SOLOBALAPAN.COM - Grant Gilmore menjadi salah satu nama yang menarik perhatian di balik kesuksesan penampilan grup global KATSEYE.
Dikenal melalui koreografi yang ekspresif, dinamis, dan tidak konvensional, pria asal Houston, Texas, Amerika Serikat, ini ikut membentuk identitas panggung KATSEYE yang mudah dikenali sekaligus memancing perdebatan di media sosial.
Berbeda dari koreografi pop yang cenderung mengutamakan gerakan rapi dan seragam, karya Grant kerap memadukan gerakan tubuh yang tidak terduga, ekspresi wajah dramatis, serta perubahan formasi yang cepat.
Baca Juga: Transformasi Brandon Lilhero: Dari Dancer Cilik IMB hingga Menjadi Koreografer dan Juri Profesional
Pendekatan tersebut membuatnya dikenal sebagai kreator yang berani mengeksplorasi gerakan di luar kebiasaan.
Perjalanan Karier: Dari Houston hingga Panggung Artis Dunia
Grant mulai mengenal dunia tari sejak kecil. Ia belajar secara mandiri dengan menonton video di YouTube, merekam gerakannya sendiri, kemudian mengevaluasi hasilnya.
Ketika berusia sekitar 15 tahun, ia bahkan mulai mengajar kelas tari di studio yang berada di rumah keluarganya.
Pada usia 18 tahun, Grant pindah ke Los Angeles dengan modal sekitar 2.000 dolar AS untuk mengejar karier profesional.
Kesempatan besar datang ketika ia bergabung dalam tur Reputation milik Taylor Swift. Setelah itu, ia juga bekerja sebagai penari bersama sejumlah musisi, termasuk Charli XCX, Camila Cabello, Troye Sivan, dan Sam Smith.
Baca Juga: Profil Miyu, Dancer Muda Berbakat Asal Indonesia yang Mendunia
Pengalaman sebagai penari panggung kemudian membawanya beralih ke koreografi. Pada 2023, setelah tampil dalam pertunjukan paruh waktu Super Bowl bersama Rihanna, Grant mulai lebih serius mengembangkan karier sebagai koreografer.
Kesempatan bekerja dengan KATSEYE datang melalui proyek The Debut: Dream Academy, program yang menjadi bagian dari proses pembentukan grup tersebut.
Nama Grant semakin dikenal berkat koreografi lagu Touch dan Gnarly milik KATSEYE. Kedua lagu tersebut memperlihatkan karakter gerakan yang berbeda.
- “Touch” menonjolkan formasi kelompok, gerakan tangan yang khas, serta rangkaian gerak yang luwes dan terkoordinasi.
- “Gnarly” menampilkan koreografi yang lebih intens, ekspresif, dan eksperimental, dengan gerakan tajam serta ekspresi wajah yang tidak biasa.
Dalam wawancara dengan Dance Spirit pada Juli 2025, Grant menjelaskan bahwa ia ingin koreografi Gnarly memiliki energi yang sama mengejutkannya dengan musiknya.
Baginya, gerakan tari harus sesuai dengan karakter lagu, memiliki keunikan, dan tetap menarik untuk ditonton.
Baca Juga: Miyu Ananthamaya Pranoto, Penari Muda Indonesia yang Koleksi Gelar dari Jepang hingga Polandia
Grant juga bekerja bersama Sohey Sugihara sebagai direktur penampilan KATSEYE. Tugas mereka bukan sekadar menciptakan gerakan, melainkan turut mengembangkan penyampaian karakter lagu, formasi panggung, dan kualitas penampilan para anggota.
Mengapa Gaya Grant Gilmore Menuai Pro dan Kontra?
Salah satu hal yang membuat Grant menonjol adalah keberaniannya mempertahankan gaya yang tidak konvensional. Koreografinya kerap memadukan gerakan tubuh yang tidak terduga dengan ekspresi wajah yang dramatis.
Pendekatan ini mengundang dua respons berbeda. Sebagian penonton menganggapnya kreatif dan berani mendobrak pola koreografi pop yang sudah umum.
Sebagian lainnya menilai gerakannya terlalu berlebihan, bahkan menganggapnya mengganggu estetika penampilan.
Baca Juga: Carmen Hearts2Hearts Kenalkan Soto Ayam di Korea, Kok Bisa Kim Poong Tahu Kuliner Indonesia?
Dalam wawancara dengan i-D Magazine pada 29 Juli 2026, Grant membahas bagaimana karya-karyanya kerap dipuji sekaligus dikritik di internet.
Ia menegaskan bahwa gaya tersebut memang mencerminkan dirinya, bukan semata-mata upaya untuk memancing kemarahan warganet.
Perdebatan ini memperlihatkan bahwa koreografi tidak hanya dinilai dari ketepatan teknik, tetapi juga dari bagaimana gerakan menyatu dengan musik, karakter artis, dan ekspektasi penonton.
Di balik koreografi yang terlihat spontan, Grant menjalani proses kreatif yang panjang. Ia dapat membuat puluhan hingga lebih dari seratus variasi gerakan untuk satu bagian lagu sebelum versi final dipilih.
Baca Juga: K-Beauty Mulai Berubah, Kenapa Produk Korea Kini Dituntut Lebih Ramah untuk Semua Warna Kulit?
Dalam wawancara dengan i-D, ia mengungkapkan bahwa bagian chorus Pinky Up pernah dikembangkan hingga 155 variasi.
Sementara itu, koreografi Touch yang akhirnya digunakan merupakan pilihan ketiga dari sejumlah versi yang diajukan.
Ia juga menekankan pentingnya kenyamanan anggota grup ketika membawakan koreografi. Menurut Grant, penampil akan lebih mampu menyampaikan energi gerakan apabila mereka menyukai koreografi tersebut dan merasa nyaman melakukannya.
Baca Juga: BTS Dikabarkan Batal Jadi Headliner Coachella 2027, Justru Festival yang Bisa Kehilangan Besar
Meski gaya koreografinya tidak selalu diterima semua orang, karya Grant membuktikan bahwa kreativitas dapat membuka ruang diskusi baru dalam industri musik pop.
Di tengah pujian dan kritik, ia terus menghadirkan pendekatan tari yang khas dan membuat penonton memperhatikan bukan hanya musik, tetapi juga bagaimana musik diterjemahkan melalui gerakan.(carrieolis ratu lathiifu)
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber