SOLOBALAPAN.COM – Kartun anak zaman dulu tidak selalu berisi tokoh yang punya kekuatan super atau petualangan melawan penjahat. Si Huma, serial animasi Indonesia yang tayang di TVRI pada 1983–1984, justru membawa cerita yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui petualangan Huma dan sahabat imajinasinya, Windi, serial ini menyisipkan berbagai persoalan seperti kebersihan lingkungan, kesehatan, kehidupan sosial, hingga hubungan manusia dengan alam. Pesan tersebut disampaikan melalui cerita dan petualangan, bukan sekadar nasihat langsung kepada penonton.
Salah satu contohnya terdapat dalam episode berjudul “Embun” yang mengangkat pentingnya menjaga kebersihan sungai dan selokan. Air yang tercemar dan lingkungan yang kotor digambarkan dapat menimbulkan persoalan kesehatan.
Baca Juga: “Ngundhuh Wohing Pakarti”, Filosofi Jawa “Karma Nggak Pernah Salah Alamat"
Ada Cerita tentang Sungai dan Kebersihan
Dalam “Embun”, Huma dan Windi bertemu dengan tokoh bernama Embun yang resah melihat kondisi air di lingkungannya. Persoalan tersebut kemudian menjadi bagian dari petualangan keduanya.
Pesan yang dibawa cukup sederhana: jangan membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai atau selokan. Lingkungan yang tidak terawat bukan hanya membuat tempat tinggal menjadi kotor, tetapi juga dapat membawa masalah bagi kesehatan.
Menariknya, persoalan seperti ini sebenarnya masih mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sampah yang menyumbat saluran air, sungai yang tercemar, hingga banjir akibat buruknya pengelolaan lingkungan bukanlah masalah yang tiba-tiba muncul pada zaman sekarang.
Karena itu, cerita Si Huma terasa cukup relevan meskipun dibuat lebih dari empat dekade lalu.
Tidak Cuma Soal Lingkungan
Pesan dalam Si Huma juga tidak berhenti pada kebersihan lingkungan.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat sejumlah episode lain dalam serial tersebut. Di antaranya “Tamak”, “Hantu”, “Perahu”, “Embun”, “Si Piatu”, “Sang Garuda”, “Durgo”, dan “Pengail”.
Keberagaman judul tersebut menunjukkan bahwa petualangan Huma dan Windi tidak hanya berputar pada satu persoalan.
Dalam episode “Tamak”, misalnya, cerita membawa Huma dan Windi bertemu dengan tokoh yang berkaitan dengan persoalan keserakahan. Sementara itu, episode “Perahu” dan “Pengail” memperlihatkan bagaimana lingkungan serta kehidupan masyarakat dapat menjadi bagian dari cerita.
Dengan kata lain, dunia Si Huma tidak dibuat terlalu jauh dari kehidupan anak-anak. Lingkungan sekitar justru menjadi bagian dari petualangan mereka.
Belajar dari Cerita, Bukan Sekadar Diceramahi
Salah satu hal menarik dari Si Huma adalah cara pesan tersebut disampaikan.
Anak-anak tidak hanya diberi tahu bahwa mereka harus menjaga lingkungan. Mereka diajak melihat persoalan melalui karakter dan kejadian yang muncul dalam cerita.
Pendekatan seperti ini membuat pesan moral menjadi bagian dari alur cerita. Huma dan Windi mengalami sesuatu, bertemu dengan tokoh tertentu, kemudian penonton dapat melihat akibat dari persoalan yang muncul. Si Huma, sebagai animasi yang menyisipkan nilai edukatif dan pesan moral bagi anak-anak.
Hal tersebut membuat serial ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Si Huma juga menjadi salah satu contoh bagaimana animasi televisi digunakan untuk menyampaikan pesan pendidikan kepada penonton anak.
Baca Juga: SpongeBob, Patrick, hingga Squidward Punya “Social Battery” Berbeda, Kamu Mirip Siapa?
Pesannya Masih Terasa Sampai Sekarang
Empat puluh tahun lebih berlalu sejak Si Huma pertama kali hadir di TVRI. Teknologi animasi sudah berubah jauh, begitu pula jenis tontonan yang tersedia untuk anak-anak.
Namun, beberapa persoalan yang diangkat dalam ceritanya masih terasa dekat. Masalah sampah, kebersihan air, kesehatan, kepedulian terhadap lingkungan, dan kehidupan bersama tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Itulah yang membuat Si Huma menarik untuk dilihat kembali. Bukan hanya karena statusnya sebagai salah satu tonggak animasi televisi Indonesia, tetapi juga karena cerita yang dibawanya ternyata tidak sepenuhnya kehilangan relevansi.
Dari petualangan Huma dan Windi, anak-anak pada masa itu tidak hanya diajak berimajinasi. Mereka juga dikenalkan pada satu gagasan sederhana: lingkungan dan kehidupan bersama adalah sesuatu yang perlu diperhatikan.
Jadi, kalau sekarang banyak tontonan anak dibuat dengan visual yang semakin canggih, Si Huma mengingatkan bahwa cerita yang sederhana pun bisa membawa pesan yang kuat.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Daftar Arsip Film PPFN Seri Film Cerita 1950–1986.