SOLOBALAPAN.COM - Musik merupakan salah satu bentuk hiburan yang dekat dengan kehidupan anak muda. Setiap orang memiliki selera berbeda, mulai dari musik pop yang populer hingga band independen yang belum banyak dikenal masyarakat.
Namun, di tengah berkembangnya komunitas musik independen, muncul fenomena ketika selera musik tidak lagi sekadar menjadi hiburan, tetapi juga digunakan untuk menunjukkan status dan membedakan diri dari orang lain.
Baca Juga: Waspadai Cedera Kaki Usai Maraton, Jangan Dianggap Remeh
Fenomena ini terlihat ketika seseorang merasa lebih keren karena mendengarkan band yang jarang diketahui orang lain.
Mengenal album langka, mengoleksi kaus band, atau memahami sejarah musik tertentu dianggap sebagai bukti bahwa dirinya memiliki selera musik yang lebih baik. Akibatnya, musik yang seharusnya menjadi sarana hiburan justru berubah menjadi ajang untuk membandingkan diri.
Ketika Musik Menjadi Ajang Pamer
Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang mengaku menyukai band yang sedang populer, ia justru mendapat tanggapan bahwa seleranya terlalu umum.
Sebaliknya, orang yang menyebut band yang kurang dikenal terkadang dianggap lebih keren karena memiliki referensi musik yang berbeda.
Baca Juga: Yuriska Patricia Anak Siapa? Resmi Jadi Istri Asnawi Mangkualam, Berprestasi dari Dunia Modeling
Contoh lainnya adalah ketika penggemar lama meremehkan orang yang baru mengenal sebuah band. Pendengar baru dianggap hanya mengikuti tren, meskipun mereka mungkin benar-benar menyukai musik yang didengarkan.
Situasi ini membuat pengetahuan musik seolah menjadi ukuran untuk menentukan siapa yang paling pantas berada dalam sebuah komunitas.
Padahal, mengenal banyak band atau memiliki koleksi album yang langka bukanlah sesuatu yang salah. Masalah muncul ketika hal tersebut digunakan untuk merendahkan orang lain.
Musik yang seharusnya bisa dinikmati siapa saja justru menjadi alasan untuk membangun jarak sosial.
Baca Juga: Mengenal 7 Jenis Jamur yang Populer di Pasar dan Lezat Diolah Menjadi Berbagai Hidangan
Musik Populer Tidak Selalu Buruk
Dalam dunia musik, istilah mainstream digunakan untuk menyebut musik yang populer dan dikenal luas oleh masyarakat. Sementara itu, musik underground sering dikaitkan dengan karya atau komunitas yang bergerak di luar arus utama industri musik.
Sebagian penggemar musik independen memang tertarik pada karya yang menawarkan kebebasan berekspresi dan pendekatan berbeda dari musik populer. Namun, perbedaan tersebut tidak berarti musik populer selalu buruk atau musik yang kurang dikenal pasti lebih berkualitas.
Setiap karya memiliki karakter dan pendengarnya sendiri. Musik yang populer bisa memiliki kualitas artistik yang baik, sedangkan musik yang jarang dikenal juga belum tentu sesuai
dengan selera semua orang. Menilai musik seharusnya didasarkan pada karya itu sendiri, bukan hanya pada jumlah orang yang mendengarkannya.
Pengetahuan Musik Seharusnya Dibagikan
Mengenal banyak band, memahami sejarah musik, dan menemukan karya yang belum dikenal luas dapat memperkaya wawasan seseorang. Pengetahuan tersebut juga bisa membantu memperkenalkan musisi baru kepada pendengar yang lebih luas.
Namun, pengetahuan akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk berbagi, bukan untuk merasa paling unggul. Penggemar lama dapat memperkenalkan band favoritnya kepada pendengar baru tanpa harus meremehkan selera mereka. Sebaliknya, pendengar baru juga bisa menikmati musik tanpa merasa harus mengetahui seluruh sejarah band yang disukainya.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki cara berbeda dalam menikmati musik. Ada yang menyukai sebuah band karena liriknya, ada yang tertarik pada penampilan panggungnya, dan ada pula yang baru mengenalnya melalui media sosial. Semua itu merupakan bagian dari proses seseorang menemukan selera musiknya.
Selera musik seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan alat untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebab, mengenal banyak band tidak otomatis membuat seseorang lebih baik, sebagaimana menyukai musik populer tidak membuat selera seseorang menjadi lebih rendah.(Rayhananda Satria Utama)
Editor : Luthfiana SekarSumber : solobalapan, Berbagai Sumber