SOLOBALAPAN.COM - Episode terbaru podcast Raditya Dika yang mengundang Nagita Slavina, dr. Gia Pratama, dan Anissa Aziza berjudul “Bedanya Otak Laki-laki dan Perempuan” menjadi bujah bibir.
Video tersebut mendadak tidak lagi tersedia di kanal YouTube.
Sebelumnya, episode itu sempat mendapat banyak respons dari warganet.
Termasuk komentar yang mempertanyakan sejumlah pembahasan di dalamnya.
Dalam episode tersebut, Raditya Dika bertindak sebagai pembawa acara.
Baca Juga: Tiket Ludes Diserbu Penonton, Para Pemain "Harusnya Horror" Sapa Penggemar di Solo
Ia berbincang bersama sang istri, Anissa Aziza, Nagita Slavina, dan dr. Gia.
Percakapan banyak berkaitan dengan kehidupan keluarga dan anak.
Episode tersebut juga memiliki konteks kerja sama dengan produk madu untuk anak.
Sehingga pembahasannya berkisar pada keluarga, pola asuh, makanan/pebiotik-probiotik dan persoalan anak-anak.
Setelah episode tersebut ditarik, publik kemudian ramai mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Hingga kini, alasan pasti mengapa video tersebut tidak lagi tersedia belum dapat dipastikan hanya berdasarkan berbagai komentar yang beredar di media sosial.
Karena itu, respons warganet dan dugaan yang muncul setelah video ditakedown tidak serta-merta dapat dianggap sebagai alasan resmi penarikan episode.
Meski begitu, sebelum video tersebut hilang, sejumlah bagian percakapan memang menjadi bahan perbincangan.
Salah satunya berkaitan dengan pembahasan mengenai anak ketika dr. Gia berada dalam percakapan.
Baca Juga: KPop Demon Hunters Digugat, Kenapa Nama Bisa Jadi Masalah di Industri Hiburan?
Dr. Gia selama ini dikenal publik sebagai sosok yang terbuka mengenai perjalanannya dalam memiliki keturunan.
Latar belakang tersebut membuat sebagian warganet kemudian melihat pembicaraan mengenai anak dalam podcast dengan sudut pandang berbeda.
Ada yang merasa percakapan tersebut terlalu sensitif, meski hal itu tidak otomatis berarti pihak yang terlibat memiliki maksud untuk menyinggung atau menyakiti.
Sejumlah komentar bahkan menggunakan analogi seperti “membicarakan pengalaman makan restoran mahal di depan orang yang sedang kelaparan tiga hari tidak makan”.
Analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana sebuah pembicaraan yang mungkin terasa biasa bagi sebagian orang dapat diterima secara berbeda oleh seseorang yang memiliki pengalaman tertentu.
Namun, persoalan tersebut juga tidak bisa begitu saja diarahkan kepada Nagita.
Podcast merupakan sebuah produksi yang melibatkan banyak pihak dan memiliki pembahasan yang telah disiapkan.
Jika topik mengenai anak memang sudah menjadi bagian dari konsep dan diketahui pihak-pihak yang terlibat, maka konteks tersebut juga perlu dipertimbangkan.
Di luar isi percakapan, respons terhadap episode tersebut juga tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari situasi yang lebih luas.
Keluarga Raffi Ahmad dan Nagita Slavina belakangan cukup sering menjadi sorotan publik.
Berbagai isu yang menyeret nama Raffi, termasuk tudingan mengenai pencucian uang yang telah dibantah pihak terkait, turut membuat kehidupan keluarga tersebut menjadi perhatian.
Karena itu, ketika Nagita muncul dalam sebuah podcast dan membicarakan kehidupan keluarga, respons publik bisa saja tidak hanya dipengaruhi oleh isi percakapan pada episode tersebut.
Baca Juga: Masyarakat Desil Berapa yang Dibatasi Beli Pertalite? Simak Rincian Desil 1-10
Sebagian warganet membawa persepsi yang sudah terbentuk sebelumnya terhadap keluarga Raffi dan Nagita.
Dari sinilah muncul pula komentar yang menilai keluarga tersebut kurang memahami situasi atau dianggap tone deaf terhadap pengalaman masyarakat lain.
Meski demikian, istilah tersebut tetap merupakan penilaian atau persepsi dari sebagian publik.
Bukan kesimpulan bahwa Nagita maupun pihak lain memang bermaksud mengabaikan perasaan orang lain.
Pada akhirnya, ditariknya episode podcast Raditya Dika tersebut justru membuat perbincangannya semakin luas.
Publik tidak hanya membahas isi podcast, tetapi juga memperdebatkan bagaimana sebuah percakapan keluarga ditampilkan di ruang publik.
Bagaimana latar belakang seseorang memengaruhi cara ia menerima sebuah pembicaraan.
Serta bagaimana sentimen terhadap figur publik dapat ikut memengaruhi penilaian terhadap sebuah konten.
Sampai ada penjelasan resmi mengenai alasan episode tersebut di-takedown, berbagai dugaan yang beredar sebaiknya tetap ditempatkan sebagai respons dan interpretasi publik.
Yang jelas, episode tersebut menunjukkan bahwa ketika percakapan pribadi masuk ke ruang publik, sebuah pembahasan yang bagi pembicaranya terasa biasa, dapat memiliki makna yang sangat berbeda bagi orang yang menontonnya. (Rastri Rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto