SOLOBALAPAN.COM – Jauh sebelum anak-anak Indonesia akrab dengan Doraemon, Crayon Shinchan, atau berbagai kartun impor lainnya, TVRI pernah punya tontonan animasi buatan Indonesia sendiri. Salah satunya adalah Si Huma, serial yang pertama kali tayang pada 1983 dan kini menjadi salah satu bagian penting dari sejarah animasi televisi Tanah Air.
Bagi penonton yang tumbuh pada era tersebut, Si Huma mungkin menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda. Ceritanya tidak membawa anak-anak ke kota besar atau dunia dengan teknologi canggih, tetapi mengikuti petualangan seorang anak bernama Huma bersama teman imajinasinya, Windi.
Keduanya menjelajahi berbagai tempat dan menghadapi persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari lingkungan sekitar hingga alam, cerita Si Huma menyelipkan pesan yang dapat dikenali anak-anak pada masa itu.
Baca Juga: Asmara Gen Z Resmi Bungkus Usai 666 Episode? Ini Jadwal Terakhir dan Rincian 3 Sinetron Baru SCTV
Kenalan dengan Huma dan Windi
Huma merupakan tokoh utama dalam serial ini. Ia ditemani Windi, sahabat imajinatif yang berasal dari dunia kartun.
Kehadiran Windi membuat petualangan Huma tidak sekadar menggambarkan kehidupan seorang anak, tetapi juga membawa unsur fantasi ke dalam cerita. Keduanya dapat menjelajahi lingkungan sekitar sambil berhadapan dengan berbagai persoalan dan tokoh yang mereka temui.
Menariknya, alam juga menjadi bagian penting dalam cerita Si Huma. Hubungan Huma dengan lingkungan membuat serial ini terasa berbeda dari tontonan anak yang hanya mengandalkan petualangan atau kelucuan karakter.
Salah satu contohnya terlihat dalam episode berjudul “Embun”. Dalam cerita tersebut, Huma dan Windi berhadapan dengan persoalan kebersihan sungai dan selokan. Pesan yang disampaikan cukup sederhana: lingkungan yang kotor dapat menjadi sumber penyakit sehingga kebersihan perlu dijaga.
Baca Juga: Berkolaorasi dengan Deny Caknan, Komunitas Saleho Karya Budaya Melebarkan Sayap Lewat Musik
Bukan Cuma Soal Petualangan
Kalau melihat kartun anak zaman sekarang, cerita biasanya bisa membawa penonton ke berbagai dunia dengan karakter dan konflik yang jauh lebih kompleks. Si Huma justru punya pendekatan yang lebih sederhana.
Petualangan Huma dan Windi digunakan untuk mengenalkan berbagai persoalan yang ada di sekitar anak. Karena itu, pesan mengenai lingkungan, kesehatan, dan kehidupan sosial dapat masuk ke dalam cerita tanpa harus terasa seperti pelajaran di kelas.
Hal tersebut juga menjadi salah satu alasan Si Huma dikenang. Serial ini bukan hanya menghadirkan animasi buatan dalam negeri di layar televisi, tetapi juga menggunakan cerita anak sebagai media untuk menyampaikan pesan positif.
Kartun Lawas dengan Cerita yang Sederhana
Si Huma sendiri diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dengan dukungan UNICEF. Serial tersebut kemudian ditayangkan TVRI pada 1983 hingga 1984. ANTARA menyebutnya sebagai film animasi produksi dalam negeri pertama yang tayang di layar televisi Indonesia.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) juga masih menyimpan sejumlah arsip produksi Si Huma. Salah satunya adalah episode “Tamak” yang diproduksi pada 1983 dan berdurasi 9 menit 48 detik. Arsip tersebut mencatat Huma dan Windi sebagai tokoh dalam cerita.
Keberadaan arsip tersebut membuat Si Huma tidak hanya menjadi cerita nostalgia bagi penonton lama. Serial ini juga menjadi jejak bagaimana animasi Indonesia mulai hadir di televisi ketika pilihan tontonan anak belum sebanyak sekarang.
Pada akhirnya, daya tarik Si Huma justru terletak pada kesederhanaannya. Huma tidak harus memiliki kekuatan super atau menghadapi monster besar untuk membuat sebuah cerita menarik. Bersama Windi dan lingkungan di sekitarnya, ia cukup diajak berpetualang, menemukan persoalan, lalu belajar dari apa yang terjadi.
Buat generasi yang pernah menyaksikannya, Si Huma mungkin bukan sekadar kartun lawas TVRI. Ia adalah bagian dari masa ketika cerita anak di televisi juga bisa membawa penonton mengenal lingkungan, kehidupan sehari-hari, dan nilai-nilai sederhana lewat sebuah petualangan.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Daftar Arsip Film PPFN Seri Film Cerita 1950–1986.