Balaclava Jadi Ciri Khas Dongker, Berawal dari Rasa Malu Sang Vokal

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:30 WIB
Band Dongker di Parti Libur 2026. (IG: @partilibur)
Band Dongker di Parti Libur 2026. (IG: @partilibur)

SOLOBALAPAN.COM - Penampilan sebuah band tidak selalu hanya dikenali melalui musik yang mereka bawakan. Terkadang, satu elemen visual justru melekat kuat dalam ingatan pendengar dan menjadi identitas yang sulit dipisahkan dari band tersebut.

Hal ini juga terjadi pada Dongker, band punk asal Bandung yang dikenal melalui musik enerjik serta penampilan vokalisnya, Arno Zarror, dengan balaclava atau penutup kepala rajut yang menutupi sebagian besar wajah.

Balaclava yang dikenakan Arno memiliki beragam bentuk dan warna, mulai dari desain yang menyerupai tanduk hingga hiasan menyerupai duri.

Baca Juga: On This Day 29 Oktober: Mengenang Berbagai Peristiwa Bersejarah Dunia yang Mengubah Alur Zaman

Penampilannya yang unik membuat sosok Arno mudah dikenali ketika berada di atas panggung. Bahkan, aksesori tersebut tidak hanya menjadi ciri khas sang vokalis, tetapi juga diadopsi oleh para penggemar Dongker yang kerap datang ke konser dengan balaclava serupa.

Menariknya, identitas visual yang kini begitu lekat dengan Dongker ternyata berawal dari alasan sederhana. Arno mengaku awalnya mengenakan penutup wajah karena merasa malu ketika tampil di hadapan penonton.

Berawal dari Rasa Malu di Atas Panggung

Dalam wawancara dengan KapanLagi.com pada Agustus 2025, Arno menceritakan bahwa keinginannya menutupi wajah sudah muncul sejak awal dirinya tampil di skena musik. Ia merasa kurang percaya diri ketika melihat penampilan musisi lain yang terlihat keren di atas panggung.

Alih-alih berusaha menyesuaikan diri dengan penampilan musisi lain, Arno memilih menggunakan penutup wajah sebagai caranya sendiri untuk tampil.

Pada awalnya, ia tidak memiliki referensi visual khusus. Balaclava tersebut lebih berfungsi sebagai cara untuk menutupi wajah ketika harus berhadapan dengan penonton.

Seiring waktu, penutup wajah yang dikenakannya mulai mengalami perubahan. Desainnya menjadi lebih beragam, dengan tambahan warna cerah dan ornamen yang membuat tampilannya semakin khas.

Baca Juga: Wayang Beber, Warisan Seni yang Disebut Tersisa Tiga di Dunia: Kisah Kuno yang Hampir Dilupakan

Salah satu orang yang turut berperan dalam proses awal pembuatan balaclava tersebut adalah Shafira Sasha, teman Arno yang memiliki kemampuan merajut.

Menurut wawancara Hypebeast Indonesia pada Desember 2023, balaclava dengan desain khas yang kini dikenal publik mulai digunakan Arno pada Februari 2022 ketika Dongker tampil di acara Sound of Strength di Jakarta Timur.

Baca Juga: Keshi Kembali dengan “MISS ME”, Lagu tentang Rindu, Kehilangan, dan Keinginan untuk Tetap Berarti

Sebelumnya, ia pernah menggunakan balaclava dari merek Eiger saat tampil dalam sebuah pertunjukan solidaritas Festival Kampung Kota.

Dari kebutuhan sederhana untuk menutupi wajah, balaclava kemudian berkembang menjadi bagian penting dari penampilan Arno.

Balaclava Bukan Sekadar Penutup Wajah

Dalam dunia musik, penampilan panggung dapat menjadi salah satu cara musisi membangun identitas dan membedakan diri dari band lain.

Bagi Dongker, balaclava tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga memiliki makna yang berkembang seiring perjalanan mereka di skena musik independen.

Dalam wawancara bersama Hypebeast Indonesia, personel Dongker menjelaskan bahwa balaclava memang kerap dikaitkan dengan simbol perlawanan dan berbagai narasi tentang kekuasaan. Namun, band ini memiliki pemaknaan tersendiri terhadap aksesori tersebut.

Dongker menghadirkan balaclava melalui warna-warna yang beragam dan detail yang tidak terkesan destruktif. Pendekatan ini membuat penutup wajah tersebut tampil lebih ekspresif, jauh dari kesan seragam atau monoton.

Baca Juga: Rahmah El Yunusiah: Pelopor Kesetaraan Pendidikan Perempuan Minangkabau

Pilihan tersebut juga terasa sejalan dengan karakter musik Dongker yang menggabungkan energi punk dengan cara penyampaian yang khas. Mereka tidak hanya membangun identitas melalui distorsi gitar dan lirik, tetapi juga melalui penampilan yang mudah dikenali.

Dari Vokalis hingga Menjadi Identitas Penggemar

Popularitas balaclava Dongker tidak berhenti pada penampilan Arno. Seiring bertambahnya jumlah penonton yang datang ke pertunjukan mereka, aksesori tersebut mulai dikenakan oleh para penggemar.

Sebagian penggemar bahkan membuat balaclava dengan desain yang menyerupai milik Arno. Pemandangan ini membuat balaclava menjadi bagian dari pengalaman menonton konser Dongker, ketika penonton tidak hanya menikmati musik, tetapi juga ikut menampilkan identitas visual yang dekat dengan band tersebut.

Arno mengaku tidak pernah secara khusus menjual balaclava yang dikenakannya. Meski begitu, sejumlah orang kemudian membuat dan menjual produk serupa secara mandiri karena tingginya minat dari penggemar.

Baca Juga: Serat Gatoloco, Karya Sastra Jawa Kontroversial yang Mengajak Pembaca Mempertanyakan Makna Kehidupan

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana sebuah ciri khas dapat berkembang secara organik. Tanpa harus dirancang sebagai produk komersial sejak awal, balaclava tumbuh menjadi simbol kedekatan antara Dongker dan pendengarnya.

Identitas ini juga terlihat dalam kolaborasi Dongker dengan Button Network untuk menghadirkan balaclava berbahan keyboard bekas.

Produk tersebut dibuat oleh Alfaz Syam dan dipersiapkan untuk penampilan Dongker di Joyland Festival Jakarta pada November 2023. Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa balaclava dapat terus dikembangkan melalui berbagai pendekatan desain dan material. (adhima aulia) 

 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
dongker adhima aulia balaclava band musik