Bukan Setting Buatan, “Operasi Pesta Copet” Syuting di Tengah 30.000 Penonton Pestapora

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, dan Kawai Labiba dalam Operasi Pesta Copet. (Instagram/@imajinari.id)
Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, dan Kawai Labiba dalam Operasi Pesta Copet. (Instagram/@imajinari.id)

SOLOBALAPAN.COM Ada kamera yang ikut bekerja ketika puluhan ribu orang sedang menikmati Pestapora 2025. Di tengah penonton yang berdesakan, para pemain Operasi Pesta Copet menjalankan adegan mereka sambil berbaur dengan suasana festival.

Sekitar 30.000 orang hadir di Pestapora saat pengambilan gambar dilakukan. Festival yang awalnya menjadi tempat orang datang untuk menikmati musik itu kemudian ikut terekam dalam film garapan Edy Khemod.

Bagi pemain, syuting di tengah festival tentu bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan pola biasa. Penonton terus bergerak dan pertunjukan tetap berjalan.

Baca Juga: Feminine Intuition, Benarkah Perempuan Punya Insting Lebih Kuat?

Tidak ada kesempatan untuk mengatur ulang kerumunan seperti ketika sebuah adegan dibuat di lokasi khusus.

Kawai Labiba menjadi salah satu pemain yang merasakan langsung pengalaman tersebut. Ia harus menjalankan adegan ketika Pestapora sedang berlangsung, dengan keadaan di sekelilingnya yang tidak selalu bisa diprediksi.

Iqbaal Ramadhan juga menghadapi situasi serupa. Memerankan Ijal, ia harus menyesuaikan permainan dengan apa yang terjadi di sekitar lokasi. Momen yang muncul secara alami justru menjadi bagian dari pengalaman syuting film tersebut.

Baca Juga: Rayakan HUT RI ke-81, No Na Nyanyikan Lagu “Tanah Airku”

Cara ini dipilih karena festival musik memang menjadi bagian dari cerita Operasi Pesta Copet. Film tersebut mengikuti Ijal, Adut, Tia, dan Melodi yang menjalankan aksi pencopetan di tengah sebuah festival.

Keempatnya diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, dan Kawai Labiba. Cerita tentang empat pencopet amatir itu kemudian ditempatkan dalam suasana festival yang ramai.

Membawa kamera ke Pestapora membuat suasana dalam film terasa lebih dekat dengan kondisi festival yang sebenarnya. Namun, tim produksi tetap membutuhkan tempat yang lebih mudah dikendalikan untuk beberapa adegan.

Baca Juga: 24 Hari di NICU, Anak Fiki Naki Akhirnya “Lulus”, Ungkap Perjuangan Tinandrose

Karena itu, suasana Pestapora juga dibuat kembali dengan melibatkan sekitar 500 figuran. Ratusan orang tersebut digunakan untuk membangun kerumunan dalam adegan yang membutuhkan pengaturan lebih leluasa.

Di lokasi seperti ini, adegan bisa diulang ketika ada bagian yang belum sesuai. Posisi pemain dan figuran juga dapat disusun kembali tanpa harus menunggu jalannya sebuah pertunjukan.

Kristo Immanuel menjalani bagian produksi yang menggunakan kerumunan buatan tersebut. Banyaknya figuran membuat suasana yang dibangun tetap terasa ramai, meski lokasi pengambilan gambarnya bukan festival yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Bilqis Masuk SMP, Putri Ayu Ting Ting Kini Mulai Beranjak Remaja

Dari situ, proses syuting film berjalan dengan dua suasana. Sebagian gambar diperoleh langsung dari Pestapora, sedangkan adegan lainnya dibuat dengan kerumunan yang disiapkan khusus untuk produksi.

Ide untuk membuat film ini sebenarnya sudah muncul beberapa tahun sebelumnya. Edy Khemod membawa gagasan Operasi Pesta Copet ke Imajinari pada 2023. Pengembangannya berlangsung hampir tiga tahun sebelum film masuk ke tahap produksi.

Gagasan tersebut berangkat dari keresahan terhadap pencopetan yang dapat terjadi di tengah konser musik. Pengalaman itu kemudian dikembangkan menjadi cerita tentang empat anak muda yang mencoba menjalankan aksi mereka di tengah festival.

Konsep tersebut membuat proses produksi harus dipersiapkan dengan cukup panjang. Tim tidak hanya memikirkan bagaimana cerita akan dimainkan, tetapi juga bagaimana menghadirkan suasana festival tanpa kehilangan kendali atas adegan.

Baca Juga: Surga Kuliner Tapi Takut Kolesterol? Ini Cara Tetap Makan Enak Tanpa Cemas

Bahkan, Ernest Prakasa sempat mempertanyakan bagaimana konsep syuting di tengah festival bisa diwujudkan. Kekhawatiran itu akhirnya dijawab dengan persiapan produksi yang menggabungkan lokasi asli dan suasana yang dibuat kembali.

Selain Pestapora, proses syuting juga dilakukan di sejumlah lokasi lain. Salah satunya berada di pinggir rel kereta api, sementara beberapa adegan membutuhkan studio dengan ratusan figuran.

Pengalaman mengambil gambar di tengah festival menjadi salah satu hal yang membedakan Operasi Pesta Copet. Film ini tidak hanya menghadirkan keramaian melalui set, tetapi juga mengambil sebagian suasananya dari sebuah festival yang benar-benar sedang berlangsung.

Baca Juga: Sekilas Terdengar Aneh, Sate Kere hingga Balung Kethek: Ini 5 Kuliner Solo dengan Nama Tak Biasa

Bagi mereka yang datang ke Pestapora 2025, mungkin ada pemandangan yang terasa familiar ketika film ini diputar. Di antara penonton yang sibuk menikmati musik, pernah ada pemain dan kru yang sedang menjalankan sebuah cerita.

Operasi Pesta Copet menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada Kamis, 27 Agustus 2026. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
operasi pesta copet Rahma Azra Calista Pestapora Edy Khemod iqbaal ramadhan