Galih Johar, Seniman yang Mengubah Benda Sehari-hari Menjadi Karya Seni Penuh Makna

Adi Pras • Dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2026 | 21:34 WIB
Beberapa contoh karya dari Galih Johar. (IG: @galihjohar)
Beberapa contoh karya dari Galih Johar. (IG: @galihjohar)

SOLOBALAPAN.COM - Seni tidak selalu hadir dalam bentuk lukisan indah atau patung yang dibuat dari bahan mahal.

Di tangan Galih Johar, benda-benda yang akrab dengan kehidupan sehari-hari justru dapat menjelma menjadi karya seni yang mengundang tawa, rasa heran, sekaligus pertanyaan tentang makna dan nilai sebuah benda.

Galih Johar merupakan seniman kontemporer asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang lahir pada 1990. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Keramik, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, dan lulus pada 2017.

Baca Juga: Viral! Selebgram Irenna Krystin Diserbu Netizen Usai Sindir Aksi Greenpeace Soal Biaya Hidup

Latar belakang tersebut menjadi salah satu titik awal perjalanannya dalam mengeksplorasi material, bentuk, dan cara manusia memberikan makna terhadap benda-benda di sekitarnya.

Mengolah Benda Biasa Menjadi Sesuatu yang Tak Biasa

Ketertarikan Galih terhadap material berawal dari tanah liat. Ia melihat adanya kesamaan unsur antara tanah dan tubuh manusia, seperti kalsium, magnesium, besi, kalium, dan silika.

Pemikiran tersebut kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih luas: jika berbagai benda tersusun dari materi, bagaimana manusia menentukan nilai, fungsi, dan makna dari benda-benda itu?

Pertanyaan tersebut mendorong Galih untuk tidak membatasi proses kreatifnya pada satu material atau bentuk tertentu.

Ia mengeksplorasi berbagai benda yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, kemudian mengubah atau menggabungkannya hingga menghasilkan sesuatu yang berbeda dari fungsi awalnya.

Baca Juga: LNGSHOT Rilis “Masterpiece”, Sajikan Kisah Cinta Sinematik Jelang EP S.W.I.S.H

Pendekatan ini membuat karya Galih terasa dekat dengan keseharian, tetapi sekaligus menghadirkan kejutan.

Benda yang semula dianggap biasa dapat berubah menjadi objek yang janggal, jenaka, bahkan memancing penonton untuk mempertanyakan kembali cara mereka memahami sesuatu.

Tosan Edgy, Ketika Pusaka Tradisional Berubah Menjadi Permen

Salah satu proyek Galih yang menarik perhatian adalah seri Tosan Edgy, yang mulai dikembangkan sejak 2020. Dalam proyek ini, ia mengolah ulang bentuk pusaka tradisional Jawa, seperti keris, tombak, kujang, dan trisula, menjadi objek yang menyerupai permen lolipop.

Karya tersebut ditampilkan dalam pameran Voice Against Reason di Museum MACAN, Jakarta, pada 2023–2024.

Baca Juga: Gejolak Batin Perpisahan Dewi Sekartaji dalam Tari Topeng Sekartaji

Melalui bentuk yang tampak manis dan akrab, Galih menghadirkan kontras dengan pusaka yang selama ini lekat dengan nilai sejarah, identitas, kekuasaan, serta kesakralan.

Permainan bentuk dan kata dalam Tosan Edgy bukan sekadar lelucon visual. Galih mempertemukan simbol tradisional dengan estetika populer sehingga penonton diajak melihat bagaimana makna suatu benda dapat berubah ketika bentuk dan konteksnya bergeser.

Karya ini juga memperlihatkan ciri pendekatan Galih: humor digunakan sebagai cara untuk membongkar kebiasaan berpikir dan membuka ruang tafsir baru terhadap objek yang dianggap memiliki makna tetap.

Dari Alterasi hingga Pameran di Kuala Lumpur

Perjalanan artistik Galih berkembang melalui sejumlah pameran tunggal. Pada 2020, ia menggelar Alterasi di BACKSPACE Art Lab & Museum, Jogjakarta.

Eksplorasinya berlanjut melalui Ruang Rekayasa, Alterasi Chapter Sukabumi di Rumah Mesra, Jawa Barat, pada 2021, serta Manunggal di Cemeti—Institute for Art and Society, Yogyakarta, pada 2023.

Pada Mei 2024, Galih kembali menggelar pameran tunggal bertajuk wtfing it then omging it di The Back Room, Kuala Lumpur, Malaysia.

Baca Juga: Rumahsakit Bawa Nostalgia Era 2000-an, Isu Konser Berujung Ricuh, Dugaan Copet, Pengambilan Setlist

Pameran ini menampilkan karya-karya dari proyek Manipulative Object Alteration (MAO), yakni pendekatan yang mengubah benda sehari-hari menjadi objek dengan fungsi yang terganggu, terbalik, atau tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

Melalui pendekatan tersebut, Galih seolah mengajak penonton bermain dengan logika. Sepasang sepatu kerja, misalnya, dapat diubah menjadi sandal.

Perubahan sederhana itu membuat benda kehilangan fungsi awalnya, tetapi justru memperoleh fungsi baru sebagai karya seni.

Pameran tersebut menjadi pameran tunggal keempat Galih sekaligus penampilan pameran tunggal pertamanya di Kuala Lumpur, menurut keterangan The Back Room.

Humor sebagai Cara Membaca Ulang Dunia

Karya-karya Galih Johar menunjukkan bahwa seni kontemporer tidak selalu harus menyampaikan gagasan melalui bentuk yang serius atau sulit dipahami. Humor, permainan kata, dan perubahan fungsi benda dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas.

Dengan mengubah objek yang familiar menjadi sesuatu yang asing, Galih mengajak penonton berhenti sejenak dan mempertanyakan hal-hal yang biasanya diterima begitu saja.

Baca Juga: Media Asing Bahas Penyebab Turunnya Kepuasan Publik ke Pemerintahan Prabowo-Gibran, Sebut Ada 2 Dosa

Mengapa suatu benda dianggap berharga? Siapa yang menentukan maknanya? Apakah fungsi dan nilai sebuah objek akan tetap sama ketika bentuk atau konteksnya berubah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat karya Galih tidak berhenti sebagai objek visual. Karyanya menjadi ruang untuk bermain, menafsirkan, dan memikirkan kembali hubungan manusia dengan benda-benda di sekelilingnya.

Melalui eksplorasi material dan pendekatan yang jenaka, Galih Johar memperlihatkan bahwa benda sehari-hari menyimpan kemungkinan artistik yang luas.

Dari tanah liat hingga bentuk pusaka yang menyerupai permen, ia terus menguji batas antara fungsi, nilai, tradisi, dan seni. (adhima aulia) 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia Galih Johar seni rupa yogyakarta