SOLOBALAPAN.COM - Niatnya ingin sarapan di rumah, tetapi begitu melirik jam, waktu sudah hampir habis. Akhirnya, roti yang dibeli semalam dimakan sambil berjalan, mampir membeli gorengan, atau bahkan berangkat hanya dengan secangkir kopi.
Pagi yang serba terburu-buru memang sering membuat sarapan tersisih. Padahal, tubuh tetap membutuhkan energi sebelum mulai bekerja, kuliah, atau menjalani aktivitas lainnya.
Banyak orang mengira sarapan sehat selalu membutuhkan waktu lebih lama. Padahal, bahan-bahan yang ada di dapur sering kali sudah cukup.
Baca Juga: Tren Browless Look Kembali Ramai, Gaya Alis Botak Bikin Penampilan Makin Edgy
Tidak perlu memasak banyak menu atau membeli bahan yang mahal. Dengan sedikit persiapan, sarapan tetap bisa praktis sekaligus mengenyangkan.
Salah satu menu yang sering dipilih adalah overnight oats. Oat cukup dicampur dengan susu rendah lemak, susu nabati tanpa gula, atau yogurt, lalu disimpan di dalam kulkas sebelum tidur.
Saat pagi tiba, tinggal tambahkan potongan pisang, apel, stroberi, atau buah lain yang tersedia. Semuanya sudah siap tanpa harus menyalakan kompor.
Kalau kurang cocok dengan makanan dingin, oatmeal hangat bisa menjadi pilihan. Memasaknya hanya beberapa menit. Setelah matang, tambahkan irisan buah supaya rasanya lebih segar. Sedikit bubuk kayu manis juga sudah cukup memberi aroma tanpa perlu menambahkan banyak gula.
Baca Juga: Outfit Cortis Ramai Digemari, Apa yang Membuat Gayanya Ikonik?
Sebagian orang memang belum berselera makan berat sesaat setelah bangun tidur. Dalam kondisi seperti itu, semangkuk Greek yogurt tanpa gula terasa lebih ringan. Tambahkan potongan buah atau sedikit kacang-kacangan agar lebih mengenyangkan dan tidak cepat lapar sebelum waktu makan siang.
Chia pudding juga tidak membutuhkan banyak persiapan. Biji chia cukup direndam bersama susu, lalu disimpan semalaman di dalam kulkas. Keesokan paginya tinggal diberi tambahan buah sesuai selera. Bahannya sederhana dan bisa disesuaikan dengan apa yang tersedia di rumah.
Kalau isi kulkas tinggal beberapa butir telur, itu pun sudah bisa menjadi sarapan. Telur rebus dipadukan dengan selembar roti gandum atau irisan tomat dan timun sudah cukup mengisi perut.
Baca Juga: "Ganti dengan Kimpul", Tren Candaan yang Viral di Media Sosial
Menu seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sering kali justru menjadi penyelamat ketika waktu tidak banyak.
Sayuran yang masih tersisa di kulkas juga tidak perlu dibiarkan begitu saja. Brokoli, wortel, jamur, atau pakcoy cukup ditumis sebentar dengan sedikit minyak, lalu dipadukan dengan tahu. Selain praktis, cara ini juga membantu menghabiskan bahan makanan yang belum sempat diolah.
Tidak semua pagi berjalan sesuai rencana. Ada hari ketika alarm terlambat dimatikan, jalanan sudah dipenuhi kendaraan, atau pekerjaan harus dimulai lebih awal.
Saat waktunya benar-benar sempit, smoothie bisa menjadi pilihan yang lebih mudah. Pisang, mangga, stroberi, atau buah lain cukup diblender bersama susu rendah lemak atau yogurt tanpa gula, lalu langsung diminum atau dibawa dalam tumbler.
Baca Juga: Fatherless Bukan Sekadar Kehilangan Sosok Ayah, tetapi Kehadiran yang Tak Terasa
Kalau sedang berbelanja kebutuhan rumah, edamame rebus juga layak masuk keranjang belanja. Selama ini edamame lebih sering dianggap camilan, padahal rasanya yang gurih juga pas disantap saat pagi. Tinggal dipanaskan sebentar, sudah bisa menjadi teman sarapan tanpa banyak tambahan bumbu.
Sesibuk apa pun paginya, usahakan tidak berangkat dengan perut kosong. Membawa satu buah apel, pir, jeruk, atau beberapa potong pepaya dari rumah jauh lebih baik daripada menahan lapar sampai waktu makan siang.
Memilih sarapan rendah kalori bukan berarti harus mengurangi porsi makan sebanyak mungkin. Tubuh tetap memerlukan karbohidrat, protein, dan serat agar dapat beraktivitas dengan nyaman.
Baca Juga: Banyak Pilihan, Kenapa Justru Makin Sulit Memutuskan? Ternyata Ini yang Disebut FOBO
Yang lebih perlu diperhatikan justru tambahan gula, saus, atau topping manis yang sering kali membuat asupan kalori bertambah tanpa disadari.
Pada akhirnya, tidak ada menu sarapan yang paling benar untuk semua orang. Ada yang lebih menikmati semangkuk oatmeal hangat, ada yang memilih overnight oats karena bisa disiapkan sejak malam, dan ada pula yang merasa cukup dengan telur rebus atau buah segar.
Menyesuaikan menu dengan waktu, kebutuhan, dan kebiasaan sehari-hari sering kali jauh lebih mudah dilakukan daripada memaksakan diri mengikuti tren. Sebab, sarapan yang benar-benar dimakan tetap lebih baik daripada sarapan yang hanya menjadi rencana setiap pagi.
Editor : Adi Pras