Google Bukan Dokter, Ini Bahaya Mendiagnosis Penyakit dari Internet

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:37 WIB
Ilustrasi Self Diagnosis. (AI Generated)
Ilustrasi Self Diagnosis. (AI Generated)
SOLOBALAPAN.COM - Di era digital, mencari informasi tentang kesehatan menjadi semudah mengetik beberapa kata di mesin pencari.
Ketika kepala pusing, sulit tidur, jantung berdebar, atau tubuh terasa tidak biasa, sebagian orang memilih membuka Google sebelum berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Hanya dalam hitungan detik, berbagai kemungkinan penyakit muncul di layar. 
Kebiasaan ini memang dapat membantu seseorang mengenali informasi awal mengenai kondisi tubuhnya.
Namun, masalah muncul ketika informasi tersebut langsung dianggap sebagai diagnosis. Padahal, memiliki gejala yang mirip dengan suatu penyakit tidak berarti seseorang benar-benar mengalami penyakit tersebut.

Baca Juga: Ketika Jajanan Menjadi Pilihan: Begini Cara Memastikan Camilan Anak Tetap Aman

Kebiasaan menentukan kondisi kesehatan sendiri berdasarkan informasi dari internet dikenal sebagai Self-diagnosis. Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa informasi kesehatan yang ditemukan di internet, khususnya mengenai kesehatan jiwa, tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk menentukan diagnosis karena diperlukan pemeriksaan dan penilaian profesional.

Diagnosis tidak hanya ditentukan dari satu atau dua gejala, tetapi membutuhkan pemahaman mengenai riwayat kesehatan, kondisi seseorang, durasi keluhan, pemeriksaan fisik, dan dalam kondisi tertentu pemeriksaan penunjang. Karena itu, hasil pencarian internet sebaiknya dipahami sebagai informasi awal, bukan sebagai keputusan medis.

Baca Juga: KESEHATAN : Usia Bertambah, Tubuh Tetap Bugar: Pentingnya Rutin Senam

Masalah lain muncul ketika seseorang terlalu banyak mencari gejala yang dirasakan. Alih-alih mendapatkan ketenangan, pencarian tersebut justru dapat meningkatkan kecemasan. Satu keluhan bisa mengarah pada berbagai kemungkinan, mulai dari kondisi ringan hingga penyakit serius.

NHS menjelaskan bahwa kecemasan terhadap kesehatan dapat membuat seseorang terus memeriksa tubuh, mencari kepastian dari orang lain, serta berulang kali mencari informasi kesehatan di internet. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat terjebak dalam lingkaran yaitu merasakan gejala, mencari informasi, menemukan kemungkinan penyakit, menjadi cemas, kemudian kembali mencari informasi untuk memastikan keadaan dirinya.

Baca Juga: Unggah Video Antar Anak Sekolah Pakai Motor, Pajak Kendaraan Wali Kota Solo Respati Ardi Malah Disorot Netizen

Bukan berarti internet harus dijauhi ketika seseorang ingin mengetahui informasi kesehatan. Justru, internet dapat menjadi sarana edukasi yang sangat bermanfaat apabila digunakan dengan bijak.

WHO menganjurkan masyarakat untuk menilai siapa yang memberikan informasi, dari mana sumbernya, apakah penulis atau pembuat konten memiliki keahlian yang relevan, serta apakah informasi tersebut didukung oleh sumber yang dapat dipercaya. Artinya, persoalannya bukan terletak pada aktivitas mencari informasi, melainkan kemampuan membedakan informasi kesehatan yang kredibel dari informasi yang menyesatkan.

Baca Juga: Bukan Bangunan Biasa, Ini Fungsi Rumah Sinyal dalam Mengatur Perjalanan Kereta

Risiko self-diagnosis menjadi lebih serius ketika hasil pencarian internet digunakan untuk mengambil keputusan pengobatan. Seseorang mungkin membeli obat sendiri, mengubah dosis obat, atau bahkan menghentikan pengobatan yang sebelumnya diberikan tenaga kesehatan karena menemukan informasi yang dianggap lebih sesuai di internet.

WHO menjelaskan bahwa misinformasi kesehatan dapat memengaruhi perilaku dan keputusan masyarakat, termasuk mendorong pilihan kesehatan yang berisiko. Padahal, kondisi kesehatan setiap orang berbeda sehingga penanganan yang tepat tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengalaman orang lain atau hasil pencarian di internet.

Perkembangan teknologi juga membuat kebiasaan self-diagnosis semakin luas karena masyarakat kini tidak hanya bertanya kepada mesin pencari, tetapi juga kepada kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut dapat membantu menjelaskan istilah medis dan memberikan informasi umum, tetapi tetap memiliki keterbatasan.

Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa hasil AI dapat keliru dan tidak seharusnya digunakan sebagai dasar diagnosis kesehatan. Teknologi dapat membantu seseorang memahami pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan pertimbangan tenaga kesehatan secara langsung.

 

Pada akhirnya, kemampuan menggunakan internet untuk mencari informasi kesehatan harus diiringi dengan kemampuan untuk mengetahui batasnya. Kita boleh mencari tahu ketika tubuh terasa berbeda, tetapi jangan terburu-buru memberikan label penyakit kepada diri sendiri. Gunakan sumber yang terpercaya, jangan mengambil keputusan pengobatan hanya berdasarkan informasi daring, dan konsultasikan keluhan kepada tenaga kesehatan ketika gejala menetap, memburuk, atau mengganggu aktivitas.

Google dapat membantu menemukan informasi, tetapi Google bukan dokter. Di tengah derasnya informasi kesehatan di internet, menjadi sehat bukan hanya soal mengetahui banyak hal, melainkan juga tentang mampu memilah informasi dan tahu kapan harus berhenti mencari jawaban di layar lalu meminta bantuan kepada ahlinya. (siti putri lestari)

Editor : Kabun Triyatno
Edukasi Kesehatan sel-diagnosis Siti putri lestari kesehatan dokter