Makanan dan minuman manis sendiri menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari banyak orang. Mulai dari minuman kemasan, kopi kekinian, teh manis, hingga berbagai makanan olahan mengandung gula tambahan.
Masalahnya, asupan gula yang terlalu tinggi jika berlangsung terus-menerus dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan gangguan kadar gula darah. Jika berkembang menjadi diabetes dan tidak terkontrol, kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah serta sistem penyaringan ginjal.
Kerusakan ginjal juga sering berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, penyakit ginjal kronis bahkan dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Bagaimana Gula Berhubungan dengan Kerusakan Ginjal?
Salah satu jalur yang paling penting adalah melalui diabetes.
Kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan ginjal dalam menyaring darah dan pada akhirnya menyebabkan penyakit ginjal diabetik (nefropati diabetik).
Selain diabetes, tekanan darah tinggi juga menjadi faktor penting. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah ginjal secara bertahap sehingga fungsi ginjal menurun.
Karena itu, konsumsi gula berlebihan lebih tepat dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko melalui berbagai gangguan metabolisme, bukan sebagai penyebab langsung kerusakan ginjal pada setiap orang.
Baca Juga: Lowongan KAI 2026 Dibuka, Cek Formasi, Syarat, dan Cara Daftarnya
Faktor Lain yang Bisa Memicu Penyakit Ginjal
Kerusakan ginjal tidak hanya berkaitan dengan konsumsi gula. Sejumlah faktor lain juga dapat meningkatkan risikonya, antara lain:
- Diabetes yang tidak terkontrol.
- Tekanan darah tinggi.
- Obesitas atau berat badan berlebih.
- Pola makan yang tidak sehat, termasuk konsumsi garam berlebihan.
- Kebiasaan merokok.
- Kurang aktivitas fisik.
- Penggunaan obat tertentu, terutama obat pereda nyeri tertentu secara berlebihan atau tanpa pengawasan.
- Batu dan sumbatan saluran kemih.
- Penyakit autoimun.
- Infeksi tertentu.
- Kelainan bawaan dan faktor genetik.
Dengan demikian, menjaga kesehatan ginjal membutuhkan pendekatan menyeluruh, bukan hanya mengurangi gula.
Waspadai Tanda-Tanda Gangguan Ginjal
Penyakit ginjal kronis pada tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan yang khas. Namun, beberapa perubahan berikut patut diperhatikan:
- Urin berbusa, yang dapat berkaitan dengan adanya protein dalam urine.
- Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau bagian tubuh tertentu.
- Mudah lelah atau mengalami penurunan energi.
- Perubahan frekuensi buang air kecil, termasuk lebih sering buang air kecil pada malam hari.
Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit ginjal karena dapat disebabkan berbagai kondisi lain. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Berapa Batas Konsumsi Gula dalam Sehari?
Baca Juga: Penanganan Darurat Keracunan MBG Sidoarjo: Pemkab Siagakan 3 Rumah Sakit dan Evaluasi SPPG
Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan batas konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari.
Batas tersebut mencakup konsumsi gula dari makanan dan minuman sehari-hari. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kandungan gula pada produk kemasan, bukan hanya gula yang ditambahkan sendiri ke dalam makanan atau minuman.
Mengurangi minuman manis, membatasi makanan tinggi gula, memperbanyak makanan bergizi seimbang, menjaga berat badan, rutin beraktivitas fisik, dan mencukupi kebutuhan air dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh sekaligus menurunkan berbagai faktor risiko penyakit ginjal.
Bagi orang yang memiliki diabetes atau hipertensi, mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah juga sangat penting untuk membantu melindungi fungsi ginjal dalam jangka panjang. (cindy amelia putri).
Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com