Ketika Jajanan Menjadi Pilihan: Begini Cara Memastikan Camilan Anak Tetap Aman

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:51 WIB
Ilustrasi memilih makanan yang sehat sesuai BPOM. (AI Generated)
Ilustrasi memilih makanan yang sehat sesuai BPOM. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Jajanan bukan sekadar pengganjal perut. Bagi anak, camilan adalah bagian dari keseharian. Karena itu, memilih jajanan yang aman dan sehat seharusnya bukan perkara selera semata.

“Bu, aku mau beli jajanan.”

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar setiap hari dari mulut anak-anak. Ada yang meminta uang untuk membeli permen, minuman berwarna, keripik, sosis, cilok, hingga berbagai camilan kemasan yang menarik perhatian karena warna dan bentuknya.

Bagi anak, jajanan adalah sesuatu yang menyenangkan. Namun bagi orang tua, seharusnya ada satu pertanyaan yang ikut muncul yaitu Aman atau Tidak.

Pertanyaan tersebut penting karena pangan jajanan dapat menghadapi berbagai risiko, mulai dari bahaya fisik, kimia hingga biologis. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjelaskan bahwa pangan yang tidak ditangani dengan baik dapat terkontaminasi melalui bahan baku, proses pengolahan, peralatan, penyimpanan maupun penyajian.

Baca Juga: Usut Penyimpangan Bansos Beras Kemensos! KPK Periksa Kakak Hary Tanoe dan Cegah 4 Orang ke Luar Negeri

Di sisi lain, jajanan memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan anak sekolah. Karena itulah BPOM mendorong terwujudnya Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang Aman, Bermutu dan Bergizi. Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pedagang atau sekolah, tetapi juga membutuhkan kemampuan anak dan orang tua dalam memilih pangan.

Lantas, bagaimana cara memilih camilan yang lebih aman dan sehat?

1. Jangan Tergoda Hanya karena Warna dan Bentuk

Anak-anak memang mudah tertarik pada makanan dengan warna mencolok, kemasan lucu atau bentuk yang unik. Namun, tampilan menarik tidak otomatis berarti pangan tersebut aman dan bergizi. BPOM pernah menyoroti adanya penyalahgunaan bahan berbahaya seperti Rhodamin B, Methanyl Yellow, formalin dan boraks pada pangan. Karena itu, orang tua perlu mengajarkan anak untuk tidak menjadikan warna atau tampilan sebagai satu-satunya alasan membeli makanan. Camilan yang baik bukan hanya yang terlihat menarik, tetapi juga yang jelas asal-usul dan keamanannya. Menarik di mata belum tentu aman di perut.

2. Biasakan Melakukan Cek KLIK

Untuk makanan kemasan, salah satu kebiasaan penting yang dapat diajarkan kepada anak adalah Cek KLIK yaitu Kemasan, Label, Izin Edar dan Kedaluwarsa. Pertama, periksa apakah kemasan masih dalam kondisi baik. Jangan memilih produk dengan kemasan yang rusak, bocor, menggembung atau tampak tidak layak. Kedua, baca labelnya. Informasi pada label membantu konsumen mengetahui nama produk, komposisi dan informasi lain yang berkaitan dengan pangan. Ketiga, pastikan produk memiliki izin edar sesuai ketentuan. Keempat, periksa tanggal kedaluwarsa. BPOM juga memasukkan penerapan Cek KLIK sebagai bagian dari edukasi keamanan pangan kepada komunitas sekolah. Kebiasaan sederhana ini mungkin hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi dapat menjadi bentuk perlindungan sebelum makanan masuk ke tubuh anak.

3. Perhatikan Informasi Nilai Gizi

Aman belum tentu berarti sehat. Camilan yang memiliki izin edar dan belum kedaluwarsa tetap perlu diperhatikan kandungan gizinya. Anak dan orang tua perlu membiasakan diri membaca Informasi Nilai Gizi, terutama ketika memilih makanan atau minuman kemasan.

Jangan hanya melihat tulisan “rasa cokelat”, “rasa buah” atau gambar buah yang besar pada kemasan. Perhatikan pula kandungan gula, garam dan lemak serta jumlah sajian dalam satu kemasan. Sebab, yang terlihat kecil di tangan anak belum tentu kecil pula kandungannya. Memahami label gizi membuat pilihan makanan tidak lagi sekadar berdasarkan rasa, tetapi juga berdasarkan kebutuhan tubuh.

Baca Juga: Menara Eiffel Rasa Sukoharjo! Kreativitas Karang Taruna Bina Kaya Desa Serut Bikin Kagum, Buat Miniatur Ikon Prancis Setinggi 22 Meter

4. Pilih Jajanan yang Bersih dan Terlindung

Bagaimana jika camilannya bukan makanan kemasan? Di sinilah anak perlu belajar mengamati lingkungan tempat makanan dijual. BPOM menjelaskan bahwa pangan jajanan dapat terpapar bahaya fisik, kimia dan biologis akibat berbagai faktor, termasuk kebersihan penjual, peralatan, lingkungan dan cara penyimpanan makanan. Makanan yang dijual secara terbuka juga lebih berisiko terpapar debu, serangga atau benda asing lainnya. Karena itu, pilih jajanan yang terlindung dan ditangani dengan cara yang bersih. Perhatikan pula kebersihan alat, wadah dan lingkungan sekitar tempat berjualan. Anak memang belum bisa melakukan pemeriksaan laboratorium. Tetapi mereka bisa belajar melakukan pengamatan sederhana yaitu Bersih atau kotor? tertutup atau terbuka? layak atau meragukan?

5. Hindari Jajanan yang Tidak Jelas Bahan dan Pengolahannya

Harga murah dan rasa enak sering kali menjadi kombinasi yang sulit ditolak anak. Namun, orang tua perlu mengajarkan bahwa murah bukan satu-satunya pertimbangan. Pangan dapat menjadi tidak aman apabila bahan bakunya tidak aman, proses pengolahannya buruk, terjadi kontaminasi silang atau makanan disimpan dalam kondisi yang tidak tepat. BPOM juga menjelaskan bahwa waktu dan suhu penyimpanan merupakan faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan mikroorganisme pada pangan. Bukan berarti setiap jajanan murah berbahaya. Yang perlu dihindari adalah membeli makanan yang Asal-usul, bahan dan cara penanganannya tidak jelas. Anak perlu belajar bahwa Murah dan Aman adalah dua hal yang berbeda.

6. Utamakan Camilan yang Mendukung Gizi Anak

Camilan seharusnya tidak hanya membuat anak kenyang sesaat. Pilihan camilan dapat diarahkan pada pangan yang memiliki nilai gizi, misalnya buah, makanan berbahan pangan lokal, atau camilan dengan komposisi yang lebih baik. Variasi juga penting agar anak tidak terbiasa mengonsumsi jenis makanan yang sama secara berlebihan. BPOM menempatkan keamanan, mutu dan gizi sebagai bagian penting dalam konsep pangan jajanan anak sekolah. Program PJAS Aman juga diarahkan agar komunitas sekolah mampu memilih pangan yang aman sekaligus memahami informasi nilai gizi. Dengan begitu, tujuan memilih camilan bukan sekadar menghindarkan anak dari makanan berbahaya, tetapi juga membantu mereka membangun kebiasaan makan yang lebih baik.

7. Jadikan Anak Konsumen yang Cerdas, Bukan Sekadar Konsumen yang Dilarang

Pada akhirnya, pendidikan tentang jajanan sehat tidak cukup dilakukan dengan kalimat, “Jangan beli itu!” Anak perlu diberi alasan. Mengapa kemasan harus diperiksa? Mengapa tanggal kedaluwarsa penting? Mengapa makanan yang dibiarkan terbuka perlu dihindari? Mengapa informasi nilai gizi perlu dibaca? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi cara sederhana untuk membangun kesadaran anak. BPOM sendiri menekankan pentingnya membangun kemandirian komunitas sekolah agar mampu memilih pangan yang aman, bermutu dan bergizi. Bahkan dalam kegiatan pembinaan keamanan pangan sekolah yang berlangsung pada 2026, BPOM kembali menegaskan bahwa perlindungan pangan di lingkungan sekolah membutuhkan pengetahuan dan kepedulian seluruh komunitas sekolah. Artinya, anak bukan hanya objek yang harus dilindungi. Mereka juga perlu dibekali kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

Baca Juga: Rony Parulian Rilis “Februari” Awal Agustus, Lagu Cinta yang Penuh Kisah Perpisahan

Melarang anak membeli jajanan mungkin menjadi cara paling mudah. Namun, apakah larangan akan selalu berhasil ketika anak berada di luar pengawasan orang tua? Mungkin tidak. Karena itu, pendekatan yang lebih penting adalah Membangun kebiasaan memilih. Ajarkan anak untuk memeriksa kemasan, membaca label, melihat izin edar dan tanggal kedaluwarsa, memperhatikan kebersihan tempat penjualan, memahami informasi gizi, serta mengenali makanan yang layak dikonsumsi. Tujuh langkah tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang camilan. Ini adalah tentang pendidikan konsumen sejak dini. Sebab, ketika seorang anak mampu berhenti sejenak sebelum membeli makanan dan bertanya, “Ini aman nggak, ya?”, sebenarnya ia sedang belajar mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Dan mungkin, dari kebiasaan kecil itulah budaya pangan yang aman dan sehat bisa dimulai. Jajan boleh, Asal cerdas memilih. (Siti Putri)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Siti putri gizi sehat bpom makanan