Hobi Minum Manis? Waspadai Diabetes dan Hipertensi yang Bisa Mengganggu Fungsi Ginjal

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:24 WIB
Konsumsi gula berlebihan tidak langsung merusak ginjal, tetapi dapat meningkatkan risiko diabetes dan hipertensi yang menjadi faktor penyakit ginjal kronis. (Dok JP)
Konsumsi gula berlebihan tidak langsung merusak ginjal, tetapi dapat meningkatkan risiko diabetes dan hipertensi yang menjadi faktor penyakit ginjal kronis. (Dok JP)
SOLOBALAPAN.COM – Makanan dan minuman manis memang tidak secara langsung membuat ginjal rusak. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko sejumlah kondisi yang berhubungan dengan penyakit ginjal, terutama obesitas, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi.

Makanan dan minuman manis sendiri menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari banyak orang. Mulai dari minuman kemasan, kopi kekinian, teh manis, hingga berbagai makanan olahan mengandung gula tambahan.

Masalahnya, asupan gula yang terlalu tinggi jika berlangsung terus-menerus dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan gangguan kadar gula darah. Jika berkembang menjadi diabetes dan tidak terkontrol, kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah serta sistem penyaringan ginjal.

Kerusakan ginjal juga sering berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, penyakit ginjal kronis bahkan dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas.

Bagaimana Gula Berhubungan dengan Kerusakan Ginjal?

Salah satu jalur yang paling penting adalah melalui diabetes.

Kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan ginjal dalam menyaring darah dan pada akhirnya menyebabkan penyakit ginjal diabetik (nefropati diabetik).

Selain diabetes, tekanan darah tinggi juga menjadi faktor penting. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah ginjal secara bertahap sehingga fungsi ginjal menurun.

Karena itu, konsumsi gula berlebihan lebih tepat dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko melalui berbagai gangguan metabolisme, bukan sebagai penyebab langsung kerusakan ginjal pada setiap orang.

Baca Juga: Lowongan KAI 2026 Dibuka, Cek Formasi, Syarat, dan Cara Daftarnya

Faktor Lain yang Bisa Memicu Penyakit Ginjal

Kerusakan ginjal tidak hanya berkaitan dengan konsumsi gula. Sejumlah faktor lain juga dapat meningkatkan risikonya, antara lain:

Dengan demikian, menjaga kesehatan ginjal membutuhkan pendekatan menyeluruh, bukan hanya mengurangi gula.

Waspadai Tanda-Tanda Gangguan Ginjal

Penyakit ginjal kronis pada tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan yang khas. Namun, beberapa perubahan berikut patut diperhatikan:

Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit ginjal karena dapat disebabkan berbagai kondisi lain. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Berapa Batas Konsumsi Gula dalam Sehari?

Baca Juga: Penanganan Darurat Keracunan MBG Sidoarjo: Pemkab Siagakan 3 Rumah Sakit dan Evaluasi SPPG

Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan batas konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari.

Batas tersebut mencakup konsumsi gula dari makanan dan minuman sehari-hari. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kandungan gula pada produk kemasan, bukan hanya gula yang ditambahkan sendiri ke dalam makanan atau minuman.

Mengurangi minuman manis, membatasi makanan tinggi gula, memperbanyak makanan bergizi seimbang, menjaga berat badan, rutin beraktivitas fisik, dan mencukupi kebutuhan air dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh sekaligus menurunkan berbagai faktor risiko penyakit ginjal.

Bagi orang yang memiliki diabetes atau hipertensi, mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah juga sangat penting untuk membantu melindungi fungsi ginjal dalam jangka panjang. (cindy amelia putri).

 

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
cindy amelia putri ginjal konsumsi penyebab gula