SOLOBALAPAN.COM - Perkembangan musik independen Indonesia tidak terlepas dari munculnya berbagai band yang membawa warna musik berbeda. Salah satunya adalah Themilo, grup musik asal Bandung yang dikenal melalui karakter dream pop dan shoegaze.
Dengan musik yang mengandalkan lapisan suara gitar, melodi yang mengawang, serta nuansa melankolis, Themilo menjadi salah satu nama yang cukup lama bertahan dalam skena musik independen Indonesia. Themilo terbentuk di Bandung pada 1 Juli 1996. Pada awal kemunculannya, kelompok ini merupakan proyek sampingan dari beberapa musisi yang sebelumnya sudah aktif di skena musik independen Bandung.
Baca Juga: Mengenal Murphy Radio, Band Math Rock Unik asal Samarinda
Seiring berjalannya waktu, proyek tersebut berkembang menjadi kelompok musik yang serius dan mulai dikenal melalui warna dream pop dan shoegaze. Dalam bermusik, Themilo mendapat pengaruh dari sejumlah band luar negeri seperti My Bloody Valentine, Cocteau Twins, dan Slowdive.
Pengaruh tersebut kemudian terlihat dalam karakter musik mereka yang menggunakan lapisan gitar dan efek suara untuk menciptakan suasana yang luas serta mengawang. Perjalanan Themilo dalam dunia rekaman dimulai pada awal 2000-an. Mereka merilis single “Romantic Purple” pada 2002 melalui Flatspills Records.
Baca Juga: Romantic Echoes Berkarya Bersama Lirik-lirik Puitisnya
Setahun kemudian, Themilo meluncurkan album perdana berjudul Let Me Begin pada 2003. Kehadiran karya tersebut menjadi salah satu langkah Themilo dalam memperkenalkan musik mereka kepada pendengar di luar Bandung. Setelah album pertama, Themilo membutuhkan waktu cukup panjang sebelum merilis album berikutnya.
Album kedua mereka, Photograph, akhirnya diluncurkan pada 2011. Album tersebut berisi delapan lagu dengan karakter musik yang digambarkan memiliki suasana yang dingin, misterius, dan luas. Salah satu lagu yang lebih dahulu diperkenalkan kepada pendengar adalah “Don't Worry For Being Alone”.
Baca Juga: Eleanor Whisper, Band Indie Beraliran Alternative Rock Asal Medan
Photograph kemudian kembali dirilis secara digital oleh Anoa Records pada 2020. Menurut keterangan Anoa Records, album tersebut merupakan album kedua Themilo yang pertama kali dirilis pada 2011 dan menampilkan instrumen yang bernuansa dreamy serta lirik yang reflektif. Album tersebut terdiri dari lagu seperti “Stethoscope”, “Dreams”, “Apart”, hingga “Daun dan Ranting Menuju Surga”.
Selain Photograph, perjalanan Themilo juga menghasilkan album Let Me Begin dan kompilasi Wasted Parts. Sejumlah lagu mereka seperti “Malaikat”, “Dreams”, “Romantic Purple”, dan “Daun dan Ranting Menuju Surga” kemudian menjadi bagian dari karya yang memperkenalkan karakter musik Themilo kepada pendengar lintas generasi.
Baca Juga: Drizzly, Band Dream Pop Asal Sidoarjo yang Beranggotakan Empat Perempuan.
Themilo kemudian kembali aktif menghadirkan karya baru. Pada 2025, mereka merilis versi terbaru dari lagu “Malaikat” dan single “Nowhere, Now Here”. Pada November tahun yang sama, Themilo kembali memperkenalkan “The Lights”, sebuah lagu yang didedikasikan kepada para pendengar yang telah menemani perjalanan musik mereka selama bertahun-tahun.
Perubahan juga terjadi dalam formasi band. Pada perilisan “Malaikat” versi terbaru, Sandi Mardiansyah diperkenalkan sebagai keyboardist baru Themilo. Formasi yang kemudian tercatat pada 2026 terdiri dari Ajie Gergaji, Taufik “Upik” Hidayat, Budi “Krucil” Wiranto, dan Sandi Mardiansyah.
Memasuki 2026, Themilo kembali memperlihatkan aktivitas mereka melalui beberapa rilisan. Setelah “Tangguh” dan “Di Balik Senyap”, mereka merilis single “Pulang” pada 28 Agustus 2026.
Baca Juga: Mengenal Dreampop, Genre Musik dengan Nuansa Mengawang serta Vokalnya yang Lembut
Lagu tersebut menjadi salah satu karya terbaru Themilo dan masih membawa warna dream pop serta shoegaze yang telah menjadi bagian dari identitas musik mereka.
Perjalanan selama tiga dekade membuat Themilo tetap menjadi salah satu nama yang dikenal dalam perkembangan musik independen Indonesia. Dari Bandung pada 1996 hingga berbagai rilisan baru pada 2026, mereka terus mempertahankan karakter musik sekaligus memberikan ruang untuk mengembangkan karya.
Baca Juga: Menjelajahi Fenomena "Dreamcore": Ketika Nostalgia, Mimpi, dan Musik Berpadu Menjadi Satu
Kehadiran Themilo juga memperlihatkan bahwa genre seperti dream pop dan shoegaze memiliki perjalanan yang cukup panjang di Indonesia. Musik yang mengandalkan suasana, lapisan suara, dan nuansa melankolis tersebut terus menemukan pendengarnya, termasuk melalui karya-karya Themilo yang masih hadir hingga saat ini.
Dengan perjalanan yang telah berlangsung selama tiga dekade, Themilo tidak hanya menjadi bagian dari sejarah skena musik independen Bandung. Karya-karya mereka juga menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah band dapat mempertahankan identitas musikal sambil terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Adhima Aulia)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber