SOLOBALAPAN.COM – Masih ingat acara televisi yang satu ini? Kalau dulu Sabtu pagi berarti waktunya menunggu tayangan masak, bisa jadi Aroma yang langsung terlintas di kepala.
Di era 1990-an hingga 2000-an, belum ada YouTube yang bisa dibuka kapan saja ketika ingin mencari resep. Mau belajar membuat makanan baru, salah satu caranya adalah menunggu acara memasak di televisi, mencatat bahan-bahannya, lalu mencoba mengikuti langkah yang diberikan.
Salah satu program yang paling melekat dengan kebiasaan tersebut adalah Aroma, acara memasak yang dipandu oleh Sisca Soewitomo.
Baca Juga: Tanaman Hias untuk Kamar Sempit, Kenapa Banyak Orang Mulai Memilihnya?
Aroma Tayang Tahun Berapa?
Aroma pertama kali hadir di televisi pada 1996. Sisca Soewitomo sendiri menyebut program tersebut mulai tayang pada tahun itu dan kemudian bertahan hingga 2008, atau sekitar 11 tahun.
Acara tersebut dikenal sebagai salah satu pelopor program memasak di televisi Indonesia. Dalam setiap episode, Sisca menyajikan berbagai resep dengan langkah yang dibuat mudah diikuti penonton.
Tak heran kalau bagi sebagian penonton, suara dan penampilan Sisca di depan kompor bukan sekadar tayangan televisi, tetapi bagian dari rutinitas akhir pekan.
Baca Juga: Musim Kemarau Bikin Rumah Gerah? Begini Cara Menjaga Sirkulasi Udara Tetap Sejuk
Sejumlah sumber nostalgia mencatat Aroma hadir pada akhir pekan, termasuk Sabtu pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Jadi, bayangkan suasana pagi di rumah zaman dulu. Televisi menyala, meja makan mungkin belum dibereskan, sementara dari layar terdengar suara Sisca menjelaskan bahan dan langkah memasak.
Sisca Soewitomo Bukan Cuma Pembawa Acara
Nama Sisca Soewitomo kemudian begitu lekat dengan Aroma sampai dirinya dikenal sebagai salah satu pelopor pembawa acara memasak di televisi Indonesia.
Namun, aktivitasnya di dunia kuliner sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum tampil di layar kaca. Sisca pernah menjadi dosen di bidang perhotelan dan memiliki pengalaman pendidikan kuliner, termasuk belajar di American Institute of Baking di Amerika Serikat.
Ia juga dikenal produktif menulis buku resep. Liputan6 menyebut Sisca telah menulis hampir 150 buku resep, sedangkan keterangan penerbit Gramedia menyebut karyanya telah diterbitkan dalam lebih dari 100 judul.
Jadi, wajar kalau sosok Sisca bukan hanya dikenal sebagai presenter, tetapi juga sebagai penulis resep yang membantu banyak orang mengenal cara memasak berbagai hidangan.
Ada Kalimat Penutup yang Sulit Dilupakan
Selain resep dan gaya memasaknya, ada satu hal yang membuat Aroma semakin mudah dikenali.
Setiap kali selesai mendemonstrasikan resep, Sisca memiliki kalimat penutup yang kemudian menjadi jargon dan masih diingat sampai sekarang:
“Bagaimana pemirsa, mudah bukan membuatnya?”
Kalimat tersebut bahkan disebut sebagai salah satu ciri khas Sisca ketika membawakan Aroma.
Menariknya, konsep memasak yang dibawakan Sisca memang dibuat agar resep dapat dipraktikkan dengan relatif mudah. Dalam wawancara dengan Whiteboard Journal, ia menjelaskan bahwa sebelum resep dibagikan, resep tersebut dibuat dan diuji terlebih dahulu. Ia juga menekankan penggunaan bahan yang mudah didapat dan cara membuat yang mudah diikuti.
Maka, Aroma bukan cuma acara yang menemani penonton sarapan atau bersantai pada akhir pekan. Bagi sebagian orang, tayangan tersebut juga menjadi salah satu tempat pertama untuk belajar memasak.
Sekarang, ketika resep makanan bisa dicari hanya dalam hitungan detik lewat internet, kenangan menunggu acara memasak di televisi mungkin terasa sederhana. Namun bagi generasi yang pernah mengalaminya, Aroma dan kalimat “mudah bukan membuatnya?” tetap punya tempat tersendiri dalam memori televisi Indonesia.
Editor : Inayah Choirunisa