebut sejak lahir dan memperkirakan tanaman itu telah berusia sekitar 80 tahun.

“Sejak saya lahir pohon itu sudah tumbuh besar di halaman rumah. Perkiraan saya awalnya ditanam oleh mbah buyut saya,” ujar Virgiawan.

Dahulu, pekarangan rumah keluarganya juga dipenuhi berbagai tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat herbal dan dikenal warga sekitar sebagai “apotik hidup”.

Baca Juga: Opak Gambir, Kue Kering Renyah Khas Blitar yang Sudah Ada sejak 1980

Virgiawan mengaku jarang mengonsumsi buah kepel, tetapi masih mengingat rasa dan aromanya. “Jujur, saya jarang makan buah kepel. Tapi seingat saya rasanya manis dan baunya harum,” katanya.

Selain buah, daun kepel juga masih dimanfaatkan warga sekitar. Menurut Virgiawan, sejumlah warga kerap meminta daunnya untuk digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional.

“Banyak warga sering meminta daun kepelnya. Kebanyakan alasannya untuk mengobati asam urat,” tuturnya.

Bagi Virgiawan, mempertahankan pohon tersebut juga berkaitan dengan nilai sejarah keluarga. Pohon yang telah puluhan tahun tumbuh di pekarangan itu dianggap sayang jika ditebang.

“Karena manfaatnya banyak, baik untuk saya dan keluarga maupun masyarakat sekitar. Pohon ini juga sudah lama hidup di pekarangan rumah, jadi eman kalau ditebang,” ujarnya.

Menurutnya, pengetahuan mengenai kepel kini lebih banyak dimiliki masyarakat tua sehingga generasi muda perlu dikenalkan kembali dengan tanaman tersebut.

“Sekarang sebenarnya sudah banyak masyarakat umum yang punya pohon kepel. Sayangnya, yang mengetahui manfaat dan sejarahnya kebanyakan kalangan tua,” katanya.

Ia berharap pengenalan kepel dapat dilakukan melalui edukasi, sosialisasi, hingga inovasi produk berbahan dasar kepel agar tanaman yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi Jawa tersebut tetap dikenal generasi berikutnya.

Dari lingkungan keraton hingga pekarangan warga, kepel menjadi bagian dari perjalanan budaya Jawa. Keberadaan pohon yang masih bertahan selama puluhan tahun menunjukkan bahwa jejak sejarah buah ini belum sepenuhnya hilang. (Nurul Fadila)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
Pohon kepel buah langka Nurul Fadila sejarah pohon kepel Keunikan Pohon Buah Kepel