SOLOBALAPAN.COM – Tren remake video STORM milik Yung Lean dan GENER8ION belakangan ramai berseliweran di media sosial. Jika sebagian pengguna membuat ulang adegan tersebut menggunakan bantuan AI, seorang guru justru memilih cara berbeda. Bersama para muridnya, ia membuat versi nyata dengan berbaris sambil membawa ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG), kemudian mengikuti koreografi STORM secara serempak.
Video tersebut dibagikan akun Threads @muslimmachbub dan kemudian ikut menjadi perhatian warganet. Dalam video itu, guru dan para murid tampak berdiri berbaris sambil membawa ompreng makanan sebelum melakukan gerakan yang terinspirasi dari video STORM.
Alih-alih menggunakan AI untuk membuat ulang adegan, mereka benar-benar mempraktikkan koreografinya bersama-sama. Ompreng MBG yang dibawa para siswa juga membuat remake tersebut memiliki konteks yang berbeda dari video aslinya.
Bukan Sekadar Ikut Tren
Pemilik akun @muslimmachbub kemudian memberikan penjelasan mengenai video tersebut. Ia mengatakan dirinya bukan seorang konten kreator dan video itu merupakan karya bersama dengan para murid.
Menurutnya, pembuatan video tersebut justru berkaitan dengan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial. Ia mengajak para siswa membuktikan bagaimana algoritma media sosial bekerja dengan memanfaatkan tren yang sedang ramai.
Ia menuliskan bahwa dirinya sempat mengatakan kepada para murid, jika ingin viral, mereka bisa melihat algoritma yang ada dan mencoba membuktikannya. Setelah video tersebut ramai di Threads, ia kemudian menyebut para pengguna yang ikut berinteraksi dengan unggahannya sebagai bagian dari pembuktian tersebut.
“Terima kasih warga Threads semua sudah menjadi bukti algoritma,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Dengan begitu, video yang sekilas terlihat seperti konten mengikuti tren ternyata memang dibuat sebagai bagian dari eksperimen pembelajaran. Para siswa tidak hanya diajak mengikuti gerakan yang sedang viral, tetapi juga mengamati bagaimana sebuah konten dapat menyebar setelah mendapatkan respons dari pengguna media sosial.
Baca Juga: Spider-Man 5 Belum Punya Tanggal Rilis, Tom Holland Bakal Lama Lagi Jadi Peter Parker?
Dari Video Yung Lean ke Ompreng MBG
STORM sendiri merupakan proyek audiovisual GENER8ION bersama Yung Lean. Potongan video yang digunakan dalam tren memperlihatkan koreografi kelompok yang dilakukan secara serempak sehingga mudah dikenali ketika muncul kembali dalam berbagai versi di media sosial.
Belakangan, format tersebut banyak direproduksi menggunakan AI. Pengguna dapat membuat versi baru dengan karakter atau latar yang berbeda tanpa harus melakukan proses pengambilan gambar seperti pada video aslinya.
Versi @muslimmachbub justru mengambil pendekatan berbeda. Tidak ada karakter yang diganti menggunakan AI. Guru dan murid secara langsung berdiri dalam formasi, membawa ompreng, kemudian melakukan gerakan bersama.
Hasilnya membuat tren STORM yang sebelumnya banyak dikaitkan dengan eksperimen visual AI mendapatkan versi baru yang lebih dekat dengan aktivitas di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Bela Program MBG! Kepala BGN Sudaryono Tuding Guru, Ortu, hingga Wartawan Bikin Ramai di Sosmed
Guru: Bukan Cuma Mengejar Viral
Penjelasan @muslimmachbub juga membuat video tersebut memiliki konteks yang berbeda dari sekadar konten viral. Ia ingin menunjukkan kepada murid bahwa algoritma media sosial dapat diamati melalui praktik sederhana.
Muhammad Muslim Machbub Sulthony sendiri tercatat sebagai pendidik di SDN Cibubur 10. Namanya juga tercantum sebagai salah satu penulis buku Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SD/MI Kelas V yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2025.
Dalam buku tersebut, materi pembelajaran memang mencakup pengenalan teknologi digital dan kecerdasan artifisial untuk siswa sekolah dasar.
Karena itu, video remake STORM tersebut tidak berhenti pada mengikuti tren yang sedang ramai. Di balik gerakan serempak dan ompreng MBG, terdapat percobaan sederhana untuk melihat apakah strategi mengikuti pola konten yang sedang populer dapat membuat sebuah unggahan mendapatkan perhatian lebih besar di media sosial.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Threads, Berbagai Sumber