SOLOBALAPAN.COM – Pernah dengar cerita tentang orang yang masuk hutan lalu tiba-tiba menghilang, tersesat, atau merasa sudah berjalan sebentar padahal waktu ternyata berlalu cukup lama? Di sejumlah cerita masyarakat Sumatera, pengalaman semacam itu kerap dikaitkan dengan Urang Bunian.
Istilah tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah film horor Urang Bunian tayang di bioskop Indonesia sejak 17 September 2026. Film garapan Rendy Herpy ini tidak mengambil sosok horor yang sudah terlalu sering muncul, melainkan mengangkat legenda yang hidup dalam cerita masyarakat Minangkabau.
Lantas, sebenarnya Urang Bunian itu apa?
Bukan Sekadar “Hantu Hutan”
Dalam berbagai cerita yang berkembang di Sumatera, Urang Bunian dipercaya sebagai makhluk gaib yang hidup di kawasan hutan dan memiliki ruang kehidupan sendiri. Dunia tersebut dipercaya berada berdampingan dengan dunia manusia, tetapi tidak selalu dapat dilihat oleh manusia.
Karena itu, gambaran mengenai Urang Bunian sebenarnya tidak selalu identik dengan sosok yang hanya muncul untuk menakut-nakuti. Dalam sejumlah tradisi lisan Minangkabau, keberadaan mereka juga berkaitan dengan kawasan alam yang dianggap memiliki penghuni dan aturan tertentu.
Sebuah kajian mengenai legenda Urang Bunian di masyarakat Nagari Air Batumbuk, misalnya, menemukan adanya pesan tentang pentingnya menjaga etika ketika memasuki hutan sekaligus menjaga lingkungan. Artinya, cerita Urang Bunian tidak hanya berfungsi sebagai kisah mistis, tetapi juga dapat membawa nilai pendidikan, pewarisan budaya, dan identitas masyarakat.
Baca Juga: Sebelum Merah Putih One for All, Indonesia Sudah Punya Si Huma Sejak 1983
Kenapa Ada Larangan Masuk Hutan Sembarangan?
Konsep tersebut menjadi menarik karena hutan dalam pandangan budaya Minangkabau tidak selalu diposisikan sekadar sebagai tempat kosong yang dipenuhi pepohonan.
Kajian mengenai konsepsi rimbo dalam masyarakat Minangkabau menggambarkan hutan sebagai ruang yang memiliki nilai sakral. Di dalamnya dipercaya terdapat berbagai penghuni atau kekuatan yang harus dihormati. Karena itu, muncul pula aturan tidak tertulis mengenai bagaimana manusia seharusnya bersikap ketika memasuki kawasan tersebut.
Dari sinilah cerita tentang orang yang tersesat atau mengalami kejadian aneh setelah melanggar pantangan menjadi masuk akal dalam kerangka kepercayaan masyarakat. Jadi, “jangan sembarangan masuk hutan” bukan hanya kalimat untuk membuat cerita horor terasa menyeramkan.
Baca Juga: Four Hands, Two Sonatas: Song Kang dan Lee Jun Young Bertemu, Apa yang Terjadi di Masa Lalu?
Konsep Itu Dibawa ke Film
Film Urang Bunian kemudian menggunakan gagasan tersebut sebagai dasar cerita. Menurut data Lembaga Sensor Film, film berdurasi 88 menit ini menceritakan Teddy yang diperankan Dimas Aditya dan sahabatnya, Kevin yang diperankan Fauzan Nasrul.
Keduanya melakukan perjalanan menuju kampung halaman Teddy. Namun, mereka tetap melanjutkan perjalanan ketika hari mulai gelap meski sudah mendapat peringatan agar tidak melewati hutan pada malam hari.
Keputusan tersebut membawa mereka masuk ke kawasan yang dipercaya sebagai wilayah Urang Bunian. Dari sana, perjalanan pulang berubah menjadi pengalaman penuh teror dan membuat keduanya kesulitan menemukan jalan keluar.
Yang menarik, sutradara Rendy Herpy tidak mengambil satu versi Urang Bunian begitu saja. Dalam proses produksinya, ia mengumpulkan berbagai persepsi masyarakat Sumatera Barat mengenai bentuk dan karakter sosok tersebut, kemudian merangkumnya menjadi visual untuk film.
Dengan begitu, sosok Urang Bunian dalam film merupakan hasil interpretasi sinematik terhadap cerita yang sudah berkembang di masyarakat.
Bukan Cuma Soal Takut
Film ini akhirnya membawa satu pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar “apakah Urang Bunian benar-benar ada?”
Cerita tentang makhluk tersebut menunjukkan bagaimana sebuah kepercayaan lokal dapat bertahan melalui cerita dari generasi ke generasi, kemudian berpindah ke medium baru seperti film.
Dalam konteks budaya, Urang Bunian juga memperlihatkan hubungan masyarakat dengan alam. Hutan tidak hanya menjadi lokasi terjadinya kejadian misterius, tetapi ruang yang dalam cerita tradisional memiliki aturan, penghuni, dan batas yang perlu dihormati.
Itulah sebabnya ketika istilah Urang Bunian muncul dalam film horor, yang dibawa ke layar sebenarnya bukan cuma sosok makhluk gaib. Ada cerita rakyat, pandangan terhadap alam, serta tradisi lisan masyarakat Minangkabau yang ikut masuk ke dalamnya.
Jadi, kalau setelah melihat judul filmnya kamu bertanya, “Urang Bunian itu apa?”, jawabannya ternyata tidak sesederhana hantu yang tinggal di hutan. Di balik istilah tersebut ada cerita tentang dunia yang dipercaya hidup berdampingan dengan manusia sekaligus pesan untuk tidak sembarangan memperlakukan alam dan ruang yang dianggap sakral.
Editor : Inayah Choirunisa