SOLOBALAPAN.COM - Nadine Chandrawinata tengah menikmati perannya sebagai ibu dari dua putri yang masih berada di usia balita.
Bersama sang suami, Dimas Anggara, ia berusaha membangun pola asuh yang membuat anak merasa nyaman untuk berkomunikasi sekaligus belajar memahami tanggung jawab.
Kedua putri mereka, Nadi Djiwa Anggara dan Nadi Djala Anggara, sejak dini mulai dikenalkan dengan berbagai hal yang berkaitan dengan emosi, kemandirian, hingga konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Iblis, "Munafik: Melawan Iblis” Angkat Luka dan Pergulatan Batin
Dalam mengasuh anak, Nadine dan Dimas sepakat bahwa mereka tidak hanya ingin memberikan aturan.
Keduanya juga ingin anak memahami alasan di balik sebuah tindakan serta belajar bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.
“Dengar dan didengar” menjadi salah satu prinsip yang diterapkan Nadine dalam berkomunikasi dengan anak. Menurutnya, komunikasi dua arah penting agar anak merasa memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya.
Baca Juga: Tak Lama Setelah Menikah, Cimoy Nuraini Umumkan Kehamilan Anak Pertama
Nadine juga menyadari bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk cara anak menghadapi berbagai hal di luar rumah.
Karena itu, ia berusaha menjadikan keluarga sebagai tempat yang memberikan rasa aman dan dukungan bagi kedua putrinya.
Ia pun memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekaligus mengenali perasaan mereka.
Baca Juga: Istri di Lumajang Potong Kelamin Suami, Ngaku Cemburu Diduga Diselingkuhi
Menurut Nadine, perilaku anak tidak selalu bisa dilihat hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Sebagai contoh, ketika anak menunjukkan perilaku seperti memukul, Nadine tidak ingin langsung memberikan penilaian bahwa tindakan tersebut sepenuhnya salah. Ia terlebih dahulu mencoba memahami kondisi yang mungkin sedang dialami anak.
Rasa lelah, lapar, mengantuk, maupun ketidaknyamanan terhadap situasi tertentu bisa menjadi hal yang memengaruhi perilaku balita.
Dengan memahami penyebabnya, orang tua dapat menentukan cara berkomunikasi yang lebih sesuai dengan kondisi anak.
Nadine juga mengingatkan bahwa orang tua tidak selalu harus langsung menanyakan alasan ketika anak sedang diliputi emosi.
Pada usia balita, anak belum tentu mampu menjelaskan apa yang sebenarnya membuat mereka bertindak demikian.
Karena itu, menurut Nadine, orang tua perlu membangun kedekatan dan memberikan ruang bagi anak untuk menenangkan diri sebelum mengajak mereka berbicara.
Cara tersebut diharapkan membuat anak terbiasa mengenali emosinya sekaligus merasa bahwa pendapat dan perasaannya dihargai.
Prinsip pengasuhan yang diterapkan Nadine tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman yang ia dapatkan sejak kecil.
Ia menyebut nilai tentang sebab-akibat dan tanggung jawab secara tidak langsung ia pelajari dari kedua orang tuanya.
“Aku sama suami itu sudah sepakat bahwa anak ini harus mengerti dulu soal sebab-akibat dan tanggung jawab. Hal itu sebenarnya secara tidak langsung, dan mungkin di bawah alam sadarku, aku belajar dari kedua orang tuaku,” jelas Nadine kepada media di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2026).
Melalui pendekatan tersebut, Nadine dan Dimas berusaha mendampingi tumbuh kembang Nadi Djiwa dan Nadi Djala dengan komunikasi yang terbuka.
Bagi Nadine, menjadi orang tua bukan hanya tentang mengarahkan anak, tetapi juga belajar mendengarkan dan memahami mereka. (Anmer Jilvandis)
Editor : Adi Pras