SOLOBALAPAN.COM - Musik elektronik tidak selalu hadir dengan dentuman keras dan tempo yang cepat. White Chorus justru menunjukkan sisi lain dari musik elektronik melalui perpaduan pop, trip-hop, dan berbagai elemen elektronik yang terasa santai, tetapi tetap memiliki karakter.
Duo asal Bandung ini dikenal lewat musik yang dekat dengan cerita personal, hubungan, hingga berbagai perasaan yang sering dialami anak muda. White Chorus dibentuk pada 2019 oleh Emir Agung Mahendra dan Clara Friska Adinda.
Baca Juga: TheMilo, Band Asal Bandung yang Menjadi Bagian Perjalanan Dream pop dan Shoegaze di Indonesia.
Emir berperan sebagai instrumentalist sekaligus produser, sementara Friska mengisi vokal. Keduanya bertemu melalui lingkungan kreatif di Bandung dan kemudian memutuskan untuk mengembangkan ketertarikan mereka terhadap musik menjadi sebuah proyek bersama.
Sebelum menggunakan nama White Chorus, keduanya memiliki latar dan pengalaman musik masing-masing. Emir sebelumnya aktif sebagai produser dengan nama Analog Chorus, sedangkan Friska menggunakan nama White Skeleton.
Nama White Chorus kemudian menjadi titik temu dari dua karakter tersebut.
Baca Juga: Mengenal The Joo’s, Band Surf Rock Asal Ketintang yang Usung Biblical Surf Rock
Memulai Perjalanan dari “HappySad”
White Chorus memperkenalkan karya mereka melalui mini album atau EP “HappySad” yang dirilis pada April 2019. Rilisan awal tersebut berisi lagu seperti “Stupid” dan “Story of Teenage Love” yang memperlihatkan karakter musik mereka yang cukup sederhana, emosional, tetapi tetap mudah didengarkan.
Seiring berjalannya waktu, White Chorus terus mencari bentuk musik yang sesuai dengan karakter mereka. Trip-hop menjadi salah satu genre yang cukup berpengaruh dalam perjalanan musik mereka.
Eksplorasi tersebut kemudian terasa kuat dalam album “FASTFOOD” yang dirilis pada 2021. Album ini menjadi album penuh pertama White Chorus dan membawa berbagai cerita personal, mulai dari cinta, patah hati, ketidakpastian, hingga pengalaman emosional lainnya.
Baca Juga: Mengenal Murphy Radio, Band Math Rock Unik asal Samarinda
Musik yang Tidak Takut Berubah
Salah satu hal menarik dari White Chorus adalah mereka tidak terpaku pada satu bentuk musik. Jika “FASTFOOD” banyak memperlihatkan pengaruh trip-hop dengan suasana yang cenderung tenang dan atmosferik, karya-karya berikutnya menunjukkan keberanian mereka untuk mengeksplorasi warna musik yang berbeda.
Pada 2023, misalnya, White Chorus merilis single “This Feeling”. Lagu tersebut memperlihatkan sisi mereka yang lebih dance-oriented dibandingkan beberapa karya sebelumnya.
Eksplorasi tersebut berlanjut melalui album “LIMBO” yang dirilis pada 2023. Setelah itu, mereka kembali mencoba pendekatan baru melalui EP “do you guys wanna listen to some electro-pop music?” pada 2024.
Menariknya, dalam EP tersebut White Chorus mulai lebih banyak menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Friska dan Emir menjelaskan bahwa perubahan tersebut muncul dari ketertarikan mereka terhadap musik pop Indonesia serta keinginan untuk mencoba sesuatu yang berbeda dari karya-karya sebelumnya yang banyak menggunakan bahasa Inggris.
Baca Juga: Romantic Echoes Berkarya Bersama Lirik-lirik Puitisnya
Berani Memadukan Banyak Pengaruh
Eksplorasi White Chorus tidak berhenti pada pop dan elektronik. Mereka juga memiliki ketertarikan terhadap berbagai genre dan musisi dengan karakter berbeda.
Pendekatan tersebut membuat White Chorus sulit ditempatkan hanya dalam satu kotak genre. Mereka dapat menghadirkan nuansa trip-hop yang santai, pop elektronik yang ringan, hingga musik yang lebih gelap dan atmosferik.
Baca Juga: Eleanor Whisper, Band Indie Beraliran Alternative Rock Asal Medan
Bahkan pada 2024, White Chorus berkolaborasi dengan band hardcore punk Rekah melalui split EP berjudul “Setengah Mati”. Keduanya tidak hanya membagikan rilisan, tetapi juga melakukan cross-cover.
Rekah membawakan “Amarah” milik White Chorus, sementara White Chorus menginterpretasikan “Kabar Dari Dasar Botol” milik Rekah dengan pendekatan trip-hop. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu contoh bahwa White Chorus tidak ragu mempertemukan musik mereka dengan genre yang cukup berbeda.
“Melayang” dan Cerita tentang Malam Jakarta
Pada 2026, White Chorus kembali hadir dengan single “Melayang” yang dirilis pada 12 Agustus. Lagu ini membawa cerita tentang seseorang yang mencoba mencari pelarian di tengah kehidupan malam Jakarta.
Namun, keramaian dan euforia justru membuat rasa rindu terhadap seseorang dari masa lalu kembali muncul. “Melayang” menjadi salah satu contoh bagaimana White Chorus memadukan suasana malam, nostalgia, dan perasaan personal ke dalam musik.
Baca Juga: Mengenal Dreampop, Genre Musik dengan Nuansa Mengawang serta Vokalnya yang Lembut
Single tersebut juga menjadi pembuka menuju EP “L.U.F.S.” yang dijadwalkan hadir pada September 2026.
Perjalanan White Chorus menunjukkan bahwa sebuah grup musik tidak harus terus berada dalam satu gaya untuk memiliki identitas. Sejak dibentuk pada 2019, Emir dan Friska justru terus mencoba berbagai pendekatan, mulai dari lo-fi pop, trip-hop, pop elektronik, hingga kolaborasi lintas genre. (Adhima Aulia)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : microgram.id: White Chorus, solobalapan.com, Spotify