SOLOBALAPAN.COM – Nama Maudy Ayunda kembali ramai dibicarakan setelah kontennya berjudul Mindfulness in the Age of Bad News mendapat kritik dari warganet. Salah satu istilah yang muncul untuk menggambarkan konten tersebut adalah tone deaf.
Kritik itu muncul karena pembahasan Maudy mengenai cara menjaga diri dari paparan berita buruk dianggap sebagian warganet kurang peka terhadap orang-orang yang justru mengalami dampak langsung dari berbagai persoalan tersebut. Maudy kemudian memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf dan mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh sejenak dari berita merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang.
Namun, sebenarnya apa arti tone deaf sampai istilah tersebut digunakan untuk mengkritik seseorang yang dianggap kurang peka terhadap situasi sosial?
Baca Juga: Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana, Filosofi Jawa soal Ucapan dan Cara Membawa Diri
Bukan Sekadar “Tuli Nada”
Secara harfiah, tone deaf berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengenali atau membedakan nada musik.
Dengan pengertian tersebut, tone deaf pada awalnya berkaitan dengan persoalan musikal. Seseorang yang disebut tone deaf dalam pengertian ini mengalami kesulitan membedakan nada atau menjaga ketepatan nada ketika bernyanyi.
Namun, dalam bahasa sehari-hari, tone deaf tidak selalu digunakan untuk membicarakan musik.
Istilah tersebut juga berkembang menjadi ungkapan figuratif untuk menggambarkan seseorang yang dianggap tidak peka terhadap perasaan, keadaan, atau suasana sosial di sekitarnya.
Baca Juga: Frugal Living Ala Anak Kos, 7 Pengeluaran Kecil yang Diam-Diam Bikin Uang Cepat Habis
Dari Tidak Peka terhadap Nada Menjadi Tidak Peka terhadap Situasi
Perubahan penggunaan tersebut menarik jika dilihat dari cara bahasa bekerja.
Pada makna literal, seseorang yang tone deaf tidak mampu “menangkap” perbedaan nada dengan baik. Dalam penggunaan figuratif, konsep “tidak mampu menangkap” tersebut kemudian diterapkan pada konteks yang berbeda, yaitu ketidakmampuan membaca situasi sosial.
Dengan kata lain, yang semula berkaitan dengan “tidak menangkap nada” berkembang menjadi gambaran tentang “tidak menangkap suasana”.
Karena itu, ketika seseorang disebut tone deaf dalam sebuah perdebatan di media sosial, istilah tersebut biasanya bukan berarti orang tersebut benar-benar tidak bisa membedakan nada musik. Istilah itu digunakan untuk mengatakan bahwa suatu ucapan, tindakan, atau respons dianggap tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi masyarakat.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Kecil yang Bikin Hidup Terasa Lebih Ringan, Bisa Dimulai dari Sekarang
Kenapa Istilah Ini Muncul dalam Kasus Maudy?
Dalam kasus Maudy, istilah tone deaf digunakan sebagian warganet untuk mengkritik pembahasan mengenai bagaimana seseorang dapat menjaga kesehatan mental dengan mengambil jarak dari berita buruk.
Bagi sebagian orang, mengambil jarak dari berita memang dapat menjadi pilihan. Namun, seperti yang kemudian diakui Maudy dalam klarifikasinya, tidak semua orang memiliki pilihan tersebut. Bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh bencana, kondisi lingkungan, pekerjaan, keluarga, atau kebijakan tertentu, persoalan yang diberitakan bukan sekadar informasi yang dapat ditinggalkan sementara.
Di titik inilah istilah tone deaf digunakan sebagai kritik terhadap konteks, bukan sekadar terhadap isi pernyataan.
Sebuah kalimat dapat terdengar masuk akal dalam satu situasi, tetapi dianggap tidak sensitif ketika disampaikan kepada orang-orang yang sedang mengalami kondisi berbeda.
“Tone Deaf” Tidak Sama dengan Tidak Setuju
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa menyebut suatu pernyataan tone deaf tidak sekadar berarti “saya tidak setuju dengan pendapat tersebut”.
Istilah tersebut lebih berkaitan dengan penilaian bahwa seseorang gagal membaca suasana atau kondisi sosial ketika menyampaikan sesuatu. Karena itu, sebuah pendapat bisa saja tidak disetujui tanpa dianggap tone deaf.
Misalnya, dua orang dapat memiliki pandangan berbeda mengenai suatu persoalan. Perbedaan pendapat tersebut belum tentu menunjukkan ketidakpekaan. Sebaliknya, sebuah pernyataan yang secara isi mungkin memiliki maksud tertentu dapat dinilai tone deaf apabila dianggap mengabaikan keadaan orang-orang yang sedang terdampak langsung.
Makna figuratif tone deaf karena itu sangat bergantung pada konteks penggunaannya.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Berbagai Sumber