Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Google Bukan Dokter, Ini Bahaya Mendiagnosis Penyakit dari Internet

Kabun TriyatnoS
Ilustrasi Self Diagnosis. (AI Generated)
Ilustrasi Self Diagnosis. (AI Generated)
SOLOBALAPAN.COM - Di era digital, mencari informasi tentang kesehatan menjadi semudah mengetik beberapa kata di mesin pencari.

Advertisement

Ketika kepala pusing, sulit tidur, jantung berdebar, atau tubuh terasa tidak biasa, sebagian orang memilih membuka Google sebelum berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Hanya dalam hitungan detik, berbagai kemungkinan penyakit muncul di layar. 

Kebiasaan ini memang dapat membantu seseorang mengenali informasi awal mengenai kondisi tubuhnya.

Advertisement

Namun, masalah muncul ketika informasi tersebut langsung dianggap sebagai diagnosis. Padahal, memiliki gejala yang mirip dengan suatu penyakit tidak berarti seseorang benar-benar mengalami penyakit tersebut.

Advertisement

Kebiasaan menentukan kondisi kesehatan sendiri berdasarkan informasi dari internet dikenal sebagai Self-diagnosis. Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa informasi kesehatan yang ditemukan di internet, khususnya mengenai kesehatan jiwa, tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk menentukan diagnosis karena diperlukan pemeriksaan dan penilaian profesional.

Diagnosis tidak hanya ditentukan dari satu atau dua gejala, tetapi membutuhkan pemahaman mengenai riwayat kesehatan, kondisi seseorang, durasi keluhan, pemeriksaan fisik, dan dalam kondisi tertentu pemeriksaan penunjang. Karena itu, hasil pencarian internet sebaiknya dipahami sebagai informasi awal, bukan sebagai keputusan medis.

Masalah lain muncul ketika seseorang terlalu banyak mencari gejala yang dirasakan. Alih-alih mendapatkan ketenangan, pencarian tersebut justru dapat meningkatkan kecemasan. Satu keluhan bisa mengarah pada berbagai kemungkinan, mulai dari kondisi ringan hingga penyakit serius.

NHS menjelaskan bahwa kecemasan terhadap kesehatan dapat membuat seseorang terus memeriksa tubuh, mencari kepastian dari orang lain, serta berulang kali mencari informasi kesehatan di internet. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat terjebak dalam lingkaran yaitu merasakan gejala, mencari informasi, menemukan kemungkinan penyakit, menjadi cemas, kemudian kembali mencari informasi untuk memastikan keadaan dirinya.

Bukan berarti internet harus dijauhi ketika seseorang ingin mengetahui informasi kesehatan. Justru, internet dapat menjadi sarana edukasi yang sangat bermanfaat apabila digunakan dengan bijak.

WHO menganjurkan masyarakat untuk menilai siapa yang memberikan informasi, dari mana sumbernya, apakah penulis atau pembuat konten memiliki keahlian yang relevan, serta apakah informasi tersebut didukung oleh sumber yang dapat dipercaya. Artinya, persoalannya bukan terletak pada aktivitas mencari informasi, melainkan kemampuan membedakan informasi kesehatan yang kredibel dari informasi yang menyesatkan.

Risiko self-diagnosis menjadi lebih serius ketika hasil pencarian internet digunakan untuk mengambil keputusan pengobatan. Seseorang mungkin membeli obat sendiri, mengubah dosis obat, atau bahkan menghentikan pengobatan yang sebelumnya diberikan tenaga kesehatan karena menemukan informasi yang dianggap lebih sesuai di internet.

WHO menjelaskan bahwa misinformasi kesehatan dapat memengaruhi perilaku dan keputusan masyarakat, termasuk mendorong pilihan kesehatan yang berisiko. Padahal, kondisi kesehatan setiap orang berbeda sehingga penanganan yang tepat tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengalaman orang lain atau hasil pencarian di internet.

Perkembangan teknologi juga membuat kebiasaan self-diagnosis semakin luas karena masyarakat kini tidak hanya bertanya kepada mesin pencari, tetapi juga kepada kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut dapat membantu menjelaskan istilah medis dan memberikan informasi umum, tetapi tetap memiliki keterbatasan.

Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa hasil AI dapat keliru dan tidak seharusnya digunakan sebagai dasar diagnosis kesehatan. Teknologi dapat membantu seseorang memahami pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan pertimbangan tenaga kesehatan secara langsung.

Advertisement

Artikel Terkait

Mengganti Segelas Minuman Manis dengan Air Putih, Kebiasaan Sederhana yang Berdampak bagi Kesehatan

Mengganti Segelas Minuman Manis dengan Air Putih, Kebiasaan Sederhana yang Berdampak bagi Kesehatan

Kebiasaan mengonsumsi minuman manis masih cukup tinggi di Indonesia. Memilih air putih sebagai minuman utama dapat menjadi langkah awal untuk membangun pola hidup yang lebih sehat.

Baru 45 Hari Menjabat, Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Lengser akibat Masalah Kesehatan

Baru 45 Hari Menjabat, Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Lengser akibat Masalah Kesehatan

Baru 45 hari menjabat, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mengundurkan diri akibat alasan kesehatan dan ngaku trauma kelola anggaran.

Isu Haji Bolot Meninggal Dunia Beneran atau Hoaks? Andre Taulany Minta Doa, Ini Kondisi Kesehatan Terkini Sang Komedian Senior

Isu Haji Bolot Meninggal Dunia Beneran atau Hoaks? Andre Taulany Minta Doa, Ini Kondisi Kesehatan Terkini Sang Komedian Senior

Isu Haji Bolot Meninggal Dunia Beneran atau Hoaks? Andre Taulany Minta Doa, Ini Kondisi Kesehatan Terkini Sang Komedian Senior

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer