SOLOBALAPAN.COM – Cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering masih mewarnai sejumlah wilayah Indonesia pada September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga dasarian I September.
Kondisi tersebut juga ditandai dengan banyaknya wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam waktu panjang. Dalam prakiraan cuaca periode 15–21 September 2026, BMKG mencatat 1.637 titik mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem atau lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi dampak kondisi panas dan udara yang lebih kering, termasuk dengan menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi orang yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Baca Juga: Kandungan Nutrisi Jamur: Ada Vitamin D Hingga Antioksidan Penangkal Radikal Bebas
Lantas, bagaimana cara menjaga tubuh tetap terhidrasi ketika cuaca sedang panas dan kering?
Jangan Menunggu Haus untuk Minum
Salah satu kebiasaan yang dapat dilakukan adalah minum secara berkala sepanjang hari. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan membawa botol minum dan mengisinya kembali secara berkala agar kebutuhan cairan lebih mudah terpenuhi ketika cuaca panas.
Minum secara teratur juga membantu mencegah seseorang baru mengonsumsi banyak cairan setelah merasa sangat haus. Kebutuhan cairan setiap orang memang dapat berbeda, terutama berdasarkan aktivitas, kondisi lingkungan, usia, dan kondisi kesehatan.
Bawa Botol Air Saat Beraktivitas
Cuaca panas sering membuat seseorang lebih banyak berkeringat, terutama ketika melakukan aktivitas fisik atau bekerja di luar ruangan. Membawa botol air dapat menjadi cara sederhana agar minuman selalu tersedia dan seseorang tidak perlu menunggu menemukan tempat untuk membeli air.
Baca Juga: Kaya Antioksidan dan Vitamin C, Buah Kelengkeng Bantu Tingkatkan Imun Dan Bikin Kulit Sehat
CDC juga menyarankan membawa air minum ketika berada dalam kondisi panas. Selain membantu memenuhi kebutuhan cairan, kebiasaan tersebut membuat seseorang lebih mudah memantau seberapa sering dirinya minum sepanjang hari.
Perhatikan Warna Urine
Salah satu cara sederhana untuk memperhatikan status hidrasi adalah melihat warna urine. CDC menyebut urine yang berwarna kuning muda atau bening biasanya menunjukkan bahwa asupan air sudah cukup.
Sebaliknya, perubahan warna urine menjadi lebih pekat dapat menjadi salah satu tanda bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak cairan. Meski demikian, warna urine juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain sehingga tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya ukuran kondisi tubuh.
Pilih Air Putih sebagai Minuman Utama
Saat cuaca panas, minuman dingin atau manis memang bisa terasa lebih menyegarkan. Namun, air putih tetap dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan.
WHO menyarankan minum air secara teratur ketika cuaca panas dan menghindari atau membatasi minuman yang tinggi gula, alkohol, maupun kafein.
Bukan berarti setiap minuman berkafein harus otomatis dihindari, tetapi menjadikan air sebagai sumber cairan utama dapat membantu menjaga asupan tetap sederhana, terutama ketika tubuh sedang menghadapi kondisi panas.
Baca Juga: Mengenal Sea Moss Gel, Superfood Viral Kaya Nutrisi Untuk Kesehatan Tubuh Dan Kulit
Jangan Hanya Fokus pada Minum
Menjaga hidrasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah air yang diminum. Ketika cuaca sangat panas, tubuh juga perlu dibantu agar tidak terlalu banyak kehilangan cairan melalui keringat.
WHO menyarankan menggunakan pakaian yang ringan dan longgar, mengurangi aktivitas berat pada waktu terpanas, serta mencari tempat yang lebih sejuk. Mandi atau membasahi tubuh dengan air sejuk juga dapat membantu menjaga tubuh tetap dingin.
Karena itu, orang yang harus beraktivitas di luar ruangan sebaiknya mengatur waktu dan intensitas kegiatan ketika kondisi panas sedang tinggi. Berteduh secara berkala juga dapat membantu mengurangi paparan panas langsung.
Kenali Tanda Tubuh Mulai Kepanasan
Dehidrasi dan paparan panas yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai keluhan. CDC mencantumkan gejala seperti kram otot, keringat berlebihan, pusing, sakit kepala, lemas, mual, dan sesak napas sebagai tanda tubuh mulai mengalami masalah akibat panas.
Jika seseorang mengalami kulit panas dan kering, kebingungan, kejang, atau kehilangan kesadaran, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera. WHO memasukkan gejala tersebut sebagai tanda yang dapat berkaitan dengan kondisi panas serius.
Musim kemarau memang tidak selalu berarti setiap daerah mengalami suhu ekstrem setiap hari. Namun, dengan kondisi kering yang masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, membawa air minum, minum secara berkala, mengurangi paparan panas langsung, dan memperhatikan kondisi tubuh menjadi kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : BMKG, Berbagai Sumber