Namun, di tengah tren hidup sehat, muncul fenomena lain.
Bagi sebagian pengguna, angka yang awalnya hanya menjadi informasi perlahan berubah menjadi Target yang harus ditaklukkan setiap hari.
Baca Juga: “Wacana Menahun”: Kenapa Susah Banget Konsisten Mulai Hidup Sehat?
Ketika 10.000 Langkah Menjadi Target Wajib
Bagi pengguna Smartwatch, angka di layar bisa terasa sangat menentukan.
Ketika target langkah tercapai, muncul rasa puas.
Sebaliknya, ketika angka masih jauh dari target menjelang malam, sebagian orang merasa harus terus bergerak.
Baca Juga: Meal Prep, Langkah Sederhana Menjaga Pola Makan Tetap Sehat
Jalan kaki tambahan pun dilakukan bukan karena ingin berjalan santai, melainkan karena ingin melihat angka di layar berubah.
Padahal, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh satu angka.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat. WHO juga menekankan bahwa berbagai bentuk aktivitas fisik, termasuk berjalan dan aktivitas rumah tangga, tetap dihitung sebagai aktivitas fisik.
Artinya, aktivitas fisik tidak harus selalu diterjemahkan menjadi satu target jumlah langkah tertentu.
Angka Bisa Membantu, tetapi Juga Bisa Menekan
Data dari smartwatch memang memiliki manfaat.
Seseorang yang sebelumnya tidak menyadari bahwa dirinya jarang bergerak dapat melihat pola aktivitasnya secara lebih jelas.
Baca Juga: Survival Mode Orang Indonesia: Ketika Sisa Makanan Justru Bisa Jadi Enak
Data tersebut bisa menjadi pengingat untuk bangun dari kursi, berjalan kaki, atau memperbanyak aktivitas sehari-hari.
Masalahnya muncul ketika data tersebut mulai dianggap sebagai ukuran keberhasilan diri.
Hari dengan 8.000 langkah dianggap gagal.
Hari dengan 12.000 langkah dianggap berhasil.
Padahal, tubuh tidak bekerja seperti papan skor.
Kebutuhan aktivitas seseorang dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi fisik, pekerjaan, kebiasaan, dan kemampuan masing-masing.
Ketika Istirahat Justru Menimbulkan Rasa Bersalah
Obsesi terhadap angka juga dapat mengubah cara seseorang memandang waktu istirahat.
Bayangkan seseorang sudah berolahraga cukup berat pada pagi hari.
Namun, ketika malam tiba, jumlah langkah di smartwatch masih belum mencapai target.
Alih-alih beristirahat, muncul pikiran bahwa tubuh masih harus dipaksa bergerak.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu dapat berubah menjadi sumber tekanan ketika angka dianggap sebagai kewajiban.
Bukan berarti penggunaan smartwatch menyebabkan kondisi tersebut pada semua orang.
Namun, penelitian mengenai penggunaan pelacak aktivitas menunjukkan bahwa cara seseorang memaknai angka dapat memengaruhi pengalaman psikologis dan perilakunya.
Penelitian Menunjukkan Angka Tidak Selalu Netral
Sebuah uji acak longitudinal yang meneliti fitness tracker menemukan bahwa cara seseorang memandang kecukupan aktivitas dapat memengaruhi suasana hati, perilaku, dan kesehatan, terlepas dari jumlah aktivitas sebenarnya. Peserta yang menerima informasi jumlah langkah yang dibuat lebih rendah dari kondisi sebenarnya merasa aktivitasnya lebih tidak memadai dan mengalami sejumlah perubahan negatif pada suasana hati serta kesehatan mental.
Penelitian lain yang diterbitkan di Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking juga menemukan hubungan antara penggunaan smartwatch untuk melacak olahraga secara problematik dengan perilaku makan kompensatoris pada kelompok pengguna usia kuliah.
Temuan tersebut bukan berarti smartwatch berbahaya.
Justru, penelitian tersebut menunjukkan bahwa Cara Teknologi digunakan dan bagaimana Data ditafsirkan menjadi hal yang penting.
Bukan Hanya Soal Jumlah Langkah
Salah satu kekeliruan yang mungkin terjadi adalah menganggap semakin banyak langkah berarti semakin sehat.
Padahal, aktivitas fisik memiliki banyak aspek.
Intensitas, durasi, jenis aktivitas, latihan kekuatan, waktu duduk, tidur, dan kondisi tubuh juga perlu diperhatikan.
WHO sendiri tidak menjadikan jumlah langkah harian sebagai satu-satunya ukuran aktivitas fisik.
Pedoman WHO mencakup aktivitas aerobik serta latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu bagi orang dewasa.
Karena itu, berjalan 10.000 langkah bukan satu-satunya jalan menuju tubuh yang sehat.
Jangan Sampai Smartwatch Menjadi “Bos”
Smartwatch seharusnya menjadi alat bantu.
Bukan bos yang menentukan apakah seseorang sudah cukup sehat atau belum.
Jika angka langkah membuat seseorang lebih termotivasi untuk bergerak, teknologi tersebut tentu dapat dimanfaatkan.
Tetapi jika angka yang sama justru membuat seseorang merasa bersalah ketika beristirahat, mungkin sudah waktunya mengubah cara memandang data tersebut.
Tidak semua hari harus menghasilkan angka yang sama.
Baca Juga: Dulu Pamer Barang, Kini Pamer Pace Lari dan Waktu untuk Diri Sendiri
Ada hari untuk berolahraga.
Ada hari untuk berjalan santai.
Dan ada pula hari ketika tubuh memang membutuhkan istirahat.
Sehat Tidak Harus Selalu Terlihat di Layar
Teknologi membuat kesehatan terasa semakin terukur.
Jumlah langkah bisa dihitung.
Detak jantung bisa dipantau.
Kalori bisa diperkirakan.
Durasi tidur bisa ditampilkan dalam grafik.
Namun, tidak semua hal penting tentang tubuh dapat dirangkum dalam angka.
Rasa bugar setelah berjalan.
Tidur yang terasa cukup.
Tubuh yang tidak mudah lelah.
Atau sekadar merasa lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.
Semua itu juga bagian dari kesehatan.
Pada akhirnya, smartwatch hanyalah alat.
Angka di pergelangan tangan seharusnya membantu seseorang memahami tubuhnya, bukan membuatnya terus merasa tidak cukup sehat.
Sebab hidup sehat bukan perlombaan untuk mendapatkan angka tertinggi.
Dan terkadang, kemampuan untuk berhenti dan beristirahat juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan. (Siti Putri Lestari)
Editor : Kabun Triyatno