SOLOBALAPAN.COM - Pernahkah kita membayangkan bahwa sepiring makanan yang tampak lezat justru bisa menjadi sumber penyakit berbahaya? Inilah yang diingatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukoharjo kepada masyarakat, khususnya pengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kasus keracunan pangan, menurut Dinkes, tidak selalu disebabkan oleh bahan makanan yang basi atau rusak, melainkan juga bisa muncul dari cara pengelolaan yang kurang tepat — mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga penyajian.
Baca Juga: Sah! Amanda Manopo dan Kenny Austin Resmi Menikah Hari Ini, Sang Aktris Tampil Cantik Pakai Gaun Putih di Altar
Bakteri Bisa Tumbuh dari Hal Sederhana
Kepala Dinas Kesehatan Sukoharjo, Tri Tuti Rahayu, menjelaskan bahwa makanan yang tampak aman sekalipun bisa menjadi media berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit bila tidak dikelola dengan baik.
“Keracunan pangan tidak selalu terjadi karena makanan basi. Kadang proses penyimpanan yang terlalu lama, suhu yang tidak sesuai, atau tangan penjamah yang tidak bersih sudah cukup menjadi pemicunya,” jelasnya, Jumat (10/10).
Ia menuturkan, terdapat enam tahapan penting dalam pengelolaan pangan yang semuanya berpotensi menimbulkan risiko:
-
Pemilihan bahan
-
Penyimpanan bahan
-
Pengolahan
-
Penyimpanan pangan matang
-
Distribusi
-
Penyajian
Baca Juga: Seluruh Pasien Anak Korban Dugaan Keracunan MBG Tawangmangu Sudah Dipulangkan
Makanan yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang, kata Tri Tuti, bisa menjadi “surga” bagi bakteri berbahaya seperti Bacillus cereus atau Staphylococcus aureus untuk berkembang biak.
Empat Bakteri Penyebab Keracunan yang Paling Sering Ditemukan
Dari hasil pengawasan, Dinkes Sukoharjo mencatat empat jenis bakteri utama penyebab keracunan makanan:
-
Escherichia coli
-
Salmonella sp.
-
Bacillus cereus
-
Staphylococcus aureus
-
“E. coli sering berasal dari kontaminasi fecal-oral atau kotoran manusia, sedangkan Salmonella banyak ditemukan pada daging dan telur mentah. Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus berkembang bila makanan disimpan di suhu ruang terlalu lama,” terangnya.
Baca Juga: Digosipkan Bakal Adakan Pernikahan Mewah, Amanda Manopo dan Kenny Austin Beda Usia Berapa Tahun?
Gejala keracunan umumnya muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi, berupa mual, muntah, sakit perut, diare, dan demam. Pada anak-anak dan lansia, kondisi ini bisa berakibat fatal bila tidak segera ditangani.
Peran SPPG dan Sekolah Sangat Vital
Dinkes Sukoharjo menekankan pentingnya pengawasan rutin di sekolah-sekolah melalui peran aktif SPPG dan wali murid.
“SPPG wajib melakukan pengecekan setiap hari: bahan makanan, kebersihan alat, cara penyimpanan, hingga memastikan makanan tidak disajikan setelah lebih dari empat jam. Siswa juga perlu dibiasakan mencuci tangan pakai sabun sebelum makan,” tegas Tri Tuti.
Cegah Lebih Baik daripada Mengobati
Tri Tuti menegaskan, pengawasan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan bentuk edukasi agar masyarakat sadar akan pentingnya keamanan pangan.
“Makanan bukan sekadar pengisi perut. Ia bisa menjadi obat, tapi juga bisa menjadi racun bila tidak dikelola dengan benar,” pesannya.
Ia pun mengajak seluruh pihak — sekolah, orang tua, dan pelaku usaha pangan — untuk menjadikan keamanan pangan sebagai budaya hidup sehat.
“Mulailah dari hal kecil: pastikan bahan segar, cuci tangan, dan jangan biarkan makanan matang terlalu lama di suhu ruang. Dari langkah sederhana itulah, kita menjaga anak-anak dan keluarga dari ancaman keracunan,” tutupnya. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto