SOLOBALAPAN.COM - Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental, konsep self-care yang awalnya hadir sebagai upaya menjaga keseimbangan diri, kini mulai menghadapi tantangan baru.
Terutama ketika sebagian orang memaknainya sebagai alasan untuk selalu memprioritaskan kepentingan pribadi di atas hubungan sosial.
Fenomena tersebut terlihat ketika praktik mencintai diri sendiri bergeser menjadi pola perilaku yang menghindari kompromi, menolak kritik, atau mengabaikan kebutuhan orang lain, dengan alasan menjaga kenyamanan pribadi.
Padahal hubungan yang sehat tetap membutuhkan empati, komunikasi, dan tanggung jawab bersama.
Baca Juga: On This Day: 10 Kejadian Penting Di Tanggal 23 Agustus! Ada KMB Dan Pidato Presiden Soekarno
Para ahli psikologi menilai bahwa perhatian berlebihan terhadap diri sendiri tanpa mempertimbangkan lingkungan sosial dapat berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan individualisme dan karakter yang berpusat pada diri sendiri.
Terutama ketika penghargaan terhadap diri tidak diimbangi kemampuan membangun hubungan yang bermakna.
Dalam kajian mengenai kepribadian narsistik, penelitian menunjukkan bahwa pola hubungan yang terlalu berorientasi pada diri sendiri dapat memengaruhi kualitas relasi interpersonal karena individu cenderung mengalami kesulitan dalam memahami kebutuhan pasangan atau orang di sekitarnya.
Baca Juga: Gugur saat Jalankan Misi Kemanusiaan! Ini Sosok Ahmad Zaki Ali, Relawan yang Meninggal di NTT
Namun, penting dipahami bahwa self-care bukanlah tindakan egois karena merawat diri tetap menjadi bagian penting dari kesehatan psikologis.
Hanya saja, praktik tersebut perlu ditempatkan dalam keseimbangan agar tidak berubah menjadi pembenaran untuk menghindari perbaikan hubungan atau tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, tantangan terbesar masyarakat modern bukan memilih antara mencintai diri sendiri atau menjaga hubungan dengan orang lain.
Melainkan menemukan titik tengah bahwa kesehatan diri dan kualitas relasi dapat tumbuh secara bersamaan melalui sikap sadar, empati, dan saling menghargai.
Perubahan makna self-care di era digital juga dipengaruhi oleh budaya populer yang sering menampilkan kebahagiaan pribadi sebagai tujuan utama.
Sehingga sebagian individu dapat menganggap menjauh dari orang lain sebagai bentuk perlindungan diri, tanpa mengevaluasi dampaknya terhadap hubungan yang telah dibangun.
Baca Juga: Buntut Kericuhan Final Piala Dunia 2026! FIFA Hukum Berat Argentina, Paredes Dilarang Tampil 10 Laga
Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa bentuk kepedulian terhadap diri sendiri yang sehat justru dapat memperkuat hubungan sosial karena individu yang memiliki self-compassion cenderung lebih mampu memberikan dukungan, memahami perspektif orang lain, dan membangun hubungan yang lebih berkualitas.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa self-care bukan sekadar tentang memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga tentang menciptakan keseimbangan antara menghargai diri sendiri dan menjaga keterhubungan dengan orang lain melalui empati serta kesediaan untuk terus memperbaiki relasi. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto